Ringkasan Berita:
- BNC membukukan total laba Rp517,20 miliar di triwulan III 2025, melonjak 73 kali lipat dibandingkan capaian perusahaan di kuartal III 2024 sebesar Rp6,95 miliar.
- BNC kini juga mulai menggarap bisnis wealth management dengan fokus menggarap segmen nasabah non-profesional dan mahasiswa.
PasarModern.com, JAKARTA – PT Bank Neo Commerce Tbk (BNC) perusahaan penyedia layanan perbankan digital, membukukan total laba Rp 517,20 miliar di triwulan III 2025.
Capaian laba ini melonjak 73 kali lipat dibandingkan capaian perusahaan di kuartal III 2024 sebesar Rp6,95 miliar.
Pencapaian ini merefleksikan operasional perbankan yang semakin mature dan kemampuan BNC dalam
menjaga kualitas aset secara berkelanjutan,” ungkap Direktur Utama PT Bank Neo Commerce Tbk, Eri Budiono di paparan publik kinerja BNC di Jakarta, Selasa (16/12/2025).
Eri Budiono menjelaskan, selama 2025 perseroan berhasil menjalankan disiplin pengendalian risiko, didukung pengelolaan operasional yang makin baik, serta inovasi layanan perbankan yang terus diperluas.
Direktur Bisnis BNC Aditya Wahyu Windarwo mengatakan, transformasi digital BNC kini mengarah pada pondasi yang lebih stabil dan berkelanjutan untuk pertumbuhan bisnis Perseroan dalam jangka panjang.
Di kuartal III 2025, Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) BNC berada di 82,83 persen pada Oktober 2025, konsisten dibandingkan September 2025 dengan 82,81 persen.
Kinerja BOPO membaik 16,92 poin persentase dibandingkan dengan Oktober 2024 yang tercatat 99,75 persen.
Margin bunga bersih (NIM) perseroan tercatat 14,74 persen, turun tipis dari September 2025 yang sebesar 14,81 persen, BNC terlihat konsisten menjaga margin dengan strategi pembiayaan yang terkendali.
Sementara, Rasio kredit bermasalah (NPL Gross) membaik signifikan menjadi 2,89 persen di Oktober
2025 dibandingkan dengan Oktober 2024 yang tercatat 3,74 persen.
Di sisi lain rasio kecukupan modal (CAR) BNC di Oktober 2025 naik menjadi 47,77 persen, dibandingkan dari posisi tahun sebelumnya yang sebesar 35,89 persen, atau tumbuh kuat 11,88 poin persentase YoY.
Aditya menyebut, kenaikan CAR ini karena kenaikan profitability. Struktur permodalan yang lebih kuat turut mendukung kemampuan perseroan dalam ekspansi lending.
BNC menyalurkan kredit Rp7,40 triliun hingga akhir Oktober 2025. Angka ini turun 14,16 persen dibandingkan Oktober 2024 yang sebesar Rp8,62 triliun. “Ada penurunan provisi secara year on year,” sebut Aditya Wahyu Windarwo.
Dia menekankan, saat ini dan ke depan perseroan akan fokus pada perbaikan kualitas aset dan lebih berhati-hati dalam menyalurkan pinjaman baru.
“Kita melakukan pengetatan risiko, kita melihat ke segmen yang lebih efisien. Kita ingin journey kita menggarap segmen yang sesuai dengan arah bisnisnya bank.”
“Loan kita turun tapi secara kualitas lebih bagus dan lebih sehat dan itu juga yang kita akan terus kembangkan di 2026 untik mendoromg profitabilitas,” ungkap Aditya.
“Target NPL kita di bawah 3,5 persen dan target funding Rp 13,4 triliun sampai Rp13,7 triliun.”
Dia menyebutkan, revenue perseroan per akhir Oktober 2025 turun karena penurunan consumer loan dari high yield ke low yield. “Kita fokus pada risk management strategy,” sebutnya.
CAR naik jadi 47,8 persen ada perbaikan karena kenaikkan profitability.
Salah satu produk kredit yang menjadi fokus BNC di tahun 2025, yaitu Neo Loan atau Neo Pinjam yang tersedia di aplikasi neobank, mencatatkan pertumbuhan yang impresif sebesar 139 persen secara tahunan.
Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) berada pada posisi stabil di Rp13,60 triliun, relatif tidak berubah dibandingkan September 2025 Rp13,62 triliun. Stabilitas DPK menunjukkan tingkat kepercayaan nasabah yang tetap stabil terhadap layanan perbankan perseroan.
Per Oktober 2025, total aset BNC mencapai Rp18,49 triliun, naik 0,34 persen dibandingkan September 2025 yang sebesar Rp18,43 triliun, dan tumbuh 3,01 persen secara tahunan dari Oktober 2024 dengan Rp17,95 triliun.
Modal inti juga menguat menjadi Rp4,00 triliun, meningkat 1,52 persen dibandingkan September 2025 sebesar Rp3,94 triliun, dan naik signifikan 20,06 persen YoY dari Rp3,33 triliun dari Oktober 2024.
Garap Bisnis Wealth Management
Terkait dengan strategi ke depan, perseroan akana fokus ke kemudahan bertransaksi finansial secara digital.
“Wealth management juga akan menjadi additional revenue kita selain dari fee based income. Kita juga akan lakukan penambahan transaksi seperti untuk kemudahan bertransaksi seperti QRIS yang sangat disukai orang Indonesia.
“Orang Asia senang bertransaksi dengan QRIS dan bisnis ini akan flying ke depannya. Kita mulai kelola wealth management untuk segmen mid and low, seperti nasabah anak muda yang ingin berinvestasi seperti ke reksadana dan obligasi pemerintah yang sekarang dijual dalam satuan lebih kecil,” kata Aditya.
Dia mengatakan, segmen wealth management dengan nasabah kalangan non-profesional seperti ibu-ibu rumah tangga dan mahasiswa sangat menarik digarap ke depannya.
“Mereka umumnya kurang paham tentang ini di marketnya. Maka itu kami dekati mereka melalui aplikasi
Kita tawarkan mereka berinvestasi agar ini juga bisa menjadi kebiasaan menabung dengan memulai dari nilainya kecil,” sebutnya.
Menurutnya, segnen ini memang baru tapi respon pasar cukup bagus. “Dalam sebulan ada 1000 sampai 1500 customer baru, bukan yang repeated,” sebut Aditya. (tribunnews/fin)


