Antam Berupaya Jaga Ketersediaan Pasokan Emas Domestik
PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) terus memastikan pasokan emas domestik tetap stabil meskipun menghadapi tantangan ketersediaan bahan baku akibat tingginya harga emas dan penghentian sementara operasi tambang milik PT Freeport Indonesia. Harga emas dunia sempat mencapai level US$4.000 per troy ounce pada pekan lalu, dipengaruhi oleh meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global serta ekspektasi pemangkasan suku bunga acuan Amerika Serikat (AS).
Corporate Secretary Division Head Aneka Tambang atau Antam, Wisnu Danandi Haryanto, menyampaikan bahwa perseroan terus mengkaji dinamika penawaran dan permintaan emas yang meningkat dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi ini dipicu oleh pertumbuhan permintaan masyarakat terhadap produk emas Logam Mulia Antam yang belum sepenuhnya diimbangi ketersediaan bahan baku.
“Dalam situasi tersebut, Antam menjalankan pengelolaan pasokan dan distribusi secara hati-hati agar produk tetap dapat tersedia secara bertahap di seluruh kanal penjualan,” ucap Wisnu Danandi kepada Bisnis, Jumat (10/10/2025). Dia menambahkan bahwa Antam kini berfokus memenuhi bahan baku dari sumber domestik melalui produksi dari Unit Bisnis Pertambangan Emas (UBP Emas) di Jawa Barat dan program buyback di Butik Emas Logam Mulia.
Di samping itu, emiten tambang pelat merah ini turut menjalin kerja sama dengan Freeport Indonesia dan sejumlah perusahaan tambang swasta yang melakukan pemurnian di Unit Bisnis Pengolahan dan Pemurnian Logam Mulia Antam. “Antam juga terus memperkuat kerja sama pasokan bahan baku dari beberapa perusahaan tambang dalam negeri yang bersedia menjual hasil pemurniannya untuk mendukung kebutuhan pasar domestik,” pungkas Wisnu.
Optimalkan Operasional dan Rantai Pasok
Di sisi operasional, dia menambahkan Antam mengoptimalkan aktivitas pemurnian, pengaturan distribusi, serta efisiensi rantai pasok untuk memastikan layanan kepada pelanggan tetap terjaga di tengah dinamika pasar emas global.
Selama Januari-Juni 2025, Antam tercatat membukukan penjualan Rp59,01 triliun atau melonjak 154,51% dari periode sama tahun sebelumnya yakni Rp23,18 triliun. Penjualan Antam ditopang segmen emas yang membukukan pendapatan Rp49,53 triliun, bijih nikel Rp6,7 triliun, feronikel Rp1,16 triliun, alumina Rp920,35 miliar, bijih bauksit Rp542,63 miliar, dan perak berkontribusi senilai Rp54,74 miliar.
Kinerja cemerlang itu berlanjut pada capaian laba bersih yang mencapai Rp4,70 triliun, melonjak 202,89% dibandingkan dengan Rp1,55 triliun pada semester I/2024. Namun, Direktur Utama Antam Ahmad Ardianto mengatakan meski pendapatan dan laba bersih paruh pertama 2025 hampir setara dengan kinerja setahun penuh 2024, perseroan masih menghadapi sejumlah tantangan yang dinilai cukup fundamental.
Didi, sapaan akrabnya, menyatakan bahwa fundamental bisnis emas Antam juga diuji oleh keterbatasan pasokan domestik. Dari kebutuhan 45 ton emas per tahun, tambang Pongkor milik perseroan hanya mampu memproduksi sekitar 1 ton. Emiten tambang anggota MIND ID ini pun bergantung pada buyback emas masyarakat, kerja sama dengan tambang swasta, serta impor dari mitra internasional yang tergabung dalam London Bullion Market Association (LBMA).
