Kutukan Suci di Rumah Kosong: Antara Doa, Sampah, dan Takut Kena Azab
Pagi itu udara Bekasi sedang lumayan bersahabat. Tidak terlalu panas, tidak juga terlalu lembap. Saya sedang bersepeda santai menyusuri jalanan kecil di sebuah kawasan pemukiman yang tidak terlalu jauh dari pusat kota—daerah yang mungkin dulunya rapi tapi sekarang mulai menunjukkan tanda-tanda “urban fatigue”: rumput liar menembus trotoar, pagar berkarat, dan rumah-rumah kosong yang menguap cerita masa lalu.
Awalnya semua tampak biasa saja—sampai saya lewat di depan sebuah rumah yang sudah lama ditinggalkan. Dindingnya kusam, sebagian genting tampak miring, dan tanaman semak tumbuh bebas di selokan. Tapi bukan itu yang menarik perhatian saya. Yang membuat saya berhenti mendadak sambil menurunkan sepeda adalah spanduk merah menyala dengan tulisan besar:
“YA ALLAH, MISKINKANLAH DAN CABUTLAH NYAWA ORANG YANG MEMBUANG SAMPAH SEMBARANGAN DI TEMPAT INI! AMIIN.”
Dua tengkorak tersenyum menyeramkan di sisi kiri dan kanan menambah kesan “doa ini tidak main-main.” Lucunya, beberapa meter di sebelahnya, ada satu spanduk lagi—tulisannya sama persis, hanya saja warnanya sedikit berbeda. Seolah kutukan pertama belum cukup sakti, perlu diperkuat dengan versi cadangan.
Saya menatapnya lama. Antara ngeri dan ingin tertawa. Dalam hati saya bertanya:
apakah kutukan ini benar-benar manjur?
Karena anehnya, memang tidak ada satu pun sampah di sekitar situ. Tidak ada bungkus mie instan, tidak ada plastik kopi sasetan, bahkan tidak ada puntung rokok. Bersih. Nyaris suci.
Jadi mungkin… mungkin saja kutukan itu berhasil.
Kita hidup di negeri yang sering menjawab persoalan sosial dengan doa—kadang dengan doa yang manis, kadang dengan doa yang agak gelap. Membuang sampah sembarangan adalah dosa lingkungan yang sulit dihapuskan, dan mungkin, setelah berbagai cara halus gagal, warga sekitar memutuskan untuk meminta bantuan langsung dari langit.
Dan langit, tampaknya, menanggapi.
Atau… mungkin bukan langit, melainkan rasa takut manusia terhadap simbol-simbol mistik. Bayangkan, siapa yang berani membuang sampah di depan spanduk yang isinya permohonan agar nyawamu dicabut? Bahkan tukang sampah sekalipun mungkin berpikir dua kali.
Di kampung-kampung kita, larangan formal sering kalah pamor dari ancaman spiritual. Tulisan seperti “Dilarang Buang Sampah” sering diabaikan, tapi begitu ditambah “Nanti Kena Azab”, tiba-tiba jadi efektif. Ada semacam konsensus tak tertulis: kita lebih takut dikutuk daripada ditilang.
Mungkin karena kutukan terasa lebih pribadi. Kalau ditilang, kita masih bisa bayar denda dan selesai. Tapi kalau dikutuk miskin seumur hidup—itu urusannya panjang.
Saya teringat dulu pernah melihat larangan kencing sembarangan di dinding gang sempit Jakarta. Tulisan besar dengan huruf merah: “DILARANG KENCING DI SINI!” Tapi setiap kali lewat, selalu saja tercium bau pesing. Lalu di bawah tulisan itu, ada tambahan tangan jahil dengan spidol:
“Yang boleh cuma anjing.”
Dan memang, yang kencing di situ biasanya anjing liar yang lewat. Entah ini bentuk kepatuhan atau bentuk humor kosmis, tapi begitulah cara alam menertawakan manusia.
Berbeda dengan kasus spanduk di Bekasi tadi. Tidak ada yang berani mencoba, bahkan anjing pun tampaknya paham. Mereka mungkin bisa membaca energi kemarahan yang memancar dari huruf kapital di spanduk itu. Atau mungkin mereka melihat tengkorak-tengkorak kecil di pojok bawah dan berpikir, “Oke, tempat ini angker, mending cari tiang lain.”
Spanduk itu sendiri tampak dipasang dengan penuh niat. Bukan spanduk ala kadarnya dari kain seadanya. Bahannya tebal, warnanya mencolok, dan huruf-hurufnya dicetak rapi. Seolah-olah seseorang benar-benar berinvestasi dalam menyampaikan rasa jengkel. Bayangkan, sampai harus mengeluarkan biaya cetak demi menyalurkan kejengkelan terhadap manusia yang malas membuang sampah di tempatnya.
Saya membayangkan percakapan sebelum spanduk itu dibuat. Mungkin seperti ini:
“Pak, ini kalau dikasih tulisan Dilarang Buang Sampah, nanti juga diabaikan.”
“Iya Bu, orang sini bandel-bandel.”
“Ya sudah, kita doain aja sekalian biar takut.”
“Doa apa, Bu?”
“Yang keras. Biar sekalian mikir sebelum buang plastik.”
Dan jadilah doa kutukan itu. Sebuah bentuk keputusasaan yang disublimasi menjadi kreativitas.
Kalimatnya memang keras—meminta kemiskinan dan kematian bagi pelaku buang sampah sembarangan. Tapi di balik kerasnya kata-kata itu, saya justru membaca sesuatu yang lebih lembut: kerinduan terhadap kebersihan. Keinginan sederhana agar lingkungan sekitar tidak lagi dijadikan tempat pembuangan dosa plastik.
