Hari Museum Nasional: Menjelajahi Enam Museum di Nusa Tenggara Timur
Hari Museum Nasional yang jatuh pada tanggal 12 Oktober menjadi momen penting untuk mengapresiasi peran museum dalam melestarikan warisan sejarah, budaya, dan peradaban manusia. Di Nusa Tenggara Timur (NTT), terdapat enam museum yang menyimpan berbagai benda-benda bersejarah yang menarik untuk dikunjungi. Berikut adalah daftar lengkapnya:
1. Museum Daerah Nusa Tenggara Timur (NTT)
Museum Daerah NTT didirikan pada tahun 1977/1978 dan ditetapkan sebagai Museum Negeri melalui Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia nomor 001/0/91 tanggal 9 Januari 1991. Setelah otonomi daerah diberlakukan, status museum berubah menjadi Museum Daerah NTT dan menjadi Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) yang bertanggung jawab kepada Pemerintah Daerah Provinsi NTT.
Koleksi museum ini mencakup benda-benda arkeologi, biologi, geologi, geografi, etnografi, historis, keramik, numismatik, heraldik, seni rupa, filologi, dan teknologi. Saat ini, museum memiliki lebih dari 7.400 koleksi, termasuk tenun, peninggalan zaman megalitikum, perang dunia, dan masa kolonialisme.
2. Museum Blikon Blewut
Museum Bikon Blewut terletak di Desa Takaplager, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka. Dengan jarak sekitar 9 kilometer dari Kota Maumere, museum ini bisa dicapai dalam waktu 20 menit menggunakan kendaraan. Museum ini merupakan satu-satunya museum terbesar di Pulau Flores dan menyimpan benda-benda peninggalan dari zaman Paleolitikum hingga alat seni-budaya zaman perunggu masyarakat Flores.
Di dalam museum terdapat fosil manusia purba Flores, alat kebudayaan dan kesenian Dongson, fosil gajah purba Flores, serta berbagai benda lainnya seperti mata uang kertas dan logam beberapa negara, porselen dari China, dan moko terbuat dari perunggu. Museum ini dibuka mulai pukul 09.00 WITA hingga 14.00 WITA, setiap pengunjung wajib mengisi buku tamu.
3. Museum 1000 Moko di Alor
Museum 1.000 Moko Alor terletak di pusat Kota Kalabahi, tepatnya di Jl. Diponegoro, Kecamatan Teluk Mutiara, Kabupaten Alor. Museum ini didirikan pada tahun 2022 dan menyimpan aneka koleksi berupa benda bersejarah seperti moko atau nekara yang digunakan sebagai mas kawin, tenun, keramik, perahu, topeng ritual adat, gerabah, belati, panah, klewang, dan baju adat lengkap dengan aksesorisnya.
4. Museum Daerah Dr. (H.C) Oemboe Hina Kapita
Museum Daerah Dr. (H.C) Oemboe Hina Kapita merupakan museum umum Daerah Sumba Timur. Museum ini diresmikan pada tahun 2007 oleh Ir. Umbu Mehang Kunda, Bupati Sumba Timur. Nama museum berasal dari tokoh Sumba, Dr. Oemboe Hina Kapita, yang menulis banyak buku mengenai Sumba.
5. Museum Bahari Ende
Museum Bahari Ende dibangun atas kerja sama antara misionaris Serikat Sabda Allah (SVD) dan Pemerintah Daerah Ende. Peletakan batu pertama dilakukan pada tanggal 9 Maret 1996, sedangkan peresmiannya dilaksanakan pada tanggal 14 Agustus 1996 oleh Bupati Ende, Frans Geo Davolo. Koleksi museum ini mencakup berbagai spesies binatang laut dan benda-benda laut lainnya.
6. Rumah Budaya Sumba
Rumah Budaya Sumba adalah museum khusus yang digunakan untuk memperkenalkan sejarah dan budaya Sumba. Fungsi rumah budaya ini sebagai museum sekaligus tempat wisata, penelitian, dan pertemuan. Koleksi-koleksi ini merupakan sumbangan dari Pater Robert Ramone dan setiap rumah adat Sumba. Rumah Budaya Sumba terletak di Jalan Rumah Budaya Nomor 212, Kalembu Nga’banga Waitabula, Kabupaten Sumba Barat Daya.
Sejarah Hari Museum Nasional
Hari Museum Nasional diperingati setiap tahun pada tanggal 12 Oktober. Perayaan ini dimulai dari pertemuan nasional Museum se-Indonesia di Kota Malang, Jawa Timur, pada 26-28 Mei 2015. Dalam pertemuan tersebut, dibahas isu-isu dan paradigma baru dalam dunia permuseuman. Pemilihan tanggal 12 Oktober berasal dari Musyawarah Museum se-Indonesia (MMI) yang pertama di Yogyakarta pada 1962.


