Peristiwa Tragis yang Mengguncang Kampus
Kematian tragis Timothy Anugerah Saputra, seorang mahasiswa FISIP Universitas Udayana, memicu gelombang kecaman dan refleksi mendalam tentang budaya bullying di lingkungan kampus. Setelah peristiwa tersebut, enam mahasiswa akhirnya diberhentikan tidak dengan hormat dari organisasi kemahasiswaan.
Identitas mereka kini tersebar luas, memicu reaksi publik terhadap kasus ini. Timothy, mahasiswa semester VII jurusan Sosiologi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), ditemukan meninggal dunia setelah diduga melompat dari lantai empat gedung FISIP. Kejadian ini menarik perhatian luas, terutama karena dugaan bullying yang dialami oleh korban dari teman-temannya.
Kasus ini menjadi viral di media sosial dan memicu keprihatinan publik. Dugaan perundungan yang dialami Timothy tidak hanya terjadi selama masa hidupnya, tetapi bahkan berlanjut setelah kematiannya melalui grup-grup WhatsApp. Hal ini semakin memperparah rasa kekecewaan dan kepedulian masyarakat terhadap isu bullying di kalangan mahasiswa.
Tangkapan Layar Percakapan yang Menyedihkan
Situasi semakin memanas setelah unggahan dari akun Instagram @gu_coci, milik seorang dokter bernama dr Guco, viral di media sosial. Dalam unggahannya, ia menampilkan tangkapan layar percakapan grup chat yang berisi candaan dan komentar tak pantas dari para calon dokter.
Dalam tangkapan layar itu terlihat seseorang menulis, “Percobaan bunuh diri di kamsud lompat dri lt 2.” Komentar berikutnya yang diduga ditulis oleh akun Calista Amora berbunyi, “Gaberasa lt 2 mah.” Ada pula rekan mereka bernama Erick Gonata yang menulis, “Mati ga,” disusul ajakan Calista, “Visit yu.”
Percakapan itu berlanjut dengan nada dingin dan tidak sensitif. Ketika seseorang memberi tahu bahwa korban masih berada di UGD, Erick menulis, “Oh mati?,” kemudian James Halim menimpali, “Oalah mati ya,” lalu Calista bertanya, “Mati?,” dan dijawab singkat, “Ya,” sebelum ia menulis, “Anjir,” yang dibalas James dengan kalimat, “Baguslah.”
Aksi para calon dokter ini membuat dr Guco naik pitam. Ia menuliskan, “Gausah jadi dokter kalau ga punya hati.” Menurutnya, ketiga calon dokter itu tengah menjalani koas di RS Ngoerah Bali. Ia pun menegur keras melalui tulisannya, “Sadar ga, yang kalian gunjingkan itu pasien, yang kedepannya akan jadi lahan pekerjaan kalian, dan tugas kalian sebagai dokter tidak perlu dijelaskan lagi /?/.”
Tindakan Dr Guco dan Komentar Publik
dr Guco bahkan menyarankan agar para pelaku segera mundur dari pendidikan kedokteran. “Layak kah untuk lanjut koas? mending berhenti aja, malu. Malu-maluin diri sendiri, keluarga, kampus,” tulisnya. Ia mengaku sengaja memviralkan tindakan para adik tingkatnya itu karena menilai perbuatan mereka sangat tidak pantas.
“Bayangkan beban kerja yang harus ditanggung. Apalagi calon dokter dengan nir empati yang harus bekerja di lapangan yang sama dengan saya. Gila. Lebih baik saya melanggar arti teman sejawat, untungnya sejawat itu masih selangkah lagi mereka gapai, atau mungkin sebaiknya tidak perlu saja,” tambahnya.
Kasus ini kini terus mendapat sorotan publik. Banyak yang berharap agar dunia pendidikan khususnya fakultas kedokteran benar-benar menanamkan nilai empati dan tanggung jawab moral sebelum mencetak tenaga medis masa depan.
