Kehidupan Sartika dalam Film Pangku yang Menggugah Perasaan
Film Pangku (2025), yang disutradarai oleh Reza Rahadian dan diproduksi oleh Gambar Gerak, rumah produksi miliknya bersama Arya Ibrahim, telah berhasil menciptakan pengalaman yang sangat mendalam bagi penonton. Tokoh utama film ini adalah Sartika (diperankan oleh Claresta Taufan), seorang perempuan dengan sifat kompleks dan kontradiktif. Ia menjadi simbol dari ketangguhan sekaligus kerentanan. Dalam film ini, kita diajak untuk merasakan perjalanan emosional yang intens dan memengaruhi.
Emosi yang Membeku Jiwa
Menonton film Pangku bukan sekadar menikmati tontonan biasa, tetapi lebih dari itu, ini adalah sebuah pengalaman yang menguras jiwa. Selama durasi film, semua emosi terasa hadir dan bergejolak. Mulai dari rasa sesak di dada hingga kesedihan yang menusuk, kemarahan atas ketidakadilan yang dialami Tika, hingga kekecewaan pahit ketika harapan-harapan tipisnya terpatahkan. Di akhir, hanya tersisa rasa lelah dan terkuras.
Bagi saya, intensitas emosi ini muncul karena saya melihat diri saya sendiri dalam sosok Tika. Perjuangan tanpa henti yang diselingi harapan palsu akan penyelamat adalah cerminan dari pergulatan pribadi yang dihadapi banyak perempuan dalam tekanan sosial.
Tika sebagai Cerminan Kondisi Perempuan
Kisah Tika tidak lagi sekadar fiksi, melainkan sebuah cermin yang jujur. Ini adalah gambaran nyata dari kondisi perempuan dalam masyarakat patriarki yang telah menginternalisasi narasi penyelamatan oleh laki-laki. Dalam kajian teori feminisme, dilema Tika ini relevan dibedah menggunakan kerangka yang dipopulerkan oleh Naomi Wolf dalam bukunya Fire with Fire (1993) yaitu tentang perdebatan antara Feminisme Korban dan Feminisme Kekuatan.
Perangkap Feminisme Korban
Feminisme Korban (Victim Feminism) adalah istilah yang digunakan untuk mengkritik perspektif yang cenderung terlalu menekankan penderitaan dan ketidakberdayaan perempuan. Hal ini seringkali terjadi bukan karena perempuan benar-benar tidak berdaya, melainkan karena sistem patriarki telah membatasi akses mereka ke sumber daya hingga membuat mereka merasa tidak mampu bertindak sebagai agen penuh.
Karakter Tika sangat sesuai dengan kondisi ini. Meskipun ia “berjuang,” perjuangan tersebut seolah terbatas pada bertahan hidup sambil menunggu intervensi eksternal. Harapan Tika pada “sosok pelindung laki-laki” adalah manifestasi jelas dari mentalitas korban. Menurut Wolf, ketika perempuan diberitahu bahwa mereka adalah korban, mereka secara implisit diberitahu bahwa kekuatan harus datang dari luar, bukan dari diri mereka sendiri.
Pencarian Tika terhadap Pelindung
Pencarian Tika terhadap pelindung menunjukkan internalisasi The Feminine Mystique (Friedan, 1963), di mana perempuan mencari pemenuhan atau keselamatan melalui ketergantungan pada pria. Ketergantungan ini membuat perjuangan Tika terasa ambigu. Ia berjuang untuk bertahan, tetapi ia menyerahkan kekuasaan untuk menyelesaikan masalahnya kepada figur maskulin.
Intervensi Sinematik dan Dekonstruksi Ilusi Pelindung
Bagian paling revolusioner dari film Pangku terletak pada penolakannya terhadap formula klise. Sutradara Reza Rahadian dan penulis skenario Felix K. Nesi secara sadar menghindari penyelesaian yang mudah. Pangku secara brutal menolak tropus penyelamatan yang kental dengan bias gender ini, yang secara historis dikritik oleh Teori Film Feminis (Mulvey, 1975), yang menentang representasi perempuan sebagai objek yang pasif dan harus diselamatkan.
Kesendirian Tika di akhir adalah pukulan keras yang disengaja. Ini adalah sebuah dekonstruksi naratif yang efektif. Kegagalan sosok pelindung laki-laki untuk muncul berfungsi sebagai kritik ganda. Pertama, kritik ini ditujukan terhadap Patriarki. Film ini menyoroti kegagalan institusi dan individu laki-laki untuk benar-benar melindungi perempuan. Kedua, ini adalah kritik tajam terhadap Feminisme Korban yakni ketiadaan pelindung memaksa Tika menghadapi realitas bahwa “obat” yang ia cari dari luar tidak pernah ada.
Potensi Kekuatan dari Kesendirian
Kesendirian Tika bukanlah akhir yang tragis, melainkan sebuah katalisator yang mendorongnya menuju Feminisme Kekuatan (Power Feminism). Feminisme Kekuatan menekankan bahwa perempuan harus “menggunakan apa yang sudah kita miliki” dan mengambil tanggung jawab atas kekuasaan pribadi dan politik mereka. Wolf berpendapat bahwa perempuan harus beralih dari posisi menuntut simpati menjadi posisi menuntut pengakuan atas kekuatan yang sudah mereka miliki.
Pada titik ini, Tika tidak lagi berjuang untuk bertahan hidup sambil menunggu orang lain, tetapi ia berjuang karena ia harus. Kesendiriannya adalah pengakuan keras bahwa keselamatan harus ia ciptakan sendiri. Perjuangan “tidak mengalah pada keadaan” Tika kini mendapatkan makna sejati, dilandasi kemandirian mutlak (self-reliance).
Ajakan untuk Berani Mandiri
Kisah Tika dalam Pangku adalah peringatan keras bagi kita semua. Film arahan Reza Rahadian ini mendidik penonton perempuan untuk memecahkan cermin Fantasi Pangeran Penyelamat. Resonansi emosi yang kuat, dari sesak hingga terkuras. Hal ini menandakan bahwa narasi Tika ini adalah kenyataan kolektif.
Perjuangan perempuan tidak akan pernah selesai jika ia masih disandera oleh harapan eksternal yang ilusional. Kesendirian Tika adalah pesan yang lugas dan tak terhindarkan, maka sudah saatnya kita merebut agensi kita sepenuhnya. Mari kita tinggalkan mentalitas korban dan sadari bahwa perjuangan yang paling valid dan berdaya adalah perjuangan yang dilakukan dengan kaki sendiri, tanpa menunggu uluran tangan.
Tika dalam dunia nyata sungguh benar-benar ada. Mereka adalah ibu tunggal yang bekerja keras, pekerja profesional yang berjuang melawan diskriminasi, atau perempuan mana pun yang bangkit dari keterpurukan tanpa bantuan pahlawan. Mereka kuat. Kekuatan mereka bukan ditemukan, melainkan diciptakan dari ketiadaan bantuan. Tika kini dipaksa untuk menjadi pahlawan bagi dirinya sendiri. Dan itu, bagi feminisme, adalah akhir yang paling jujur, paling kuat, dan paling nyata.


