Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 11 Halaman 72-74: Analisis Unsur Intrinsik Cerpen Tukang Cukur

Posted on

Bocoran Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 11 Halaman 72, 73, dan 74

Materi yang dibahas dalam kunci jawaban Bahasa Indonesia kelas 11 halaman 72, 73, dan 74 mengacu pada Kegiatan 3 tentang unsur-unsur intrinsik dalam cerpen. Topik ini menjadi bagian dari Bab 3 dalam buku Cerdas Cergas Berbahasa dan Bersastra Indonesia Kelas 11 Kurikulum Merdeka Semester 1 dengan tema “Menggali Nilai Sejarah Bangsa lewat Cerita Pendek”. Dalam buku Membuat Cerpen Tidaklah Sulit: Tips Membuat Cerpen Bagi Pemula karya Majella Setyawan (2024), cerpen didefinisikan sebagai karya fiksi pendek yang menyampaikan cerita dengan jumlah kata terbatas. Soal dan kunci jawaban pada halaman tersebut dapat digunakan sebagai sarana belajar mandiri di rumah.

Pengertian Kosakata

Berikut adalah arti kosakata yang diminta:

  • a. Reyot = Kondisi yang sudah sangat rusak dan hampir roboh
  • b. Compang-camping = Kondisi sudah sangat rusak biasanya untuk pakaian
  • c. Remah-remah = Sisa-sisa makanan dan sebagainya yang ketinggalan di tempat makan
  • d. Wenter = Serbuk pewarna (untuk pakaian)
  • e. Bungkil = Ampas (kacang, kedelai, kelapa) yang sudah diambil minyaknya
  • f. Udeng = Destar, ikat kepala
  • g. Memaki-maki = Marah-marah
  • h. Dug = Ikat kepala
  • i. Semak-semak = Tumbuhan perdu
  • j. Fajar = Waktu sebelum matahari terbit
  • k. Mendesing = Mengeluarkan bunyi peluru yang dtembakkan dan sebagainya
  • l. Berkeliaran = Berjalan (terbang dan sebagainya) ke mana-mana; bertualang

Analisis Unsur Intrinsik dalam Cerpen “Tukang Cukur”

1. Tema Utama dan Tambahan

Tema adalah gagasan utama suatu cerita. Dalam cerpen “Tukang Cukur” karya Budi Darma, tema utamanya adalah sifat oportunis tokoh Tukang Cukur yang selalu mengikuti kelompok yang sedang menang. Selain itu, ada tema tambahan yaitu penggambaran kemiskinan pada masa lalu, seperti yang ditunjukkan melalui tokoh Gito yang hidup dengan pakaian compang-camping dan makanan yang tidak cukup.

2. Tokoh Utama dan Tambahan

Tokoh utama dalam cerpen ini adalah Tukang Cukur karena ia menjadi pusat perhatian dan banyak hal dalam hidupnya disorot. Tokoh tambahan yang muncul hanya sesekali antara lain Gito, ayah, ibu, Dasuki, Kakek Leman, dan Ruslan.

3. Penokohan

Penokohan dalam cerpen ini mencakup tokoh protagonis, antagonis, dan campuran. Tokoh protagonis adalah Gito, ayah, dan ibunya yang memiliki sifat baik. Tokoh antagonis adalah Tukang Cukur yang berpindah-pindah keberpihakan. Sedangkan tokoh campuran adalah Ruslan yang memiliki sifat baik dan buruk.

4. Sudut Pandang Pencerita

Sudut pandang pencerita dalam cerpen ini adalah sudut pandang orang ketiga, yaitu dari tokoh Gito. Hal ini terlihat dari penggunaan kata ganti “dia” dalam penulisan.

5. Alur Cerita

Alur cerita dalam cerpen ini terdiri dari lima tahap:

  • Tahap pengenalan (orientasi): Diperkenalkan tokoh Gito dengan latar belakang miskin.
  • Tahap kemunculan konflik (rising action): Kakek Leman menceritakan tukang cukur yang melukai kepalanya.
  • Tahap konflik memuncak (klimaks): Tukang Cukur berganti-ganti memihak kepada pihak yang sedang menang.
  • Tahap konflik menurun (antiklimaks): Terjadi pertempuran di pabrik rokok Nitisemito dan ditemukan beberapa korban.
  • Tahap penyelesaian (resolution): Gito mengetahui bahwa salah satu mayat yang melakukan pemberontakan NII adalah Tukang Cukur.

6. Latar Tempat, Waktu, dan Suasana

Latar tempat dalam cerpen ini adalah daerah Kudus, seperti yang disebutkan dalam kutipan: “Gito anak Getas Pejaten, kawasan pinggiran kota Kudus…”. Latar waktu adalah September 1948–Desember 1949. Suasana yang terbangun adalah menegangkan dan penuh kejutan karena masa revolusi yang penuh ketegangan.

7. Gaya Bahasa

Gaya bahasa dalam cerpen ini sangat efektif dalam menggambarkan suasana. Misalnya, kalimat: “Setelah Kudus ditinggal oleh pasukan Siliwangi, pada suatu hari, ketika fajar hampir tiba, seluruh kota Kudus terasa bergetar-getar, langit dilalui pesawat cocor merah yang terbang sangat rendah, datang dan pergi, datang dan pergi lagi.” Kalimat ini menggambarkan suasana perang yang menegangkan.

8. Amanat

Amanat yang ingin disampaikan oleh penulis adalah agar pembaca tidak memiliki sifat oportunis seperti tokoh Tukang Cukur. Penulis ingin mengajarkan nilai moral melalui cerita ini.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *