Ratusan Napi Lapas Bukit Semut Alami Penyakit Kulit, Kisah Ary Nirwanto

Posted on

Kisah Menyentuh di Lapas Kelas IIB Bukit Semut

Pada awal masa jabatannya sebagai Kepala Lapas Kelas IIB Sungailiat, Ary Nirwanto menghadapi berbagai tantangan yang cukup berat. Salah satu masalah utama yang muncul adalah kondisi kebersihan dan fasilitas dasar yang tidak memadai bagi para warga binaan pemasyarakatan (WBP). Hal ini akhirnya memicu munculnya penyakit kulit massal di antara ratusan napi.

Penyakit Kulit Massal Akibat Kekurangan Air Bersih

Ary mengungkapkan bahwa pada awal 2023, kondisi Lapas masih menghadapi banyak kendala, terutama dalam hal kebersihan dan fasilitas dasar. Saat melakukan inspeksi sebelum serah terima jabatan, ia menemukan bahwa para napi hampir tidak pernah mandi karena air tidak mengalir ke dalam blok hunian. Meski air sumur kurang, air PAM sebenarnya tersedia, tetapi pompa air yang menghubungkan ke blok hunian tidak berfungsi.

Mengetahui hal ini, Ary langsung mengambil langkah cepat dengan memperbaiki sistem pompa air serta mengganti pipa-pipa tua yang rusak. Ia juga mengubah sistem kamar mandi di setiap blok agar lebih layak digunakan, seperti mengganti pipa biasa dengan sistem shower untuk memastikan napi bisa mandi dengan lebih bersih dan teratur.

Ratusan Napi Terjangkit Penyakit Kulit

Setelah sistem air kembali berfungsi, Ary memanggil tenaga medis untuk memeriksa kondisi kesehatan para napi. Hasilnya mengejutkan: hampir 200 napi terdiagnosis penyakit kulit, mulai dari gatal-gatal ringan hingga infeksi yang cukup parah. Ary langsung melakukan pengobatan massal dan pembagian sabun serta obat-obatan antiseptik.

Langkah cepat tersebut perlahan membuahkan hasil. Beberapa minggu kemudian, kondisi para napi mulai membaik, dan lingkungan Lapas pun menjadi jauh lebih bersih dan sehat. Ary menegaskan bahwa tugas Kalapas bukan hanya menjaga keamanan, tetapi juga memanusiakan manusia. Para napi ini tetap manusia yang punya hak untuk hidup sehat dan bersih.

Membangun Lapas yang Lebih Manusiawi

Selama menjabat, Ary melakukan berbagai perbaikan fasilitas dasar, mulai dari kamar mandi, dapur, hingga ruang kesehatan. Ia juga memperbaiki ventilasi udara di beberapa blok yang sebelumnya lembab dan gelap, serta menambahkan fasilitas penyuluhan bagi napi yang mengalami masalah kesehatan mental.

Ia juga memperkuat sinergi dengan berbagai pihak di Kabupaten Bangka, terutama unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda). Ary mengucapkan terima kasih kepada semua pihak, terutama Forkopimda Bangka yang selalu membantu selama ini. Tanpa kerja sama lintas instansi, mustahil Lapas bisa berbenah sebaik sekarang.

Pindah Tugas ke Probolinggo

Kini, Ary resmi dipindahtugaskan menjadi Kepala Lapas Kelas IIA Probolinggo, Jawa Timur. Dalam sambutannya, ia mengaku berat meninggalkan Lapas Bukit Semut karena sudah merasa seperti keluarga besar. Ia percaya bahwa dengan kepemimpinan Dadang Rais Saputro, Lapas ini bisa makin baik ke depannya.

Dadang Rais Saputro, Kalapas baru yang menggantikan Ary, menyampaikan apresiasi atas dedikasi pendahulunya. Ia siap melanjutkan program-program baik yang sudah dibangun. Prinsip mereka sama: membina, bukan menghukum. Lapas harus menjadi tempat rehabilitasi, bukan sekadar penjara.

Kondisi Kini: Bersih dan Sehat

Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kementerian Hukum dan HAM Kepulauan Bangka Belitung, Herman Sawiran, membenarkan kondisi terkini Lapas Kelas IIB Sungailiat sudah jauh lebih baik. Ia mengapresiasi langkah-langkah yang dilakukan Ary selama menjabat dan berharap Kalapas baru bisa mempertahankan capaian tersebut.

Masalah air dan sanitasi ini sering jadi tantangan besar. Namun, Kanwil terus berupaya memperbaiki, termasuk menambah pasokan air bersih dan memperbaiki sistem drainase di beberapa Lapas.

Kebersihan Jadi Cermin Pembinaan

Bagi Ary Nirwanto, pengalaman itu menjadi pelajaran berharga bahwa pembinaan warga binaan tidak hanya soal mental dan moral, tapi juga kesehatan dan lingkungan hidup. Ia mengatakan bahwa jika mereka hidup di tempat kotor, lembab, dan tidak sehat, bagaimana bisa menjalani pembinaan dengan tenang? Ia mulai dari hal paling dasar: mandi, bersih, sehat.

Kini, para napi di Lapas Bukit Semut bisa menikmati mandi air bersih setiap hari, menggunakan fasilitas shower baru, serta mendapatkan sabun dan peralatan kebersihan secara rutin. Bahkan, pihak Lapas juga mengadakan kegiatan gotong royong setiap akhir pekan untuk menjaga kebersihan blok hunian.

Apresiasi dan Harapan

Acara sertijab itu ditutup dengan suasana haru. Beberapa pegawai bahkan meneteskan air mata saat Ary Nirwanto berpamitan. Meski sudah pindah tugas, banyak pihak berharap semangat pembenahan yang ia bawa akan terus hidup di Lapas Bukit Semut.

Kakanwil Herman Sawiran menutup sambutan dengan pesan inspiratif. Ia mengatakan bahwa Lapas bukan tempat untuk mematikan harapan, tapi tempat untuk menyalakan kembali semangat hidup. Jika warga binaan dibina dengan baik, mereka bisa jadi orang yang berguna setelah bebas nanti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *