Perjuangan Yai Mim: Dari Pengajar Hingga Difitnah
Yai Mim, mantan dosen Filsafat UIN Malang, mengalami krisis besar setelah di tuduh melakukan pelecehan seksual oleh tetangganya sendiri, Nurul Sahara. Kekacauan ini terjadi dalam sekejap dan membuat reputasinya hancur. Dari seorang pengajar, hafiz, hingga pengasuh pondok pesantren, ia tiba-tiba disebut sebagai “dosen cabul”.
Tuduhan itu menyebar dengan cepat dan memengaruhi kehidupannya secara langsung. Yai Mim mengaku kehilangan murid, dijauhi mahasiswa, bahkan harus meninggalkan rumahnya dan tinggal berpindah-pindah hotel demi menjaga diri dan mentalnya.
Menurut Yai Mim, tuduhan yang dilontarkan oleh Sahara adalah bohong dan fitnah. Perseteruan antara mereka dimulai ketika Sahara memarkir mobil rental di depan pagar rumah Yai Mim, sehingga menyulitkannya untuk keluar. Ia membantah semua tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa dirinya adalah seorang hafiz yang hafal Al Quran.
“Saya itu penghafal Al Quran. Saya tidak mungkin melakukan maksiat. Kalau saya melakukan maksiat hilang Al Quran saya,” ujar Yai Mim.
Tangis Yai Mim pecah saat ia memikirkan nasib para santri dan mahasiswanya setelah difitnah. Ia memiliki santri dari Aceh sampai Papua, dan merasa khawatir bagaimana perasaan mereka jika kyainya dicap cabul. Ia juga menceritakan dampak besar dari fitnah tersebut, termasuk ketidakhadiran mahasiswa di kelas dan penolakan dari orang tua siswa.
Melihat Yai Mim menangis, istri Yai Mim, Rosida Vignezvari, mencoba menenangkan suaminya dengan mengelus punggung. Saat ini, Yai Mim masih enggan pulang ke rumahnya di Malang. Ia memilih untuk menginap di hotel di Jakarta.
“Ini saya enggak mau pulang ke Malang, saya di Jakarta pindah dari hotel ke hotel, ingin apa? Ingin menghibur diri, sebenarnya uangnya enggak ada,” ujar Yai Mim.
Sebelumnya, dalam podcast YouTube Dedi Mulyadi, Sahara mengaku 4 kali mendapatkan tindakan dugaan pelecehan seksual dari Yai Mim. Ia menggambarkan situasi-situasi yang menurutnya menunjukkan perilaku tidak pantas dari Yai Mim.
Yai Mim ternyata memiliki latar belakang keluarga yang sekarang menjadi tokoh-tokoh terkenal di Jawa Timur. Mantan dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang itu ternyata merupakan saudara dari pendakwah kondang asal Blitar, yakni Muhammad Iqdam Kholid alias Gus Iqdam. Tidak hanya itu, Yai Mim juga masih bersaudara dengan kyai senior di Nahdlatul Ulama (NU) yaitu KH Marzuki Mustamar.
Hal itu Yai Mim ungkapkan saat bertemu dengan Gubernur Jawa Barat (Jabar), Dedi Mulyadi. Ia mengaku juga berasal dari Blitar, Jawa Timur. “Saya itu saudaranya Kyai Marzuki, Gus Iqdam, itu masih saudara dengan saya,” kata Yai Mim.
Yai Mim sendiri juga pernah mengaku sebagai keturunan keenam dari dua anggota Wali Songo, yaitu Sunan Ampel dan Sunan Bonang. Ia merupakan anak dari pasangan H. Achmad Mochammad Mardi Hasan Karyantono dan Hj. Siti Katmiyati. Kepada Dedi Mulyadi, Yai Mim juga mengaku, dirinya memiliki pondok pesantren bernama Pondok Pesantren Al Adzkiya’ Nurus Shafa (Anshofa).
Di sisi lain, Yai Mim mendapatkan pujian dari Dedi Mulyadi saat menjelaskan tafsir musyarokah. Yai Mim mengaitkan konsep musyarokah dengan konsep hidup berdampingan bersama alam. Ia menilai istilah musyrik sering dipahami dengan negatif. Padahal, kata itu bisa dimaknai sebagai kebersamaan atau kerja sama dalam menjaga ciptaan sang pencipta, Allah SWT.
“Kang Dedi, itu ajarannya kan itu yang musyrik-musyrik lah. Saya justru kalau ada pohon besar, orang-orang tak ajak musyrik dulu untuk apa? Untuk musyarokah, itu artinya kerja sama,” ujarnya.
Dedi menyebut istilah musyarokah bisa dimaknai seakar dengan diksi ‘masyarakat’ bermakna kebersamaan dalam komunitas. “Betapa kita hidup dalam komunitas manusia dan komunitas alam, baik yang kasat mata maupun tidak kasat mata. Duh pagi-pagi malah kuliah shorof dan ma’ani,” pungkasnya.


