Pelajaran di Balik Pergi Tanpa Ucapan Perpisahan

Posted on



Kehidupan manusia penuh dengan perubahan. Seiring bertambahnya usia, lingkaran pertemanan dan kenalan kita semakin menyempit. Banyak orang mengatakan bahwa pada akhirnya, kita hanya akan memiliki pasangan dan mungkin anak-anak, jika beruntung. Dari pengalaman hidup saya sendiri, saya mulai memahami kebenaran dari pernyataan ini.

Selama hidup, ada orang-orang yang datang tanpa rencana dan pergi tanpa pemberitahuan. Tidak ada salam perpisahan, tidak ada pesan terakhir, bahkan tidak ada tanda bahwa hari itu adalah hari terakhir kita berbicara. Mereka menghilang begitu saja. Dalam dunia modern, kita lebih mengenalnya sebagai “lost contact”. Dari setiap pertemuan dan perpisahan, kita belajar bahwa tidak semua yang hilang harus disalahkan. Karena sebagian kehilangan memang ditakdirkan senyap.

Sekarang kita hidup di dunia yang sibuk, termasuk sibuk mencari makna dari setiap kepergian. Namun, semakin dipikirkan, semakin kita sadar bahwa tidak semua kepergian punya alasan yang bisa dan harus dijelaskan. Kadang seseorang pergi bukan karena benci atau marah. Mereka pergi karena peran mereka dalam cerita kehidupan kita sudah selesai. Ada bab-bab dalam hidup ini yang tak bisa dipaksakan untuk terus lanjut, dan ada peran yang cukup ditulis sampai di pertengahan halaman saja.

Dan di sanalah letak pelajaran hidup: bahwa hidup bukanlah tentang mempertahankan semua yang datang, tapi tentang belajar menerima bahwa sebagian hal yang kita temui di dunia ini, hanya sekedar mampir, mungkin untuk mengubah arah pandang atau cara kita melihat dunia.

Jika kita jujur, sebenarnya dari sudut pandang orang lain, mungkin kita juga sering menjadi “orang yang pergi tanpa perpisahan” itu. Mungkin itu terjadi tanpa kita sadari, saat kita meninggalkan tempat tinggal kita di masa kecil untuk ikut orang tua, resign dari tempat kerja yang lama, atau tiba-tiba harus mendadak pergi dari sebuah kota tempat dinas kita yang lama. Tanpa sadar, kita pergi begitu saja, tanpa sempat menengok ke belakang dan memperhatikan apa atau siapa yang sudah kita tinggalkan tanpa berpamitan.

Di zaman serba digital seperti sekarang, menghilang tanpa jejak jauh lebih mudah lagi. Cukup dengan mengganti nomor ponsel, mematikan semua akun media sosial, berhenti membalas pesan, atau sekadar mematikan fitur last seen di pengaturan media sosial kita.

Pada titik ini kita harusnya sadar, bahwa kepergian tidak selalu didasari oleh kebencian, tapi karena kita tahu bahwa tidak semua hal harus diperjuangkan selamanya. Ada masa di mana kepergian adalah bentuk pernyataan yang paling jujur, bahwa kita tak lagi bisa bertemu atau bersama-sama.

Menurut psikolog John Bowlby, manusia sejak kecil telah belajar membentuk sebuah attachment. Attachment ini biasanya berupa ikatan emosional yang membuat kita merasa nyaman dan aman jika kita dekat pada sesuatu atau seseorang. Karena itu, setiap kali kita harus menghadapi kepergian tanpa perpisahan, itu akan terasa sangat mengguncang. Bukan hanya kita akan kehilangan kehadiran seseorang, tapi juga kehilangan ‘rasa aman’ yang sudah terlanjut kita lekatkan padanya.

Itu sebabnya, sebenarnya banyak dari kita tidak benar-benar berduka karena orangnya, tapi karena sensasi hilang pegangan yang ditinggalkan. Kita tidak tahu harus menaruh perasaan aman itu di mana lagi. Dan di situlah yang sering kita sebut sebagai ‘perasaan yang kosong’ itu tumbuh. Sunyi, tapi begitu nyata.

Ada beberapa jenis perasaan kehilangan. Ada rasa kehilangan yang keras kepala, yang menolak disembuhkan oleh waktu. Perasaan jenis ini, setiap kali diberikan trigger, seringkali masih akan membuat dada terasa sakit. Namun ada juga kehilangan yang lembut, yang diam-diam berubah jadi kedewasaan. Kita tidak lagi menangis karenanya, tapi mengangguk kecil saat mengingatnya, seolah berkata, “Ya, aku pernah memiliki sesuatu yang indah, dan kini ia sudah selesai.”

Pada titik itu, kita sudah berhenti mencari “mengapa”, tidak lagi mengulang-ulang tiap detik kronologi, dan berhenti berharap akan sebuah klarifikasi. Sebab kita yang sudah di titik ini sadar bahwa sebagian dari kedamaian datang bukan dari jawaban yang gamblang, melainkan dari besarnya penerimaan. Bahwa tidak semua kehilangan harus dimengerti, cukup dirasakan, tapi tidak untuk selamanya. Dan tidak semua perpisahan harus diumumkan, tapi cukup disadari saja.

Dalam ilmu psikologi, ada sebuah konsep yang disebut closure. Konsep ini menjelaskan akan kebutuhan manusia untuk menutup sebuah ‘bab’ dalam hidupnya dengan tujuan agar ia bisa kembali melanjutkan hidup. Namun tentunya tidak semua pengalaman perpisahan memberi ruang untuk penutupan yang mudah semacam itu.

Tentunya ada kisah-kisah yang berhenti di tengah bab, meninggalkan kita menggantung di antara tanya dan ribuan kemungkinan. Tapi tidak menutup kemungkinan jika kedewasaan sejati justru muncul ketika kita mampu melanjutkan hidup tanpa proses closure apa pun.

Belajarlah menerima bahwa tidak semua hal harus selesai dengan rapi. Kadang diam juga bisa menjadi penutup yang paling jujur dan paling bisa membuat semuanya terlihat seolah baik-baik saja.

Waktu, dengan caranya yang misterius, selalu tahu cara menyingkirkan orang yang tak lagi sejalan dengan perjalanan kita. Bukan karena mereka jahat, tapi karena kita sedang diarahkan untuk berjalan di jalan yang berbeda. Kadang, kehilangan bukanlah kutukan. Sebenarnya ia hanya perubahan wujud dari kehadiran itu sendiri. Memang mereka tak lagi ada di depan mata, tapi bukankah kenangan dan jejak baiknya akan selalu menempel di hati kita? Jika memang orang itu baik untuk kita selama ini.

Seiring waktu dan kesibukan, kita mungkin tak lagi rajin bertegur sapa. Tapi sebagian dari mereka tetap hidup di kepala kita, dalam potongan-potongan kenangan kecil; mungkin dalam bentuk ingatan akan tawa khas mereka, lagu yang dulu mereka sering senandungkan, atau tempat-tempat yang dulu sering dia kunjungi. Dari ingatan-ingatan kecil itulah kita menghadirkan mereka selamanya dalam ingatan kita.

Kepergian tanpa perpisahan juga mengajarkan kita untuk bisa memutuskan kapan waktunya legowo, tidak lagi berharap dan tau kapan harus berhenti menunggu. Tidak semua kisah akan diakhiri dengan tanda titik; ada yang akhirnya selesai, tapi dengan jarak jeda yang panjang. Dan dalam jeda itu, kita menemukan sesuatu yang lebih penting daripada sebuah kepastian, yaitu ketenangan.

Merujuk pada teori ‘lima tahapan berduka’ yang dikemukakan seorang psikolog, Elisabeth Kübler-Ross, ia bilang manusia pasti akan melewati beberapa tahapan saat menghadapi kehilangan: penyangkalan, marah, tawar-menawar, sedih, lalu penerimaan. Tapi sayangnya, efek kehilangan tanpa perpisahan sering kali melompati semua tahapan-tahapan itu.

Kita tidak lagi punya waktu untuk menyangkal atau menawar; kita hanya tiba-tiba sadar bahwa sesuatu yang kita selalu temui sekarang sudah tidak ada lagi. Dan karena itu, proses penyembuhannya pun sunyi dan lebih banyak berlangsung di kepala daripada di pelukan. Barangkali di situlah seni dari bertumbuh, belajar berdamai dengan yang tak sempat dijelaskan.

Kita tak lagi berusaha memanggil mereja yang sudah tak ingin tinggal, kita tak lagi menulis pesan yang tak akan dibalas oleh mereka. Kita belajar bahwa menghormati keheningan juga bentuk cinta yang paling dewasa. Karena tak semua hubungan harus diakhiri dengan kalimat terakhir; beberapa cukup berhenti di kalimat yang masih tergantung. Seperti sebuah lagu yang vokalisnya berhenti tiba-tiba, tapi melodinya masih terasa.

Penutup

Yang menariknya lagi, kepergian tanpa perpisahan mengajarkan kita betapa berharganya sebuah “kata-kata terakhir”. Betapa seharusnya kita tidak menunda mengucapkan terima kasih, maaf, atau bahkan selamat tinggal. Karena kita tak pernah tahu kapan momen itu menjadi kesempatan terakhir yang takkan pernah terulang lagi. Kita terlalu sering mengira bahwa hidup akan memberi kita waktu yang lebih lama. Padahal, seringkali, waktu justru diam-diam mengambilnya tanpa peringatan.

Di balik setiap kepergian yang tanpa perpisahan itu, akan selalu ada ruang kosong yang sulit untuk dijelaskan. Namun ruang kosong itu perlahan akan menjadi tempat baru, tempat untuk tumbuh, untuk memahami diri sendiri, untuk memaklumi bahwa kehilangan adalah bagian alami dan wajar terjadi dari sebuah keberadaan. Kita tidak bisa menahan siapa pun selamanya, bahkan diri kita sendiri.

Jika nanti akhirnya ada sahabat yang mungkin pergi tanpa pamit, biarkan saja. Biar semesta yang menutup pintunya dengan lembut. Kita cukup duduk dan tersenyum, sesekali menunduk dan mengucapkan kalimat ini dalam hati: Terima kasih sudah sempat datang, meski hanya sebentar. Beberapa orang pergi tanpa pamit, bukan karena lupa, tapi karena memang tak ada kata yang cukup untuk menutup cerita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *