Saya pernah hampir mati karena bencana dahsyat

Posted on

Malam itu, guncangan dahsyat datang seperti napas binatang besar yang marah. Rumah kami di Nias Selatan bergetar hebat; pintu bergoyang, piring beradu di lemari, dan lampu-lampu kecil di ruang tamu menari-nari sebelum akhirnya padam total. Saya masih ingat jam dinding di ruang tamu yang berhenti begitu saja, seolah waktu menyerah pada kekacauan, pada detik-detik ketika dunia kami mengecil dan rapuh seperti selembar kertas.

Saya, yang saat itu masih siswa SMA kelas 3, duduk terpaku di kamar. Ada dua suara di kepala: naluri untuk bertahan di dalam dan bisikan panik untuk segera lari keluar. Pikiran-pikiran manusiawi berkeliaran: “Mungkin ini cuma gempa sesaat.” “Nanti saja keluar, takut barang hilang.” “Rumah ini mungkin cukup kuat.”

Kami ragu. Kami menimbang-nimbang. Kami sempat berdebat. Dan beberapa menit itu hampir merenggut hidup kami.

Akhirnya kami keluar. Langkah yang terlambat sedikit saja bisa membuat cerita hari itu berbeda. Begitu berada di luar, gelap menyelimuti desa seperti kabut ketakutan.

Orang-orang berlarian, sebagian menangis, sebagian berteriak memanggil anggota keluarga, sebagian hanya duduk di tanah sambil memegang kepala, tak percaya pada apa yang baru saja terjadi.

Tidak ada tenda, tidak ada tempat berteduh; hanya halaman rumah, pekarangan, dan jalanan yang penuh orang dengan wajah pucat diterangi cahaya bulan yang samar.

Kami menghabiskan malam itu di udara terbuka, duduk berdesakan satu sama lain, menatap rumah-rumah yang retak, tiang listrik yang tumbang, dan suara-suara dari kejauhan yang membuat dada semakin sesak.

Setelah beberapa jam, gempa susulan datang lagi, dan lagi, dan lagi; seolah bumi tidak mau berhenti mengingatkan bahwa ia sedang marah.

Baru pada hari-hari berikutnya, setelah kami mulai membangun tenda-tenda darurat dari terpal dan batang bambu, saya benar-benar melihat wajah-wajah mereka yang kehilangan bukan hanya rumah, tetapi juga orang-orang terdekat.

Banyak dari mereka bukanlah korban semata karena kekuatan gempa atau gelombang laut yang menyusul, melainkan korban dari menit-menit keputusan: mereka yang kembali ke rumah untuk mengambil surat berharga, emas yang disimpan bertahun-tahun, atau foto keluarga yang dianggap tak tergantikan.

Mereka tidak meninggal karena alam saja; mereka gugur karena keputusan kecil yang keliru ketika waktu sudah tidak lagi berpihak pada manusia.

Dua puluh tahun setelah malam itu, berita tentang banjir dan tanah longsor yang menimpa Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir November 2025 membuat luka lama terbuka kembali.

Saya membaca laporan tentang rumah-rumah yang terkubur, kendaraan yang hanyut, dan, yang paling memilukan, nyawa-nyawa yang musnah. Dan seperti dulu, di antara mereka yang hilang ada yang mungkin sebenarnya bisa selamat, jika saja keputusan lain dibuat pada saat itu.

Ketika Keraguan Menjadi Petaka

Manusia punya naluri mempertahankan; bukan hanya nyawa, tetapi juga apa yang kita anggap milik berharga. Benda-benda itu menyimpan memori, status, rasa aman. Saat air mulai merayap ke ambang pintu, saat tanah bergetar di bawah kaki, ketika awan hitam menyimpan amarah hujan yang tak tertahan, keputusan untuk pergi sering kali berbenturan dengan dorongan untuk mempertahankan.

Itu bukan sekadar soal ketamakan. Itu soal nilai-nilai yang kita tanam pada diri sendiri dan masyarakat kita: bahwa barang bisa menentukan harga diri, bahwa kehilangan benda-material berarti kehilangan muka, bahwa kita masih punya kendali walau alam sudah memproklamirkan sebaliknya.

Tapi alam tidak mengenal perhitungan sosial kita. Ia menuntut respons cepat, keputusan tanpa ragu. Dan ketika kita menunda, kita memberi waktu pada nasib untuk mengunci pilihannya terhadap kita.

Di Mana Empati dan Tanggung Jawab Berpadu

Melihat foto-foto korban dan membaca nama-nama yang tercatat, kita harus berhenti pada dua hal: empati, karena setiap nyawa adalah cerita; dan tanggung jawab, karena sebagian dari tragedi bisa dicegah.

Empati berarti kita tidak cepat menghakimi mereka yang tetap memilih bertahan sampai akhirnya menjadi korban. Kita tidak tahu semua tekanan yang mereka rasakan: mungkin keterbatasan akses informasi, ketidakmampuan meninggalkan harta yang selama bertahun-tahun dikumpulkan, rasa takut terhadap penjarahan, atau sekadar keyakinan lama bahwa “ini tidak akan sampai ke rumah saya”.

