Perubahan yang Membawa Mal-Mal Lawas ke Titik Tenggelam
Dulu, mal-mal di Jakarta, Depok, dan Bekasi menjadi pusat aktivitas masyarakat perkotaan. Mulai dari mencari perangkat elektronik terbaru, nongkrong setelah sekolah, hingga berburu diskon menjelang Lebaran. Namun kini, banyak mal-mal legendaris seperti Roxy Square, Ratu Plaza, dan Grand Mall Bekasi justru sepi pengunjung bahkan tutup. Suasana yang dulu ramai kini berubah menjadi lorong-lorong sepi dengan papan bertuliskan “Dijual” di beberapa sudut toko.
Perubahan ini bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga menggambarkan pergeseran gaya hidup masyarakat. Dari budaya jalan-jalan di mal ke layar ponsel, serta dari transaksi tatap muka ke belanja daring.
Roxy Square: Dari Gemerlap Elektronik ke Lampu Redup
Roxy Square, yang dulu menjadi tempat para pemburu ponsel, kini tampak memprihatinkan. Banyak konter handphone telah tutup. Spanduk “Dijual” menempel di dinding, dan lampu-lampu di lantai satu redup berkedip, memberi kesan bangunan yang kehilangan napas.
Candra, pedagang aksesori yang masih bertahan, mengatakan bahwa sebagian besar rekan seprofesinya telah pindah ke ITC Roxy Mas. Ia tidak membuka toko online, tetapi ia menyadari bahwa minat orang-orang sudah beralih ke belanja praktis.
Di lantai dua, suasana tak jauh berbeda. Eskalator tidak lagi berfungsi, kios aksesoris tersisa hanya beberapa, dan satu-satunya area yang masih hidup hanyalah pusat kebugaran.
Ratu Plaza: Bertahan di Tengah Sepinya Jalan Sudirman
Di tengah hiruk-pikuk Jalan Jenderal Sudirman, Ratu Plaza kini ibarat gedung megah yang kehilangan pengunjung. Lantai demi lantai diisi toko-toko yang tutup, sebagian bahkan digembok permanen.
Toni, karyawan toko elektronik, mengatakan masa sulit dimulai sejak pandemi. Menurutnya, penjual yang bertahan hanyalah mereka yang punya pelanggan tetap. Pengunjung seperti Rani merasa suasana Ratu Plaza sudah tertinggal zaman dan berharap adanya renovasi untuk membuatnya lebih modern.
Koja Trade Mal dan PTC: Bertahan di Tengah Ketidakpastian
Kondisi serupa terjadi di Koja Trade Mal, Jakarta Utara. Deretan toko tertutup rapat, sebagian bahkan menempelkan pengumuman “disewakan”. Yora, pedagang tas di Koja Trade Mal, mengatakan bahwa sejak habis Covid-19, kondisi semakin sepi. Omzetnya turun drastis, sehingga ia kesulitan membayar sewa kios.
Di sisi timur Jakarta, Pulogadung Trade Center (PTC) juga bernasib sama. Okto, salah satu pedagang, mengaku dalam sehari sering kali tidak mendapat pembeli. Menurutnya, masyarakat kini lebih memilih belanja online karena praktis.
Grand Paragon: Hidup Segan, Mati Tak Juga
Grand Paragon Mall kini lebih mirip gedung hotel daripada pusat belanja. Hanya area supermarket Grand Lucky di lantai dasar yang masih ramai. Lantai atas sunyi, toko-toko ditutup permanen. Pengunjung seperti Jafri datang hanya untuk belanja kebutuhan rumah tangga.
Detos: Bertahan dengan Harapan
Nasib lebih baik sedikit terlihat di Depok Town Square (Detos). Meski tidak seramai dulu, sebagian pedagang memilih bertahan. Rifa, pedagang aksesori di Detos, mengatakan bahwa usahanya mulai stabil, meskipun tidak terlalu ramai. Ia berharap manajemen melakukan strategi agar pengunjung kembali datang.
Dua Mal Legendaris Bekasi Tutup Selamanya
Di Bekasi, dua mal legendaris, Borobudur Plaza dan Grand Mall Bekasi, resmi berhenti beroperasi. Borobudur Plaza, yang berdiri sejak 1993, kini hanya buka musiman saat Lebaran. Gedungnya terbengkalai, parkiran ditumbuhi rumput, dan dinding mulai retak.
Mal Harus Bertransformasi
Menurut Alphonzus Widjaja, Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), fenomena ini wajar jika mal tidak mampu beradaptasi dengan perubahan gaya hidup masyarakat. Ia menegaskan, hanya mal yang mampu menambah fungsi baru, seperti ruang komunitas, tempat kuliner, hingga coworking space yang bisa bertahan.
Matinya mal-mal lawas bukan sekadar persoalan bisnis, melainkan simbol perubahan budaya kota. Dari Roxy hingga Borobudur Plaza, kisahnya serupa, yakni ruang yang dulu jadi pusat interaksi kini digantikan notifikasi dari aplikasi e-commerce.
Di tengah dunia yang makin digital, keberlangsungan mal bergantung pada kemampuannya membaca ulang makna “berbelanja” bahwa bukan lagi soal transaksi, melainkan pengalaman sosial.