Bukankah sering begitu? Ketika kata-kata lembut sudah tak mempan, kita akhirnya bicara dengan emosi. Kadang manusia baru sadar kalau yang menegur bukan petugas, melainkan takdir.
Tapi mari jujur, kita ini bangsa yang aneh.
Kita bisa dengan santai membuang sampah dari jendela mobil sambil berkata, “Ah, nanti juga ada petugas.” Kita bisa menaruh sisa kopi sachet di pot bunga depan rumah tetangga, lalu berpura-pura tidak tahu. Tapi begitu ada tulisan “Kutukan Allah menantimu”, kita mendadak religius dan berhati-hati.
Ironi ini lucu sekaligus menyedihkan. Di satu sisi, moral lingkungan kita masih rapuh, tapi di sisi lain, kreativitas warga dalam membuat larangan sangat tinggi. Ada yang menulis “Buang Sampah di Sini = Mati Konyol”, ada juga yang menambahkan gambar pocong. Semuanya demi satu tujuan: lingkungan bersih.
Dan hasilnya? Ya, manjur. Setidaknya di rumah kosong itu, tanah di depannya bersih seperti habis disapu malaikat.
Saya berhenti sejenak, menyandarkan sepeda, lalu memotret spanduk itu. Entah kenapa, saya merasa adegan ini seperti potret kecil dari kehidupan urban kita. Sebuah rumah kosong yang dikelilingi rumput liar, dijaga oleh doa kutukan yang ampuh, di tengah kota yang setiap harinya menghasilkan ribuan ton sampah baru.
Saya membayangkan jika spanduk itu bisa bicara. Mungkin ia akan berkata:
“Aku tidak ingin mengutuk siapa-siapa. Aku hanya lelah melihat manusia membuang apa saja seenaknya.”
Karena pada dasarnya, yang dikutuk bukanlah orang per orang, tapi sifat abai itu sendiri. Sifat yang merasa bumi ini adalah tong sampah berjalan, dan setiap halaman kosong adalah hak pakai publik.
Lucunya, di negeri yang katanya religius ini, banyak persoalan kecil sebenarnya bisa selesai kalau kita punya rasa malu. Tapi karena rasa malu itu kadang hilang, akhirnya diganti dengan rasa takut. Takut miskin. Takut mati. Takut dikutuk.
Dan di antara semua ketakutan itu, yang paling efektif ternyata bukan ancaman hukum atau denda, melainkan doa yang sedikit menyeramkan.
Mungkin karena kita tidak mau berurusan langsung dengan Yang di Atas hanya karena seplastik gorengan.
Sambil kembali mengayuh sepeda, saya sempat menengok lagi spanduk itu. Angin siang membuatnya bergoyang pelan. Tulisan “CABUTLAH NYAWA” berkibar seperti kalimat sakti yang menolak dilupakan. Saya tertawa kecil—bukan karena meremehkan, tapi karena kagum.
Kadang, sesuatu yang terdengar ekstrem bisa jadi satu-satunya cara menyampaikan pesan moral. Seperti orang tua yang marah-marah karena sayang, atau guru yang mengancam demi disiplin. Barangkali begitu pula dengan warga yang memasang spanduk itu: mereka tidak benar-benar ingin ada orang mati, hanya ingin Bekasi sedikit lebih bersih.
Dan siapa tahu, di balik doa kutukan itu, Tuhan tersenyum maklum. Mungkin Ia tahu, umat-Nya sedang berjuang membersihkan bumi, dengan cara seadanya.
Saya teruskan kayuhan hingga ke ujung jalan, melewati beberapa rumah lagi. Ada satu tempat lain dengan tulisan berbeda:
“Dilarang Buang Sampah. Ada CCTV.”
Tapi di bawah tulisan itu, tumpukan plastik sudah menumpuk. CCTV-nya entah berfungsi atau tidak. Di sinilah bedanya: spanduk dengan ancaman hukum kalah pamor dari spanduk dengan ancaman azab.
Jadi, apakah kutukan di rumah kosong itu manjur?
Sejauh pengamatan saya, iya. Tidak ada sampah, tidak ada bau, tidak ada pelanggar.
Apakah karena doa itu benar-benar dikabulkan? Atau karena orang takut miskin mendadak setelah membuang kulit pisang? Tak ada yang tahu. Tapi hasilnya nyata: bersih.
Mungkin seharusnya kutukan seperti ini diperbanyak. Bayangkan kalau di setiap sudut kota ada spanduk dengan doa personal seperti itu—bukan sekadar larangan, tapi juga refleksi.
“Ya Tuhan, butakanlah mata yang melihat rezeki tapi tidak melihat sampahnya sendiri.”
Siapa tahu, kota jadi bersih bukan karena petugas, tapi karena kesadaran yang lahir dari rasa takut yang lucu.
Epilog: Doa yang Tersisa di Tepi Jalan
Bekasi siang itu saya tinggalkan dengan senyum kecil. Spanduk merah itu masih bergoyang diterpa angin, seperti bendera kecil perlawanan terhadap kebiasaan buruk manusia. Mungkin tidak semua doa harus dibungkus kata lembut. Kadang doa juga bisa marah, dan dalam kemarahannya tersimpan kasih.
Saya membayangkan, andai bumi bisa berdoa, mungkin suaranya akan mirip tulisan di spanduk itu—lelah, getir, tapi masih percaya bahwa manusia bisa berubah.
Karena setiap kali seseorang menahan diri untuk tidak membuang sampah di sana, sebenarnya ia sedang berbuat kebaikan kecil yang tidak terlihat.
Dan siapa tahu, di hari yang lain, doa kutukan itu berubah pelan-pelan menjadi doa syukur:
“Ya Allah, terima kasih, kini tak ada lagi yang buang sampah di sini. Amin.”


