Ponpes Tahfidz MAJT-Baznas Gelar Haflah Ke-6, Lahirkan 30 Hafidz Juz Asal Brebes

Posted on

Perayaan Haflah ke-6 Imtihan Tahfidz di Ponpes Tahfidz Al-Qur’an MAJT–Baznas

Pada Senin, 14 Rabi’ul Akhir 1447 H atau bertepatan dengan 6 Oktober 2025 pagi, sebanyak 31 santri dari Ponpes Tahfidz Al-Qur’an MAJT–Baznas yang berlokasi di kompleks Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) Gayamsari, Semarang, mengikuti Haflah ke-6 Imtihan Tahfidz Semester I. Acara ini menjadi momen penting dalam rangka memperingati prestasi para santri yang berhasil menghafal Al-Qur’an.

Berikut rincian jumlah santri berdasarkan juz yang telah mereka hafal:
* 1 santri hafal 30 juz

1 santri hafal 25 juz

5 santri hafal 20 juz

4 santri hafal 15 juz

10 santri hafal 10 juz

* 6 santri hafal 5 juz

Acara tersebut turut dihadiri oleh beberapa tokoh penting seperti Ketua PP MAJT yang juga Ketua Baznas Pusat Prof. Dr. KH Noor Ahmad, MA, Ketua Baznas Jateng sekaligus Ketua Umum MUI Jateng Dr. KH Ahmad Darodji, Sekretaris PP MAJT Drs. Muhyiddin, MA, Direktur Ponpes Tahfidz Al-Qur’an MAJT–Baznas Dr. KH Muhammad Saifuddin, MA, serta sejumlah pengurus PP MAJT dan Baznas Kota/Kabupaten se-Jawa Tengah.

Dalam acara tersebut, selain penyerahan sertifikat sanad kepada santri penghafal 30 juz, juga dilakukan peluncuran website pondok pesantren dengan alamat pesantren.majt.or.id. Selain itu, pihak pesantren memberikan penghargaan kepada santri yang telah khatam 30 juz dan tiga santri berprestasi lainnya.

Baznas Jateng juga menyerahkan beasiswa pendidikan S1 senilai Rp64.540.000 secara simbolis oleh Ketua Baznas Jateng. Direktur Ponpes Tahfidz Al-Qur’an MAJT–Baznas, Dr. KH Muhammad Saifuddin, menyampaikan ucapan selamat kepada Adnan Baihaqi (27 tahun), santri asal Brebes yang telah menyelesaikan hafalan 30 juz. Adnan mulai mondok di pesantren ini sejak Januari 2023.

“Selamat. Pesan saya, hafalan harus terus dijaga, dideres, dan diamalkan,” kata Kiai Saifuddin.

Ia menegaskan bahwa Ponpes Tahfidz Al-Qur’an MAJT–Baznas memiliki kekhasan tersendiri dibanding pesantren tahfidz pada umumnya. Para santri yang telah hafal 30 juz harus benar-benar mutqin (kuat hafalannya), dengan bukti mampu menjadi imam salat tarawih selama sebulan penuh dengan membaca Al-Qur’an 30 juz, sebagaimana tradisi di MAJT.

Selain itu, para santri juga dibekali ilmu pengetahuan agama, dan ilmu pengetahuan umum seperti bahasa, jurnalistik, dan pengetahuan lainnya. Bahkan santri juga berkesempatan kuliah gratis.

“Pengetahuan agama Islam juga menjadi bahan penilaian. Dari hasil asesmen diagnostik, ternyata ada santri yang nilainya yang kurang. Ini akan kami dampingi agar bisa lebih baik,” ujarnya.

Pihak pesantren, lanjutnya, tidak serta-merta melepas para santri setelah menyelesaikan hafalan 30 juz. Bersama Baznas, pesantren tetap melakukan pemantauan dan pendampingan agar para alumni terus menjaga hafalannya.

“Kami mencari tahu di mana mereka berada dan apa kegiatannya. Apakah masih aktif mengaji atau tidak. Kami tidak ingin ada santri yang lupa hafalannya,” tegasnya.

Terkait peluncuran website, Kiai Saifuddin menjelaskan bahwa situs tersebut menjadi wahana informasi bagi santri, wali murid, pengelola pesantren, Baznas, dan masyarakat umum. Di dalamnya tersedia berita umum serta laporan perkembangan masing-masing santri, termasuk capaian juz, catatan pelanggaran, dan data lainnya.

“Website ini memudahkan orang tua dan Baznas memantau perkembangan santri dari rumah. Ada juga kanal chatting untuk berkomunikasi dengan admin. Namun, tidak semua konten bisa diakses publik karena dibagi menjadi tiga kategori: informasi publik, semi privat, dan privat,” paparnya.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Baznas Jateng serta Baznas kabupaten/kota se-Jawa Tengah atas dukungan yang konsisten terhadap keberlangsungan pesantren.

“Alhamdulillah, jumlah santri baru tahun ini meningkat. Tahun 2025 ada 16 santri, sementara tahun lalu hanya 10 santri. Kami berharap kabupaten dan kota yang belum mengirim santri bisa ikut berpartisipasi,” ujarnya.

Sementara itu, Prof. Dr. KH Noor Ahmad dalam tausiyahnya menyampaikan bahwa penghafal Al-Qur’an hingga 30 juz adalah orang-orang pilihan dan istimewa.

“Banyak yang berniat menghafal Al-Qur’an, namun tidak semua bisa menyelesaikannya. Banyak yang berhenti di tengah jalan. Alhamdulillah, hari ini ada santri yang sudah selesai 30 juz. Pesan saya, jaga hafalannya dan terus belajar,” katanya.

Prof. Noor Ahmad juga menjelaskan bahwa Al-Qur’an diwariskan kepada tiga golongan sebagaimana dijelaskan dalam Surat Fatir ayat 32: Pertama; Dzalimun linafsih – orang yang menzalimi diri sendiri karena lebih banyak dosa daripada kebaikan, meski tetap beriman. Kedua; Muqtashid – golongan pertengahan yang beriman, namun amal baik dan buruknya seimbang. Dan ketiga: Sabiqun bil khairat – golongan terbaik yang senantiasa berbuat kebajikan dan mengamalkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

“Semoga kita semua yang hadir di sini termasuk golongan ketiga,” ujar mantan Rektor Unwahas itu.

Ia menambahkan, MAJT akan terus mendukung program tahfidz. “Jika kamar santri kurang, akan kami tambah. Masih ada ruangan yang bisa dimanfaatkan,” ujarnya.

Ketua Baznas Jateng, Dr. KH Ahmad Darodji, dalam arahannya menyebut acara ini sebagai momen panen atau ngunduh hasil pembinaan santri.

“Hari ini kita menuai apa yang telah kita tanam, yakni santri yang sudah khatam 30 juz dengan sanad. Ini adalah santri kedua Ponpes MAJT–Baznas yang berhasil menuntaskan hafalannya,” ujarnya.

Menurutnya, para penghafal Al-Qur’an adalah orang-orang pilihan dan menjadi tangan-tangan Allah dalam menjaga kemurnian Al-Qur’an.

“Al-Qur’an di seluruh dunia itu sama. Jika ada yang sengaja membuat kesalahan, pasti akan diketahui oleh para huffadz,” katanya mencontohkan peristiwa tahun 1950 ketika kapal dari luar negeri membawa Al-Qur’an yang ternyata ada kesalahan penulisan, dan kesalahan itu langsung diketahui para penghafal.

Dr. Ahmad Darodji juga mengucapkan terima kasih kepada Baznas kabupaten/kota yang berpartisipasi mendukung program tahfidz ini.

“Program ini sesuai sasaran penerima zakat atau asnaf, yaitu fisabilillah. Jadi, jangan ragu untuk terus mendukung program ini,” pungkasnya.

Sementara, Adnan Baihaqi menuturkan bahwa keberhasilannya menyelesaikan hafalan 30 juz tidak lepas dari doa dan restu orang tua serta guru.

“Utamanya doa dari orang tua. Alhamdulillah, mereka mendukung dan terus mendoakan saya dari rumah,” ujar putra ketiga pasangan Bapak Saro’in dan Ibu Alfiah ini.

Adnan mulai belajar di Ponpes MAJT–Baznas pada Januari 2023 dan menuntaskan hafalan 30 juz pada Juni 2025 atau dalam waktu dua tahun enam bulan. Tiga bulan berikutnya ia manfaatkan untuk murojaah agar hafalannya semakin kuat, bisa membaca Al-Qur’an bil hifdzi dalam satu duduk.

“Saya masuk pesantren tanpa membawa hafalan. Keinginan untuk menghafal muncul setelah delapan tahun mondok di Pondok Kitab, di Denanyar Jombang. Setelah memahami makna ayat-ayatnya, barulah muncul keinginan kuat untuk menghafal,” ujar lulusan S1 Fakultas Ushuluddin dari salah satu perguruan tinggi swasta di Jawa Timur itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *