PasarModern.com,
GYEONGJU – Presiden Prabowo Subianto berhasil membawa ‘oleh-oleh’ berupa komitmen investasi hingga kerja sama di sektor strategis usai lawatannya ke Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) APEC 2025 yang digelar di Gyeongju, Korea Selatan.
Udara dingin akhir Oktober menyelimuti Hwabaek International Convention Centre (HICO), Gyeongju. Di antara kabut pagi dan derap langkah delegasi dari 21 ekonomi anggota APEC, satu pemandangan mencuri perhatian Presiden Ke-8 RI itu berjalan mantap menuju ruang pertemuan utama, mengenakan jas hitam sederhana dengan pin merah putih di dada.
Di podium, Prabowo tak hanya menyapa “Annyeongghaseo” saat bertemu Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung, tetapi turut menyuarakan pesan yang menembus dinginnya udara Korea bahwa Asia Pasifik harus kembali membangun kepercayaan dan solidaritas di tengah ketidakpastian global.
“Kita bertemu hari ini di tengah ketegangan dan meningkatnya ketidakpercayaan yang membahayakan stabilitas ekonomi global. Namun, saya percaya Asia Pasifik tidak boleh menerima perpecahan sebagai takdirnya. Kita harus bangkit dari kecurigaan dan ketakutan, dan membangun kembali kepercayaan di antara kita,” tegas Prabowo di hadapan para pemimpin APEC, Jumat (31/10/2025).
Seruan itu bukan sekadar retorika diplomasi. Di baliknya, terselip agenda ekonomi strategis Indonesia yang tengah bertransformasi dari eksportir bahan mentah menjadi pemain utama dalam rantai pasok industri global, terutama melalui hilirisasi sumber daya alam, digitalisasi ekonomi, dan energi hijau. Dan dari perhelatan APEC di Gyeongju ini, Kepala negara berhasil membawa pulang sesuatu yang lebih konkret yakni komitmen investasi besar dari perusahaan-perusahaan Korea Selatan di sektor kimia, baja, dan kendaraan listrik.
Dari Forum Global ke Meja Negosiasi
Bagi tim ekonomi Indonesia, KTT APEC 2025 bukan sekadar ajang foto bersama. Di balik pintu-pintu rapat bilateral dan ruang diskusi di Hotel Lahan Select Gyeongju, berlangsung serangkaian negosiasi yang melibatkan para pemain besar industri Korea mulai dari Lotte Chemical, EcoPro, Posco, hingga Hyundai Motor Group.
Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani mengisahkan kesibukan hari itu. Usai sela-sela mendampingi Presiden Prabowo bertemu Perdana Menteri Selandia Baru Christopher Luxon, dia bergegas menuju pertemuan dengan sejumlah raksasa industri Korea. Salah satunya, EcoPro, perusahaan yang terkenal sebagai produsen material katoda untuk baterai lithium-ion dan prekursornya.
Menurutnya, investasi ini bukan sekadar angka. Dia merupakan bagian dari agenda besar hilirisasi dan penguatan rantai pasok kendaraan listrik (EV) yang menjadi prioritas nasional. EcoPro, misalnya, berfokus pada produksi baterai EV, sementara Lotte membangun kompleks petrokimia berteknologi tinggi di Cilegon, Banten.
“EcoPro juga investasinya US$2 miliar untuk ekspansi yang baru. Saya bertemu chairman-nya kemarin di Seoul, dan mereka juga mengajak Danantara masuk ke dalam kepemilikan. Ini akan saya tindak lanjuti,” tutur Rosan.
Selain itu, proyek New Ethylene Project (LINE Project) milik Lotte Chemical Indonesia menjadi salah satu “bintang” dalam rangkaian KTT APEC kali ini. Nilai investasinya mencapai US$3,9 miliar (sekitar Rp62 triliun), menjadikannya salah satu investasi petrokimia terbesar di Asia Tenggara.
Dampaknya di dalam negeri akan terasa luas. Produksi petrokimia dari pabrik ini akan mengurangi ketergantungan impor, menurunkan biaya bahan baku industri, dan membuka ribuan lapangan kerja baru. Pemerintah pun memperkirakan pabrik ini dapat menyerap lebih dari 13.000 tenaga kerja langsung dan tidak langsung, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok petrokimia global.
Menariknya, investasi Lotte kali ini juga membuka jalan bagi Danantara — lembaga pembiayaan strategis milik negara (sovereign wealth fund) — untuk ikut serta sebagai pemegang saham minoritas yang terkonfirmasi adanya penawaran kepemilikan 35% bagi Danantara di proyek Lotte Chemical Cilegon.
“Mereka menawarkan 35%, tapi kita sedang kaji. Nilai ekuitas total sekitar US$1,7 miliar. Proyek ini sudah berjalan dan risikonya lebih terukur,” jelas Rosan.
Di sisi lain, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, yang mendampingi Prabowo selama kunjungan, menuturkan bahwa proyek tersebut telah mencapai tahap akhir konstruksi dan akan diresmikan pada 6 November 2025. Menurut Airlangga, peran Danantara amat krusial. Lembaga ini menjadi jembatan antara pemerintah dan investor global, memastikan proyek-proyek besar tidak hanya bergantung pada pembiayaan asing, tetapi juga memiliki kontrol strategis nasional.
