Remaja Surabaya yang Ditemukan Terluka di Madura Dikenal Pendiam dan Baik

Posted on

Identitas Korban yang Terungkap

Raffa Galang Prayoga, seorang remaja berusia 19 tahun, ditemukan dalam kondisi luka parah dengan tangan terikat ke belakang dan kedua mata ditutup kain di jalan setapak Desa Samaran, Kecamatan Tambelangan, Kabupaten Sampang, Madura. Saat ditemukan, ia masih hidup, namun meninggal dunia saat tiba di Puskesmas Tambelangan.

Awalnya, korban disebut sebagai pengendara ojek online (ojol) yang menjadi korban perampokan oleh penumpangnya. Namun, pihak keluarga membantah hal tersebut. Menurut Bambang Kusnandar, ayah korban, Galang bukanlah pengemudi ojol. Ia tidak pernah mendaftar sebagai mitra pengemudi ojol di aplikator mana pun. Galang bekerja di perusahaan jasa ekspedisi paket barang milik tantenya, Titik, yang berada di dekat rumahnya.

Galang bekerja di bagian lapangan, bertugas mengirimkan paket barang dan berkas ke pelanggan di seluruh wilayah Jawa Timur. Sejak lulus dari SMK, ia memilih bekerja di samping tantenya, alih-alih mencari pekerjaan lain. Keputusan ini diambil karena kesadaran akan tanggung jawab keluarga.

Latar Belakang Keluarga

Galang adalah anak sulung dari tiga bersaudara. Sejak usia sembilan tahun, ia tidak lagi diasuh oleh ibu kandungnya, HS, akibat perceraian. Ayahnya, Bambang Kusnandar, yang juga memiliki disabilitas tunadaksa, menjadi satu-satunya pengasuh bagi Galang dan dua adik kembarnya yang masih berusia enam tahun.

Kehidupan Galang semakin berat setelah ayahnya mengalami kecelakaan beberapa tahun lalu, sehingga kehilangan kemampuan untuk menggerakkan kedua tangannya. Dari situ, Galang mengambil alih hampir seluruh aktivitas di rumah, termasuk merawat kedua adik kembarnya yang masih kecil.

Bambang menegaskan bahwa Galang adalah tulang punggung keluarga, meskipun tidak hanya berperan secara finansial. Ia juga membantu ayahnya dalam berbagai kegiatan, serta menjaga adik-adiknya sejak kecil.

Kepribadian Galang

Galang dikenal sebagai sosok yang pendiam dan tertutup. Namun, ketika berhadapan dengan orang yang membuatnya nyaman seperti teman atau kerabat, ia bisa menjadi ramah dan ceria. Bambang menyatakan bahwa Galang tidak memiliki masalah pribadi yang berlebihan, seperti pergaulan bebas atau kebiasaan serampangan. Ia lebih sering menghabiskan waktu di rumah bersama adik kembarnya atau nongkrong di rumah teman dekat rumah.

Ia juga sangat sopan dan hormat kepada orang tua, termasuk Bambang dan tante. Meskipun sesekali ayahnya memukulnya karena kesalahan kecil, seperti meninggalkan salat, Galang tetap diam dan menerima tanpa marah. Menurut Bambang, Galang adalah sosok yang penurut dan rendah hati, meski mungkin tidak banyak mengetahui tentang urusan sang anak.

Motif Pelaku

Bambang tidak yakin dengan motif pelaku yang begitu kejam. Jika pelaku mengincar harta benda, nyatanya Galang tidak memiliki banyak uang atau perhiasan. Beberapa benda seperti gelang dan kalung pada tubuhnya hanya merupakan aksesori biasa. Bahkan, kalung asesori yang ada di leher Galang hilang, sedangkan gelang di tangan kanannya masih melekat.

Selain itu, Bambang meragukan dugaan motif dendam. Menurutnya, kepribadian Galang yang pendiam dan penurut tidak mendukung dugaan tersebut. Selain itu, Galang tidak pernah bepergian jauh dari rumah, kecuali untuk nongkrong di rumah teman dekat. Pertama kalinya ia pergi ke Pulau Madura, sehingga Bambang tidak tahu apakah ini penculikan atau jebakan.

Sosok Galang di Mata Tantenya

Tante Galang, Titik, menceritakan bahwa ia membiayai semua proses pendidikan Galang dan dua adik kembarnya. Galang sempat dipaksa melanjutkan pendidikan hingga jenjang sarjana, namun ia menolak karena takut memberatkan keluarga. Titik menegaskan bahwa Galang adalah sosok yang santun, penurut, dan pekerja keras. Ia sangat peduli terhadap ayahnya yang disabilitas dan adik-adiknya.

Titik menyakini bahwa Galang tidak pernah bepergian ke Pulau Madura, kecuali untuk pertama kali ini. Bahkan, keluarga besar mereka tidak memiliki kerabat yang tinggal di sana. Ia juga menegaskan bahwa Galang bekerja dengan sangat cekatan dan tanggung jawab, bahkan sampai bekerja di luar jam kerja jika diperlukan.

Beberapa pelanggan perusahaan Titik merasa sedih dan menangis setelah mendengar kabar duka tersebut. Mereka mengenal Galang sebagai sosok yang baik, tenang, dan patuh. Ia selalu menjalankan tugas sesuai permintaan pelanggan tanpa rewel atau neko-neko.