Risiko Pasokan dari Penghentian Operasi Freeport Indonesia
Di sisi lain, Antam menghadapi risiko pasokan dari penghentian operasi PT Freeport Indonesia (PTFI). Sebagaimana diketahui, PTFI menghentikan operasi tambang Grasberg pada September 2025 usai terjadi insiden di area bawah tanah.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Erindra Krisnawan dan Naura Reyhan Muchlis mengatakan bahwa berdasarkan laporan internal perusahaan, kondisi tersebut berpotensi memangkas produksi untuk tahun buku 2026 hingga 35%. Pada November 2024, ANTM telah meneken perjanjian selama lima tahun dengan PTFI untuk membeli emas murni 99,99% sebanyak 30 ton per tahun dari fasilitas pemurnian Freeport di Gresik, Jawa Timur, berkapasitas sekitar 50 ton per tahun. Kesepakatan itu menandai peralihan sumber pasokan dari impor menjadi domestik mulai Maret 2025.
“Perjanjian pasokan emas antara ANTM dan PTFI membuat perusahaan terekspos terhadap risiko pasokan di tengah penghentian sementara operasi PTFI saat ini,” ujarnya dalam publikasi riset yang dikutip Minggu (12/10/2025). Berdasarkan hasil analisis sensitivitas yang dilakukan BRI Danareksa, dampak akibat gangguan pasokan dari Freeport diperkirakan relatif kecil terhadap laba bersih ANTM pada 2025, yakni dengan penurunan sekitar 2,1% hingga 5,7%. Adapun, skenario volume penjualan mengalami penurunan 20%-50% dibandingkan asumsi dasar 42 ton.
Sementara itu, Analis Samuel Sekuritas Juan Harahap dan Fadhlan Banny menilai penghentian operasi tambang Freeport diperkirakan mengganggu pasokan emas Antam sebesar 30 ton atau sekitar 66% dari total proyeksi volume emas 2025 sebesar 45 ton. “Hasil penilaian awal menunjukkan bahwa penghentian operasi tersebut berpotensi memangkas volume penjualan emas ANTM sekitar 10 ton. Namun, penurunan ini diperkirakan dapat sebagian tertutupi oleh tambahan pasokan impor sebesar 5 ton,” pungkas Juan dan Fadhlan dalam publikasi riset terpisah.
Proyeksi Kinerja dan Rekomendasi Saham
Dalam jangka pendek, kuartal IV/2025 dan 2026, keduanya menuturkan manajemen Antam memperkirakan pemulihan akan terjadi secara bertahap seiring dengan proses perbaikan. Sementara itu, operasi penuh diperkirakan kembali pada 2027. Pada tahap ini, Samuel Sekuritas mengambil asumsi konservatif volume penjualan emas sebesar 40 ton untuk tahun 2025. Jumlah itu mencerminkan potensi keterlambatan dalam penanganan gangguan dan pengamanan pasokan alternatif.
Dengan katalis yang ada, Samuel Sekuritas menyematkan rekomendasi beli saham ANTM dengan kenaikan target harga Rp4.600 per saham karena revisi harga emas. Selain itu, estimasi laba juga dinaikkan seiring revisi naik 21% pada proyeksi harga emas 2025. Analisis sensitivitas yang dilakukan Samuel Sekuritas menunjukkan setiap kenaikan 3% harga emas dapat meningkatkan laba bersih sebesar 10,6%.
“Risiko utama adalah harga emas lebih rendah dari perkiraan, keterlambatan operasional, serta potensi force majeure lainnya,” ucap Juan dan Fadhlan. Adapun BRI Danareksa juga mempertahankan rekomendasi beli untuk ANTM dengan target harga tetap Rp4.100 per saham. Peringkat ini diberikan karena risiko pasokan dari PTFI diperkirakan hanya memberikan dampak terbatas terhadap kinerja laba, meski masih ada ketidakpastian waktu pemulihan operasi Freeport.
Dari meja konsensus, mayoritas atau 23 dari 28 analis memberikan peringkat beli dengan target harga rata-rata mencapai Rp3.732 per saham. Adapun estimasi tertinggi mencapai Rp4.600 dan terendahnya di level Rp2.600 per saham. Di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI), saham ANTM ditutup menguat 2,80% ke level Rp3.310 pada perdagangan Jumat (10/10). Harga tersebut mencerminkan penurunan sebesar 5,16% selama sebulan terakhir, tetapi masih terapresiasi 117,05% sejak awal tahun atau year to date.