Tanggung jawab berarti membangun masyarakat yang lebih siap. Menyediakan peringatan dini yang dapat dipercaya, membangun jalur evakuasi yang jelas dan aman, menerapkan tata ruang yang menempatkan permukiman jauh dari zona berisiko, dan memberi pendidikan bencana yang tidak hanya formal tetapi juga meresap ke dalam kultur sehari-hari.

Pelajaran dari Pengalaman yang Menyakitkan

Ada beberapa pelajaran yang terlalu berharga untuk diabaikan, bukan hanya untuk saya pribadi, tapi untuk keluarga, tetangga, dan masyarakat luas:

1. Prioritaskan nyawa, bukan barang. Ini terlihat klise, tapi hanya saat bencana kita benar-benar memahami kebenaran kalimat itu. Barang bisa diganti. Nyawa tidak.

2. Latihan evakuasi itu bukan formalitas. Sekolah, kampung, dan lingkungan harus rutin berlatih. Kebiasaan baik akan meminimalkan detik-detik panik yang mematikan.

3. Sediakan tas darurat yang mudah dijangkau. Dokumen penting, sedikit uang tunai, obat-obatan, pakaian ganti, dan makanan ringan. Semua itu bisa membuat perbedaan antara bertahan dan terseret oleh keadaan.

4. Buat rencana keluarga. Siapa yang bertanggung jawab menjaga anak? Ke mana tempat bertemu jika terpisah? Informasi sederhana ini seringkali terlupakan saat kepanikan tiba.

5. Budayakan informasi yang benar dan cepat. Rumor bisa membahayakan. Sistem peringatan dini harus menjangkau masyarakat paling terpencil, dalam bahasa dan format yang mudah dimengerti.

6. Jangan biarkan rasa malu atau takut menjadi penghalang evakuasi. Program perlindungan terhadap penjarahan atau bantuan sosial setelah bencana bisa mengurangi kekhawatiran tersebut.

Rasa Bersalah yang Tersisa dan Cara Menyikapinya

Saya masih membawa sedikit rasa bersalah tiap kali mengingat malam itu. Bukan karena saya yang memutuskan untuk keluar, atau kami keluar, tetapi karena saya tahu ada banyak orang yang tidak sempat atau tidak berani melakukan hal yang sama.

Perasaan seperti ini, saya pelajari, adalah bagian dari proses menjadi manusia setelah selamat dari bencana: ada syukur, tetapi juga rasa bersalah karena ada yang pergi sementara kita tinggal.

Cara menghadapi rasa bersalah itu bukan dengan menyalahkan diri sendiri terus-menerus, melainkan dengan mengubahnya menjadi tindakan. Berbagi pengalaman, mengedukasi tetangga, terlibat dalam program kesiapsiagaan, atau bekerja sama dengan komunitas untuk memperkuat ketahanan, itu adalah caranya menghormati mereka yang hilang dan mencegah tragedi serupa di masa depan.

Bukan Hanya Urusan Individu, Ini Ujian Kolektif

Bencana menguji struktur sosial suatu bangsa. Seberapa cepat bantuan datang, seberapa baik koordinasi dilakukan antara otoritas dan komunitas lokal, serta bagaimana infrastruktur meminimalkan dampak, semua itu menunjukkan kesiapan kolektif. Pemerintah memiliki peran besar, tetapi warga negara juga memegang kunci: solidaritas, kesadaran, dan kesiapan pribadi.

Kita harus menumbuhkan budaya di mana evakuasi bukan dianggap sebagai kegagalan, melainkan sebagai kebijaksanaan. Kita harus menghargai mereka yang mengambil keputusan sulit untuk meninggalkan rumah demi menyelamatkan nyawa.

Pelajaran yang Tidak Boleh Hilang oleh Waktu

Kita tidak bisa mengendalikan gempa yang terjadi di perut bumi atau hujan yang menumpuk di langit, tetapi kita bisa mengendalikan bagaimana kita merespons.

Saya pernah hampir mati karena bencana; itu pengalaman yang mengajarkan saya tentang nilai nyawa, tentang kelemahan dan keberanian, tentang betapa cepatnya segala sesuatu yang kita anggap penting bisa lenyap.

Pesan saya sederhana: ketika alam berbicara lewat guntur, air, atau gemuruh tanah, dengarkan. Jangan biarkan rasa takut akan kehilangan benda menjadi penjara yang menahan langkah keselamatan. Jadikan pengalaman pahit itu sebagai bahan bakar untuk memperkuat diri, keluarga, dan masyarakat.

Dan bila suatu hari Anda mendengar sirene atau melihat tanda bahaya, ingatlah kalimat yang saya pelajari di bawah tenda, di malam yang dingin setelah bumi bergejolak:

Harta boleh hilang. Nyawa tidak pernah punya pengganti.

Semoga tulisan ini menjadi pengingat; bukan menakut-nakuti, tetapi membangkitkan kebijakan hati dan tindakan. Kita mungkin tidak memilih untuk berada di bawah hujan bencana, tetapi kita bisa memilih bagaimana kita bangkit dari sana.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *