Masalah Keterbatasan Air Bersih di Sekolah Rakyat Terintegrasi 58 Samarinda
Sekolah Rakyat Terintegrasi 58 Samarinda sedang menghadapi krisis air bersih yang memengaruhi kehidupan sehari-hari siswa dan guru. Keterbatasan air ini membuat siswa SD kesulitan untuk mandi dan mencuci pakaian. Kondisi ini menjadi permasalahan serius, terutama bagi anak-anak yang masih berada di jenjang sekolah dasar.
Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 58 Samarinda, Salsa Bila Maharani, menjelaskan bahwa pasokan air dari PDAM tidak dapat mencapai tempat penampungan air (tandon) di sekolah. Hal ini menyebabkan air tidak bisa mengalir hingga lantai dua gedung. Akibatnya, siswa dan guru harus pergi ke masjid terdekat untuk mendapatkan air.
“Anak-anak sama gurunya kesusahan nggak ada air, jadi anak-anak sampai ke masjid terdekat sini,” ujar Salsa kepada PasarModern.com, Sabtu (15/11/2025). Namun, karena seringkali datang ke masjid, pihak masjid menegur mereka agar tidak lagi menggunakan masjid sebagai tempat mandi.
Untuk mengatasi krisis air ini, kepala sekolah membeli air tandon sambil menunggu pengeboran sumur dari pemerintah pusat. Meski kapasitas tandon air cukup besar, yaitu 5.000 liter, kebutuhan air sekolah sangat besar sehingga air habis dalam satu hari saja. Bahkan, kadang dalam sehari air harus diisi dua kali.
Langkah Pemerintah dalam Membangun Sekolah Rakyat Terintegrasi
Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda saat ini bersiap memulai pembangunan Sekolah Rakyat Terintegrasi modern dengan fasilitas lengkap. Proyek ini memiliki nilai sekitar Rp250 miliar dan akan dimulai pada 2 Desember 2025. Pembangunan ini bertujuan untuk meningkatkan akses pendidikan bagi masyarakat prasejahtera.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Samarinda, Asli Nuryadin, menjelaskan bahwa pelaksanaan proyek dimulai setelah penandatanganan kontrak dengan pihak pelaksana. Ia menyebut proses ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan koordinasi di Bali yang telah dilaporkan kepada Walikota Samarinda.
Samarinda tercatat sebagai satu-satunya daerah di Kalimantan Timur yang masuk dalam daftar 104 Sekolah Rakyat yang dibangun pemerintah pusat pada tahun ini. Pekerjaan proyek diperkirakan memakan waktu sekitar enam bulan dan ditargetkan selesai sebelum Juli, agar bisa digunakan pada tahun ajaran berikutnya.
Persiapan Lahan dan Fasilitas Lengkap
Menurut Asli, pemerintah pusat menekankan percepatan proyek sekaligus penyelesaian aspek administratif, khususnya sertifikasi lahan. Pemkot Samarinda telah mengajukan sertifikat tanah ke ATR/BPN dan berharap proses tersebut bisa dipercepat.
Ia juga menegaskan pentingnya koordinasi lintas instansi agar sarana pendukung sekolah siap sejak awal pembangunan. PLN, Diskominfo, dan PDAM disebut berperan penting dalam penyediaan jaringan listrik, internet fiber optic, pipa air, hingga debit air untuk ratusan penghuni asrama.
Sekolah Rakyat Palaran dirancang sebagai fasilitas pendidikan terintegrasi dengan konsep asrama modern. Asli menyebut sekolah ini akan dilengkapi dapur umum, keran air panas-dingin, serta laptop untuk siswa. “Sekolah ini betul-betul hebat, diurus dan modalnya besar. Istilahnya memanusiakan manusia. Supaya anak-anak bisa menikmati sekolah yang berstandar,” ujarnya.
Pengalaman Salsa Bila Maharani di Samarinda
Salsa Bila Maharani, Wakil Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 58 Samarinda, merasakan pengalaman luar biasa saat pertama kali tiba di Samarinda pada 24 September lalu. Perpindahannya dari Jakarta ke kawasan SMAN 16 Samarinda membawanya pada realitas kehidupan yang berbeda.
“Kalau pengalaman saya gitu ya kan sebagai orang Jakarta terus langsung ditunjuk menjadi pengajar Sekolah Rakyat di Samarinda itu luar biasa,” ungkap Salsa, Sabtu (15/11/2025). Perempuan yang juga mengajar jenjang SMA ini menemukan banyak hal baru yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Salah satu tantangan terbesar adalah soal ketersediaan air bersih. Di Jakarta, air mengalir melimpah dan mudah diakses. Namun di Samarinda, khususnya di sekolah rakyat 58 ia harus mengalami keterbatasan akan air bersih. “Bahkan kan di wilayah-wilayah makin ke timur itu kan susah air ya,” kata Salsa menceritakan apa yang ia dengar saat masih di Jakarta.
Motivasi Siswa dan Program Sekolah Rakyat
Dalam proses mengajar, Salsa menemukan siswa-siswanya dapat diarahkan dengan baik. Namun tantangan terbesarnya adalah membangun semangat belajar mereka. Banyak siswa yang memiliki orientasi langsung bekerja di perkebunan atau pertambangan.
“Tapi gimana caranya saya itu memotivasi mereka untuk misalkan, kalian itu harus belajar biar nanti itu kalian bisa kuliah gitu,” tutur Salsa. Ia berupaya membuka wawasan siswa bahwa pendidikan dapat membuka peluang lebih luas, seperti menjadi pengajar atau bekerja di perusahaan.
Program Sekolah Rakyat yang digagas Presiden Prabowo Subianto menjadi alasan utama Salsa rela mengajar jauh dari domisili. Program ini menyasar siswa dari keluarga kurang mampu, khususnya dari ekonomi desil 1 dan desil 2. Banyak anak yang sempat putus sekolah atau bahkan tidak pernah mengenyam pendidikan formal.
Mengajar di Sekolah Rakyat bukan sekadar transfer ilmu. Bagi salsa, ini tentang memberi harapan pada anak-anak yang hampir kehilangan masa depan. “Nah itu program Sekolah Rakyat ini kan sangat membantu mereka ya, jadi mereka itu bisa sekolah lagi, mereka bisa pakai seragam lagi, terus itu juga menurut saya motivasi saya untuk mengajarkan mereka sih, jadi kayak saya juga bisa banyak belajar banyak hal dari mereka juga,” pungkas Salsa.