“Danantara punya peran penting sebagai fasilitator investasi jangka panjang di sektor prioritas seperti petrokimia, energi, dan infrastruktur berteknologi tinggi,” ujarnya.
Hyundai dan Cita-Cita Mobil Nasional
Selain Lotte dan EcoPro, salah satu pertemuan yang paling menarik perhatian adalah antara Airlangga Hartarto dan President of Hyundai Motor Group Amb. Sung Kim. Keduanya membahas topik yang sarat makna bagi masa depan industri otomotif Indonesia yakni mobil nasional berbasis energi bersih.
“[Peluang investasi mobil nasional] itu nanti akan dibahas, tetapi mereka siap dengan modal tertentu dan itu perlu pembahasan lebih detail. Yang namanya kendaraan ini kan ada desainnya, ada basisnya, tetapi basis yang dibahas berbasis EV,” ujar Airlangga.
Hyundai bukan pemain sembarangan. Sebagai produsen mobil terbesar ketiga di dunia, perusahaan asal Korea Selatan itu telah menguasai pasar kendaraan listrik dan hidrogen secara global. Kolaborasi ini diharapkan tak sekadar membangun pabrik, tetapi juga transfer teknologi, riset bersama, hingga pengembangan SDM Indonesia di bidang teknologi otomotif masa depan.
“Kami melihat peluang besar untuk kolaborasi dalam pengembangan kendaraan berbasis hidrogen dan energi bersih lainnya,” kata Airlangga.
EcoPro dan Posco: Dua Raksasa di Hilirisasi Logam
Selain sektor kimia, dua raksasa industri lain asal Korea, EcoPro dan Posco, juga menjadi bagian penting dari “oleh-oleh investasi” Prabowo kali ini. EcoPro, perusahaan besar di industri baterai EV, berencana memperluas investasinya di Indonesia hingga US$2 miliar. Sementara Posco, mitra lama Krakatau Steel, tengah menyiapkan proyek perluasan kapasitas baja hingga 10 juta ton per tahun.
Langkah ini sejalan dengan agenda besar hilirisasi logam dan mineral kritis yang menjadi prioritas pemerintahan Prabowo. Indonesia tak lagi sekadar pengekspor nikel atau bijih besi, tetapi akan naik kelas menjadi produsen komponen industri otomotif, energi terbarukan, dan baterai global.
APEC dan Agenda Perdagangan Baru
Di sela-sela kesibukan membangun kemitraan investasi, delegasi Indonesia juga menyiapkan langkah strategis dalam arena perdagangan internasional. Menko Airlangga memastikan negosiasi penurunan tarif dagang dengan Amerika Serikat akan dilanjutkan segera setelah APEC 2025.
“Negosiasi dengan Amerika kita akan lanjutkan sesudah APEC ini. Komoditas yang di-nol-kan hampir sama dengan Malaysia, yaitu yang tidak bisa diproduksi Amerika Serikat seperti sawit, kakao, karet, dan lainnya,” ujar Airlangga di sela pertemuan.
Khusus untuk sektor mineral kritis, Indonesia menekankan pentingnya integrasi dalam rantai pasok global dan mengusulkan pembentukan industrial communities sebagai wadah kolaborasi antarnegara produsen dan konsumen mineral strategis. Menurutnya, pembahasan juga mencakup sektor logam tanah jarang (rare earth elements) dan mineral kritis (critical minerals), yang kini menjadi fokus kerja sama baru antara kedua negara.
“Critical mineral pembahasan sendiri, terkait dengan supply chain, dan dalam joint statement kita sebutnya sebagai industrial communities,” ungkapnya.
Prabowo: Ekonomi Bergerak di Dunia yang Tenang
Kunjungan Prabowo ke Korea Selatan untuk menghadiri KTT APEC 2025 menandai gaya baru diplomasi ekonomi Indonesia. Berbeda dari kunjungan formal yang kaku, rombongan kali ini terlihat lebih dinamis, penuh agenda konkret, dan berorientasi hasil. Di setiap pertemuan, Prabowo menegaskan pentingnya ketenangan, kepercayaan, keadilan, dan inklusivitas dalam membangun kerja sama antarnegara.
Bagi Prabowo, diplomasi ekonomi bukan sekadar transaksi, tetapi strategi membangun masa depan yang berdaulat dan berkeadilan.
“Pertumbuhan yang eksklusif adalah pertumbuhan yang memecah belah. Perpecahan menyebabkan ketidakstabilan, dan ketidakstabilan tidak akan kondusif bagi perdamaian dan kesejahteraan. Oleh karena itu, inklusivitas seharusnya menjadi panduan kita,” tandas Prabowo.
Dari Gyeongju yang dingin, Presiden Prabowo membawa pulang kehangatan diplomasi dan secercah masa depan industri nasional yang lebih mandiri. Mulai dari investasi petrokimia hingga kendaraan listrik, dari baterai hingga baja hijau semuanya mengarah pada satu visi besar Indonesia yang berdiri tegak di panggung ekonomi dunia.


