Ringkasan Peristiwa yang Menggemparkan
Sebuah kejadian yang memilukan terjadi di Rumah Sakit Hastien, Rengasdengklok, Karawang. Seorang pasien, Mursiti (62), meninggal dunia setelah menjalani operasi dengan kondisi luka yang tidak sesuai harapan. Video yang menunjukkan jenazah korban dengan kasa panjang di bagian bawah perut membuat warga dan masyarakat luas heboh. Kejadian ini memicu banyak pertanyaan tentang prosedur medis yang dilakukan oleh rumah sakit tersebut.
Kronologi Kecelakaan Medis
Mursiti awalnya hanya mengeluh sakit akibat bisul di area pantat. Ia dibawa ke Rumah Sakit Hastien pada 6 Oktober 2025 dan menjalani pemeriksaan di Unit Gawat Darurat (UGD). Pada hari berikutnya, yaitu 7 Oktober 2025, ia menjalani operasi sekitar pukul 09.00 WIB. Setelah satu hari perawatan, Rabu 8 Oktober 2025, pasien diperbolehkan pulang ke rumah. Namun, kondisi Mursiti justru memburuk dan ia meninggal dunia pada Sabtu dini hari 11 Oktober 2025.
Keluarga korban mengungkapkan kekagetan saat mengganti popok korban, mereka menemukan luka di bawah perut yang terbuka dan berisi kasa panjang. Menurut adik korban, Acih Sukarsih, luka tersebut tidak dijahit, hanya disumpal kapas. Ini menjadi pertanyaan besar tentang tindakan medis yang dilakukan.
Penjelasan dari Rumah Sakit
Manajer Pelayanan Medis RS Hastien, dr. Fahri Trisnaryan, menjelaskan bahwa pasien datang dengan keluhan nyeri dan bengkak di area bokong serta perut bawah, disertai demam. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya infeksi luas dengan nanah yang menyebar ke rongga perut. Operasi dilakukan untuk evakuasi nanah dan pembersihan luka (debridement) dengan irigasi antiseptik. Luka tidak dijahit rapat karena masih memerlukan drainase agar nanah tidak menumpuk. Kasa dipasang sebagai bagian dari prosedur medis, bukan kelalaian.
Selama perawatan, pasien mendapat terapi antibiotik, kontrol gula darah, dan perawatan luka rutin. Dr. Fahri juga menyatakan bahwa kondisi pasien sempat membaik sebelum akhirnya pulang atas izin dokter.
Tanggapan dari Pihak Berwenang
Bupati Karawang, Aep Syaepuloh, turun tangan langsung setelah ramainya pemberitaan. Ia menginstruksikan Dinas Kesehatan Kabupaten Karawang (Dinkes) untuk memeriksa rumah sakit dan meminta keterangan dari semua pihak. Bupati menegaskan bahwa jika ditemukan indikasi pelanggaran, akan ada sanksi yang diberikan. Namun, ia juga menekankan pentingnya tidak menuduh sebelum hasil pemeriksaan keluar.
Kepala Dinas Kesehatan Karawang, dr. Endang Suryadi, memastikan bahwa tim monitoring telah diturunkan ke RS Hastien untuk mengumpulkan keterangan. Tim sedang memeriksa berkas medis, prosedur operasi, dan wawancara dengan pihak rumah sakit. Endang menegaskan bahwa belum dapat menyimpulkan apakah kasus ini termasuk kelalaian medis atau bukan. Informasi yang beredar masih dalam proses penelusuran.
Reaksi dari DPR dan Seruan Transparansi
Anggota DPR RI Komisi IX, Cellica Nurrachadiana, mengungkapkan prihatin atas kejadian ini. Ia meminta penyelidikan dilakukan secara profesional tanpa tekanan publik. Cellica menegaskan pentingnya mutu pelayanan rumah sakit dan komunikasi dokter-pasien agar kasus serupa tidak terulang. Ia juga mendorong organisasi profesi seperti Ikatan Dokter Indonesia (IDI) ikut turun tangan menilai kasus ini secara etik dan ilmiah.
Langkah Selanjutnya
Investigasi terus berjalan untuk memastikan apakah ada kelalaian. Keluarga korban mempertimbangkan langkah hukum bila ditemukan bukti malpraktik. Masyarakat diharapkan menahan diri agar tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Semua temuan akan dilaporkan ke Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) untuk ditindaklanjuti.


