Tahun Kelima MotoGP Indonesia, Cerita Sibawaeh dan Amaq Bengkok Masih Berlanjut

Posted on

Sengketa Lahan di Sekitar Sirkuit Mandalika

Gelaran MotoGP Indonesia yang berlangsung pada 3 hingga 5 Oktober 2025, diklaim berhasil menarik sebanyak 140.000 penonton. Jumlah ini lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, di balik kesuksesan acara tersebut, masih ada cerita tentang sengketa lahan di kawasan Sirkuit Mandalika yang belum terselesaikan.

Beberapa titik tak jauh dari lintasan, tepatnya 500 meter dari pagar luar sirkuit, menjadi tempat tinggal sejumlah 45 kepala keluarga yang masih bertahan di tanah mereka. Mereka menunggu niat baik dari Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) untuk menyelesaikan pembayaran lahan mereka.

Sibawaeh (56), salah satu dari mereka, tetap mempertahankan tanah kelahirannya. Berbagai upaya dilakukannya untuk memperjuangkan hak-haknya bersama pemilik lahan lainnya yang masih bertahan. Ia tidak ingin meninggalkan tanah yang telah ia garap selama bertahun-tahun.

Dari rumahnya, Sibawaeh bisa melihat langsung balapan MotoGP yang digelar di sirkuit. Ia membuat kursi pohon yang berhadapan langsung dengan tikungan 9 milik Amaq Bengkok (65). Kursi itu hanya terbuat dari tali tambang dan pijakan batang pohon. Dari posisi itu, ia bisa menyaksikan latihan bebas MotoGP tanpa perlu membeli tiket atau merasakan panas yang menyengat.

Ia juga membawa air kelapa sebagai persediaan jika haus. Menurutnya, pengalaman ini cukup menyenangkan. Bahkan, keluarganya sering datang membawa kopi hitam, ubi rebus, dan makanan ringan lainnya. Mereka menonton sambil duduk lesehan di bawah pohon kelapa, hanya dibatasi dua pagar pembatas dan para marshal serta tim medis yang berjaga di titik tikungan 10-11 Sirkuit Mandalika.

Tanah yang diklaim Sibawaeh adalah bukit yang telah dikeruk untuk tikungan 10-11. Pihak MGPA menyebut bahwa tikungan ini merupakan tikungan tajam yang membutuhkan kemampuan pebalap melakukan pengereman secara mendadak kemudian berbelok tajam ke arah berlawanan. Tidak ada kaitannya dengan hal klenik atau mistis.

Keseruan MotoGP dan Pengalaman Sibawaeh

Pada MotoGP 2022, Marc Marquez jatuh 4 kali di Sirkuit Mandalika, di berbagai tikungan. Pada tahun 2023, ia jatuh kembali di tikungan 11 saat lap pertama. Tahun 2024, Marquez tidak jatuh tapi tidak naik podium. Tahun 2025, ia kembali mengalami dua kali drama terjatuh di Sirkuit Mandalika. Pertama saat latihan bebas, Jumat (3/10/2025), kemudian kembali terjatuh pada Minggu (5/10/2025) di tikungan 6 dan menyebabkan lengan kanannya cedera.

Bagi Sibawaeh, drama jatuhnya sang juara dunia adalah gambaran bahwa para pebalap harus berhati-hati di tiap tikungan yang ada di Mandalika. Ia mengatakan, “Karena memang tiap tikungan itu sulit ya, kami hanya melihat kepulan debu dan kepanikan tim medis saat kecelakaan terjadi. Saat tim medis bergerak, kami ini hanya berdoa semoga mereka, pebalap itu selamat, kan begitu.”

Harapan Warga yang Bertahan

Tidak mudah menuju rumah Sibawaeh saat perhelatan MotoGP tahun ini. Pemeriksaan ketat dan kendaraan roda dua tidak bisa masuk ke kawasan Gate 3. Jurnalis pun tidak bisa sembarangan masuk ke area itu, hanya karena keberuntungan saja bisa masuk ke lokasi rumah Sibawaeh.