Daftar Mahasiswa yang Diberhentikan
Berikut adalah nama-nama mahasiswa yang dipecat dari organisasi kemahasiswaan Unud akibat perundungan:
- Vito Simanungkalit, Wakil Kepala Departemen Eksternal Himapol FISIP Unud Kabinet Cakra
- Muhammad Riyadh Alvitto Satriyaji Pratama, Kepala Departemen Kajian, Aksi, Strategis, dan Pendidikan
- Maria Victoria Viyata Mayos, Kepala Departemen Eksternal
- Anak Agung Ngurah Nanda Budiadnyana, Wakil Ketua Departemen Minat dan Bakat
- Leonardo Jonathan Handika Putra, Wakil Ketua BEM Fakultas Kelautan dan Perikanan (FKP) Unud
- Putu Ryan Abel Perdana Tirta, Ketua Komisi II Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) FISIP Unud
Permohonan Maaf dan Penyesalan Pelaku
Keenam mahasiswa yang terlibat telah menyampaikan permohonan maaf dan penyesalan atas perbuatan mereka. Mereka mengunggah video permohonan maaf melalui akun media sosial masing-masing, mengakui kesalahan dan dampak buruk dari tindakan mereka terhadap Timothy dan keluarganya.
Vita, salah satu pelaku, menyatakan penyesalannya dan menegaskan bahwa ia tidak terlibat langsung dalam perundungan selama masa hidup Timothy, namun menyadari kesalahannya dalam peristiwa ini. Sementara itu, Ryan Abel mengaku telah menerima sanksi dan siap mengundurkan diri sebagai calon Ketua DPM FISIP Unud 2026 sebagai bentuk pertanggungjawaban.
Tindakan Fakultas dan Universitas
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Udayana telah mengadakan rapat pembahasan terkait kasus ini. Hasil rapat akan diteruskan kepada Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (Satgas PPK) Unud untuk penyelidikan dan penanganan lebih lanjut sesuai ketentuan perundang-undangan.
Ketua Unit Komunikasi Publik Unud, Dr. Dewi Pascarani, menyatakan bahwa pendalaman kasus akan dilakukan berdasarkan Permendikbudristek Nomor 55 Tahun 2024, dengan pemeriksaan tertutup kepada pihak-pihak terkait. Sebagai bagian dari sanksi, beberapa mahasiswa yang melakukan perundungan meskipun korban telah meninggal dunia akan direkomendasikan untuk mendapatkan nilai D atau tidak lulus pada semua mata kuliah semester berjalan.
Mengenal Sosok Timothy Anugerah Saputra
Timothy Anugerah Saputra lahir di Bandung, Jawa Barat, pada 25 Agustus 2003. Ia dikenal sebagai mahasiswa yang ramah, santun, dan berprestasi. Di balik senyumnya yang hangat, Timothy menyimpan luka akibat ejekan dan perundungan berkepanjangan. Sebagai mahasiswa Sosiologi, Timothy aktif dalam diskusi mendalam tentang masyarakat dan dikenal sebagai pribadi lembut yang selalu siap membantu teman-temannya.
Meskipun berasal dari luar Bali, ia cepat beradaptasi dan menunjukkan prestasi akademik yang membanggakan. Perundungan yang dialami Timothy bermula dari hal-hal kecil, terutama melalui grup WhatsApp teman-temannya. Tangkapan layar percakapan yang beredar menunjukkan ejekan kasar yang membuatnya merasa terisolasi dan kesepian.
Tragedi ini mengundang keprihatinan luas dari mahasiswa dan alumni berbagai universitas yang membagikan pengalaman serupa di media sosial. Mereka menyoroti pentingnya kesadaran dan tindakan nyata untuk mengatasi bullying di lingkungan pendidikan.
Kasus meninggalnya Timothy Anugerah Saputra menjadi peringatan keras bagi institusi pendidikan dan masyarakat luas tentang dampak buruk perundungan. Hingga saat ini, pihak Universitas Udayana telah mengambil langkah tegas dengan memberhentikan mahasiswa yang terlibat dan melibatkan Satgas PPK untuk penyelidikan lebih lanjut.


