Dugaan Kelalaian Medis yang Menyebabkan Kematian Mahasiswa di RSUD Yowari
Kematian seorang mahasiswa asal Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua Pegunungan, di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Yowari, Kabupaten Jayapura, Papua, pada Minggu (8/3/2026), memicu perhatian publik. Korban diketahui bernama Martina Biri (22), seorang mahasiswa Universitas Cenderawasih (Uncen), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Jurusan Manajemen Pendidikan, semester 8 angkatan 2022. Kejadian ini menimbulkan dugaan adanya kelalaian medis yang menyebabkan kematian korban.
Peristiwa yang Menggemparkan
Keluarga korban menilai bahwa almarhum tidak mendapatkan pelayanan medis secara maksimal saat dibawa ke rumah sakit dalam kondisi darurat. Mereka mengungkapkan bahwa pasien sempat diabaikan dan diminta mengurus administrasi/pembayaran terlebih dahulu karena kartu BPJS-nya terdaftar di wilayah lain (Wamena).
Dalam pertemuan dengan pihak manajemen rumah sakit, keluarga secara tegas meminta agar petugas medis yang bertugas saat kejadian tersebut diberikan sanksi tegas hingga pemecatan tidak hormat. Kasus ini mencuat setelah keluarga korban menyampaikan kronologi kejadian melalui siaran langsung di akun Facebook Raimond dengan durasi sekitar 1 jam 24 menit.
Kronologi Versi Keluarga
Perwakilan keluarga menjelaskan bahwa almarhum sebelumnya sudah beberapa kali datang berobat ke RSUD Yowari. Menurut keluarga, almarhum pertama kali dibawa ke rumah sakit pada 13 Februari 2026 karena mengalami sakit. Saat itu pasien diperiksa oleh tenaga medis, diberikan obat, kemudian dipulangkan dengan anjuran agar kembali jika kondisi kesehatannya memburuk.
Pada 4 Maret 2026, keluarga kembali membawa almarhum ke RSUD Yowari karena mengalami demam tinggi dan kondisi tubuhnya semakin lemah. Dalam kesempatan tersebut, keluarga mengaku sempat meminta agar pasien dipasang infus karena kondisinya dinilai membutuhkan penanganan medis segera. Namun menurut keluarga, permintaan tersebut tidak dipenuhi oleh petugas medis dan keluarga hanya diminta untuk mengurus administrasi terlebih dahulu.
Keluarga juga menjelaskan bahwa saat itu BPJS Kesehatan milik pasien terdaftar di Wamena (Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan), sehingga tidak dapat langsung digunakan untuk pelayanan di RSUD Yowari. Akibatnya, keluarga diminta untuk menyelesaikan administrasi secara mandiri di bagian administrasi rumah sakit.
Setelah itu, keluarga memutuskan membawa pasien pulang karena belum mendapatkan penanganan medis yang mereka harapkan. Pada Minggu (8/3/2026) kondisi kesehatannya kembali memburuk dengan demam yang semakin tinggi. Keluarga kemudian kembali membawa almarhum ke RSUD Yowari sekitar pukul 17.00 WIT untuk mendapatkan pertolongan medis.
Sesampainya di rumah sakit, keluarga mengaku kembali meminta agar pasien segera ditangani karena kondisinya sudah sangat lemah, namun pasien tidak langsung mendapatkan penanganan medis. Bahkan keluarga menyebut telah beberapa kali meminta agar pasien segera ditangani oleh petugas medis, namun belum mendapatkan respons yang mereka harapkan.
Sekitar pukul 18.00 WIT, saat keluarga kembali masuk ke ruang pelayanan rumah sakit, pasien sudah tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan. “Ketika kami masuk lagi ke dalam, pasien sudah tidak bernapas. Teman-teman juga sudah marah kepada petugas karena pasien belum ditangani,” kata salah satu kerabat korban.
Sekitar pukul 18.20 WIT, pasien akhirnya dinyatakan meninggal dunia di area rumah sakit.
Penjelasan Pihak Rumah Sakit
Direktur RSUD Yowari, Maryen Braweri, menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya mahasiswa tersebut. Ia juga menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga korban atas kejadian tersebut.
Maryen menjelaskan bahwa pasien tersebut memang sebelumnya telah beberapa kali datang berobat ke RSUD Yowari sejak Februari 2026. Menurutnya, pada kunjungan pertama pasien telah menjalani pemeriksaan medis dan diberikan obat sebelum dipulangkan. Sementara pada Minggu sore sekitar pukul 18.00 WIT, pasien kembali datang ke rumah sakit dengan menggunakan kursi roda dan mengenakan jaket serta penutup kepala.
Petugas medis kemudian meminta agar pasien menjalani pemeriksaan darah sebagai bagian dari prosedur medis. “Pasien datang sekitar jam enam sore menggunakan kursi roda dan memakai jaket. Petugas kemudian meminta agar dilakukan pemeriksaan darah untuk mengetahui kondisi pasien,” jelasnya.
Namun sebelum proses penanganan lebih lanjut dilakukan, pasien dilaporkan meninggal dunia. Maryen menegaskan pihak rumah sakit akan menelusuri secara menyeluruh kronologi kejadian tersebut. Ia mengatakan pihaknya akan memeriksa rekaman kamera pengawas (CCTV) di area rumah sakit serta melihat kembali catatan medis pasien.
Ia juga menegaskan pihak rumah sakit siap membantu proses pengurusan jenazah hingga pemakaman. “Kami siap membantu terkait pengurusan jenazah sampai pemakaman. Ini bentuk tanggung jawab kami untuk membantu keluarga,” katanya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak keluarga korban masih menunggu hasil penelusuran dan klarifikasi lanjutan dari manajemen RSUD Yowari serta Pemerintah Kabupaten Jayapura terkait kejadian tersebut.