Amaq Bengkok masih menempati lahannya, persis di depan rumahnya, 3 mobil polisi parkir, pasukan penjaga tersebar. Penjagaan berlangsung simpatik, ratusan aparat kepolisian menjalankan tugas mereka tanpa kendala. Di jalur dekat Tunnel 2 puluhan pedagang kaos, makanan dan minuman ramai. UMKM dipersilahkan berjualan di area tersebut tanpa mengganggu penonton yang masuk ke tribune penonton.

Di dekat tribune festival masih berjejer rumah-rumah warga yang bertahan di Dusun E Bunut, Desa Kuta, Lombok Tengah. Warga masih membuka warung di tengah pemukiman warga. Sebagian pemilik lahan, sebagian lagi adalah warga yang kembali karena di tempat relokasi mereka tidak bisa beternak dan berkebun, tanah dan rumah hanya 60 meter persegi.

Penjagaan Terpusat untuk Perhelatan MotoGP

Penjagaan terpusat untuk perhelatan MotoGP, semua menjalankan tugas masing-masing, warga yang ingin berjualan pun tidak dilarang, mereka masih bisa menjajakan jualan di sekitar lokasi luar pagar sirkuit bukan di lokasi UMKM yang khusus untuk para penonton.

ITDC Minta Warga Melalui Jalur Pengadilan

Terkait masih adanya sengketa lahan di Sirkuit Mandalika, pihak ITDC yang dikonfirmasi langsung usai penyerahan plakat di podium, mengatakan bahwa warga bisa mengingat melalui jalur pengadilan. Direktur Keuangan, Strategi, dan Manajemen Risiko ITDC, Ahmad Fajar, mengatakan bahwa masalah sengketa lahan terjadi di mana saja.

“Namun demikian kita bisa melihat bahwasannya, kalau itu ada apapun, kita selesaikan melalui pengadilan, tapi bukan harus menggunakan dengan hal-hal yang lain tapi kita selesaikan secara hukum.”

Warga Bertahan dan Tak Mengganggu

Warga sama sekali tidak mengganggu jalannya perhelatan MotoGP meskipun masalah sengketa lahan mereka belum selesai. Apa yang dilakukan pemerintah selalu mereka dukung di kawasan Sirkuit Mandalika.

Harry Sandi dari Aliansi Gerakan Reformasi Agraria (AGRA) wilayah NTB, mengatakan bahwa warga akan merasa terganggu jika ada pihak pengamanan dari ITDC yang datang dan meminta mereka bersiap-siap menghadapi pengosongan lahan.

Jawaban ITDC terkait sengketa lahan bahwa masyarakat diminta menggugat ke pengadilan, bagi Sandi hal itu sudah biasa didengar warga dan selalu dihadapkan dengan jawaban yang sama.

“Kami tidak anti terhadap pengadilan, tetapi problemnya adalah pengadilan tidak akan pernah melakukan tinjauan historis atas tanah dan kehidupan warga, pengadilan akan lebih berpegang pada dokumen formil yang dimiliki oleh warga.”

Celakanya, warga yang terdampak dan menghadapi sengketa lahan di Sirkuit Mandalika tidak satupun memiliki sertifikat. Mereka hanya memilki surat izin menggarap (SIM) yang didapatkan sekitar tahun 1973.

Warga menyadari bahwa mereka dihadapkan dengan pertarungan yang tidak imbang, mereka diuji daya tahannya oleh berbagai masalah dan tekanan.

“Tapi warga berkomitmen akan tetap bertahan di tempat ini, karena mereka sudah tidak memiliki kehidupan apapun selain menggarap lahannya di kawasan ini,” kata Sandy.

Jika bisa memilih, warga memilih tetap tinggal di kawasan Mandalika, tetapi sebagai bentuk dukungan pada pemerintah mereka bersedia pergi meninggalkan kampung halaman, asalkan tanah mereka dibayar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *