
Layanan untuk lansia kini semakin berkembang di berbagai wilayah Indonesia. Berbeda dengan panti jompo yang mengharuskan lansia tinggal di tempat tersebut, daycare lansia menawarkan alternatif yang lebih fleksibel. Lansia bisa datang pagi dan pulang sore hari, baik sendiri maupun dengan pendamping. Selain itu, layanan hunian jangka panjang seperti senior living juga semakin diminati. Layanan ini memberikan hunian mandiri untuk lansia, dilengkapi dengan berbagai kegiatan dan layanan premium.
Peningkatan jumlah lansia di Indonesia menjadi salah satu alasan munculnya layanan-layanan ini. Menurut data BPS dalam publikasi “Statistik Penduduk Lanjut Usia 2024”, persentase lansia meningkat hampir 4 persen dalam satu dekade terakhir (2015–2024). Pada 2045, diperkirakan jumlah lansia akan mencapai 65,82 juta orang atau sekitar 20,31 persen dari total penduduk. Hal ini menandai adanya penuaan populasi atau ageing population.
Namun, apakah pertumbuhan lansia sejalan dengan peningkatan fasilitas layanan yang memadai? Untuk menjawab hal ini, kami melakukan penelusuran mengenai layanan lansia di Jabodetabek.
Penelusuran Layanan Lansia di Jabodetabek
Ketua Asosiasi Senior Living Indonesia (ASLI) sekaligus Founder RUKUN Senior Living, Herman Kwik, menjelaskan bahwa asosiasi ini terdiri dari 30 anggota perusahaan yang menyediakan layanan di tujuh lini bisnis. Meskipun ASLI tidak memiliki daftar lengkap perusahaan penyedia layanan lansia, informasi tentang anggota dapat ditemukan di situs resmi mereka.
Tim PasarModern.com menggunakan kode pemrograman Python dan data dari API Google Maps untuk mencari sebaran panti jompo di Jabodetabek. Hasilnya, ada 106 layanan tinggal lansia yang tersebar di wilayah tersebut. Diantaranya, 36 panti jompo di DKI Jakarta, 22 di Kabupaten Bogor, 16 di Kota Tangerang, dan seterusnya. Mayoritas layanan adalah panti jompo yayasan, dengan 78 panti jompo, sementara sisanya adalah panti jompo swasta atau senior living serta panti jompo milik pemerintah.
Selain panti jompo, terdapat juga 6 daycare lansia swasta dan 8 rumah perawatan lansia swasta. Rumah perawatan lansia biasanya menangani keluhan kesehatan tertentu. Beberapa layanan swasta juga menyediakan layanan tambahan seperti jasa caregiver, perawatan di rumah, pelayanan kesehatan khusus lansia, dan terapi.
Kemunculan Bisnis Layanan Lansia Swasta
Bisnis layanan lansia semakin berkembang, dengan munculnya perusahaan-perusahaan swasta yang menawarkan layanan beragam. Tidak hanya panti jompo atau senior living, pengusaha mulai memperluas sayapnya ke layanan seperti daycare atau senior club, yang masih relatif baru di Indonesia. Layanan ini bersifat komersial dan bertujuan untuk memberikan layanan yang lebih fleksibel dan dinamis.
Herman menjelaskan perbedaan antara penyedia layanan lansia swasta komersial dengan yang dikelola oleh yayasan non-profit dan pemerintah. “Yayasan biasanya hidup dari sumbangan, sedangkan bisnis komersial fokus pada pelayanan dan kepuasan konsumen,” katanya. Perkembangan bisnis ini tidak terjadi secara tiba-tiba, tetapi sudah ada sejak lama dan kini sedang mengalami pertumbuhan.
Biaya Layanan Lansia
Untuk mengetahui biaya layanan lansia, tim PasarModern.com mengunjungi Senior Club Indonesia PIK dan RUKUN Senior Living di Kabupaten Bogor. Di Senior Club Indonesia PIK, biaya membership bervariasi tergantung kondisi lansia. Misalnya, biaya uang pendaftaran adalah Rp 5 juta, dan biaya bulanan sebesar Rp 4.850.000. Sementara itu, lansia dengan pendamping pribadi dikenakan biaya Rp 6,3 juta.
Di RUKUN Senior Living, biaya mulai dari Rp 21 juta hingga Rp 39 juta, tergantung kelas kamar. Ryan Tejo Kusumo, Head of Division RUKUN, menjelaskan bahwa biaya tinggi ini disebabkan oleh fasilitas dan layanan yang ditawarkan, termasuk teknologi, staff kompeten, dan layanan kesehatan.
Target Pasar dan Proyeksi
ASLI melihat potensi perkembangan bisnis ini di kota-kota besar seperti Surabaya, Medan, Pontianak, dan Bali. Herman memprediksi bahwa sektor ini akan berkembang dalam beberapa tahun ke depan. “Meski perkembangannya lambat, industri ini sudah menunjukkan tanda-tanda positif,” katanya.
Bisnis layanan lansia swasta biasanya menargetkan lansia atau keluarga dari kalangan menengah ke atas. Evi Christine Tambunan dari 247 Wulan Health & Care menyebutkan bahwa layanan ini belum bisa diakses semua kalangan. “Sebagian besar lansia belum bisa menikmati layanan yang memadai,” katanya.
Peluang dan Tantangan
Menurut Ryan dari RUKUN Senior Living, mayoritas pelanggan berasal dari Jakarta. “Kami menargetkan pasar ekonomi menengah ke atas,” ujarnya. Lenny Widjaja dari Senior Club Indonesia PIK menyebutkan bahwa 57% dari member berasal dari Jakarta Utara, sementara sisanya berasal dari berbagai wilayah Jakarta dan Tangerang.
Dengan pertumbuhan populasi lansia yang pesat, bisnis layanan lansia menjadi peluang besar bagi pengusaha dan investor. Namun, tantangan utama adalah membuat layanan yang terjangkau dan dapat diakses oleh seluruh kalangan.







