Opini: Jalan NTT Menuju Masyarakat Pembelajar

Posted on

Literasi di NTT: Perjuangan dan Harapan Masa Depan

Di setiap pagi yang menyingsing di tanah Timor, Sumba, Flores, dan Lembata, suara anak-anak berlarian di jalan setapak menuju sekolah terdengar seperti musik harapan. Namun, di balik tawa mereka, tersimpan paradoks yang mengkhawatirkan: provinsi dengan semangat belajar tinggi masih menghadapi tantangan rendahnya budaya literasi.

Keterbatasan akses buku, listrik, dan internet menjadi hambatan besar dalam membangun masyarakat pembelajar sejati. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 menunjukkan bahwa rata-rata lama sekolah masyarakat NTT hanya mencapai 8,02 tahun, atau setara dengan kelas dua SMP. Angka ini meningkat dibandingkan 2019 (7,8 tahun), tetapi masih jauh di bawah rata-rata nasional 9,1 tahun. Artinya, banyak anak di NTT belum sempat menyelesaikan pendidikan menengah.

Literasi tidak hanya tentang membaca teks, tetapi juga membaca dunia di sekitar kita. Ketika pendidikan formal berhenti di tengah jalan, literasi menjadi alat bertahan hidup—kemampuan memahami informasi, menafsirkan realitas, dan mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari. Hasil survei Indeks Aktivitas Literasi Membaca (IALM) tahun 2024 menempatkan NTT di peringkat ke-12 nasional, dengan skor 67,81 dari 100. Angka ini adalah cermin dari jarak antara sekolah formal dan budaya membaca di rumah.

Tantangan Geografis dan Kemiskinan

Geografis NTT yang tersebar di lebih dari 500 pulau membuat distribusi buku, guru, dan fasilitas belajar menjadi tantangan logistik yang luar biasa. Di beberapa desa di Flores Timur atau Alor, siswa harus berjalan dua jam hanya untuk sampai ke sekolah. Kondisi ini memperlihatkan bahwa literasi bukan hanya isu pendidikan, tetapi juga persoalan infrasiruktur, pemerataan, dan keadilan sosial bagi warga di pulau-pulau kecil.

Kemiskinan juga berperan besar. Data BPS 2024 mencatat tingkat kemiskinan NTT mencapai 19,29 persen, tertinggi ketiga di Indonesia. Di banyak keluarga, prioritas bukan membeli buku, tetapi memastikan nasi di meja. Literasi menjadi korban dari kebutuhan dasar. Anak-anak pun sering kali berhenti sekolah lebih awal untuk membantu orang tua di ladang atau laut. Dalam situasi seperti ini, membaca dianggap tidak produktif secara ekonomi, padahal justru literasilah yang bisa memutus rantai kemiskinan antargenerasi jika dibangun dengan kesadaran dan dukungan berkelanjutan.

Gerakan Literasi Akar Rumput

Meski begitu, di tengah keterbatasan itu, tumbuh benih harapan dari bawah dari masyarakat sendiri. Gerakan literasi akar rumput muncul seperti mata air di tengah tandus. Salah satunya adalah Komunitas Lakoat Kujawas di Molulo, Kabupaten Timor Tengah Selatan. Dengan ruang baca sederhana, komunitas ini menghidupkan budaya membaca lewat cerita rakyat, teater, dan penerbitan buku lokal. Mereka tidak hanya mengajarkan anak-anak membaca, tapi juga menulis kisah tentang kampung mereka sendiri.

Di Atambua, Taman Bacaan Masyarakat Akar Cinta berdiri di halaman rumah sederhana. Setiap sore, puluhan anak datang membaca buku sumbangan dan belajar menulis puisi. Pendiri taman baca itu, seorang guru honorer bernama Maria, mengatakan dengan senyum, “Kalau mereka bisa membaca, mereka bisa bermimpi. Dan kalau bisa bermimpi, mereka bisa keluar dari kemiskinan.” Kalimat sederhana itu adalah manifesto literasi sejati. Ia membuktikan bahwa perubahan besar sering dimulai dari hati yang kecil dari orang-orang yang tidak menunggu kebijakan, tetapi menciptakan perubahan dari lingkungannya sendiri.

Kolaborasi untuk Masa Depan

Kisah serupa juga datang dari Sumba. Di sana, Rumah Baca Prailiu menggabungkan tradisi lokal dengan literasi modern. Anak-anak membaca buku cerita dalam bahasa Indonesia, lalu mendengarkan kembali versi lokalnya dalam bahasa Sumba. Ini bukan sekadar translasi bahasa, tapi jembatan budaya—agar literasi tidak terasa asing bagi anak desa.

Gerakan seperti ini membuktikan bahwa literasi tidak selalu harus dimulai dari gedung tinggi atau proyek besar. Ia bisa tumbuh dari rumah, dari halaman gereja, dari bale-bale bambu di bawah pohon asam. Arah rumputlah yang menjaga nyala api belajar di NTT, saat sistem formal masih sibuk dengan laporan dan program tahunan.

Pemerintah telah meluncurkan berbagai program seperti Gerakan Literasi Sekolah (GLS) dan Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial. Tetapi di banyak tempat di NTT, implementasinya masih setengah hati. Buku datang tanpa panduan, perpustakaan dibangun tanpa pustakawan, dan pelatihan guru kadang berhenti di seminar. Literasi tidak bisa tumbuh di atas formalitas; ia butuh ekosistem yang berdenyut yang menyatukan keluarga, sekolah, dan komunitas dalam satu semangat belajar.

Literasi sebagai Bentuk Ibadah Sosial

Selain itu, kolaborasi dengan universitas dan sekolah-sekolah perlu diperkuat. Mahasiswa bisa menjadi agen literasi di desa-desa melalui program KKN tematik “Literasi untuk Kehidupan”. Dengan cara ini, kampus tidak hanya menjadi menara gading, tapi turut membangun ekosistem pengetahuan yang berakar pada masyarakat.

Gereja, masjid, dan lembaga adat juga punya peran penting. Di banyak daerah di NTT, tempat-tempat ini adalah pusat kehidupan sosial. Bayangkan jika setiap khotbah, doa, atau upacara adat juga menjadi ruang untuk menumbuhkan kesadaran membaca dan menulis. Literasi bisa tumbuh seiring doa dan tradisi menjadi gerakan spiritual dan kultural sekaligus.

Di titik inilah, literasi tidak lagi sekadar aktivitas intelektual, melainkan bentuk ibadah sosial untuk memuliakan martabat manusia melalui pengetahuan.

Kesimpulan

Pada akhirnya, membangun budaya baca di NTT bukan semata soal buku, tetapi tentang memulihkan martabat manusia. Literasi adalah jembatan dari keterbatasan menuju kebebasan berpikir, dari kemiskinan menuju kemandirian. Saat masyarakat belajar membaca dunianya, mereka juga sedang belajar menulis masa depannya sendiri. Sebab masyarakat yang literat bukan hanya mereka yang cerdas membaca huruf, tetapi juga peka membaca realitas, dan berani menuliskan perubahan.

Di jalan panjang menuju masyarakat pembelajar, NTT mungkin berjalan lebih lambat, tapi langkahnya pasti. Dari Molulo ke Maumere, dari Sumba ke Soe, nyala kecil itu terus menyala. Dan selama masih ada satu anak yang membaca dengan semangat di bawah cahaya pelita, kita tahu bahwa masa depan NTT masih ditulis dengan tinta harapan. Karena literasi bukan sekadar kemampuan, melainkan bentuk perlawanan terhadap keterbelakangan sebuah ikrar bahwa ilmu pengetahuan akan selalu menjadi cahaya yang tak padam di ufuk Timur Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *