Kothekan Lesung: Alat Dapur Jadi Senjata Perempuan

Posted on

Kothekan Lesung: Warisan Budaya dan Simbol Perlawanan Perempuan Petani

Musik tradisional menempati posisi penting dalam kehidupan sosial budaya Indonesia. Kesenian ini berkembang sebagai cerminan langsung dari kebudayaan dan adat istiadat masyarakat setempat. Kemajemukan suku bangsa dan budaya telah melahirkan kekayaan karya seni, termasuk musik tradisional yang memiliki karakteristik unik di tiap daerah. Kesenian tradisional menjadi produk cipta, rasa, dan karsa manusia yang berakar pada nilai-nilai estetika lokal yang membutuhkan perhatian dari banyak pihak agar terus berkembang.

Musik tradisional dalam masyarakat dapat dimainkan oleh siapa saja termasuk perempuan. Salah satu kesenian tradisional yang dikembangkan oleh perempuan petani adalah kothekan lesung untuk daerah Jawa Tengah (Karanganyar, Banjarnegara, Blora, Banyumas) atau gejog lesung untuk masyarakat Yogyakarta (Bantul, Gunung Kidul), Jawa Timur (Trenggalek, Pacitan), dan Banten (dengan nama bendrong lesung).

Sebagai sebuah warisan seni turun-temurun, kothekan lesung telah mengakar jauh dalam sejarah masyarakat agraris Indonesia. Kesenian ini berkembang secara organik, menyatu dengan ritme dan nilai-nilai kehidupan agraris yang melahirkannya.

Lebih Dekat dengan Kothekan Lesung

Dahulu, lesung digunakan untuk mengolah beras. Perempuan petani mengolah hasil panen menjadi beras merupakan sebuah aktivitas yang memerlukan ketelatenan, kesabaran, dan kerja sama yang harmonis. Nilai-nilai moral tersebut tercermin dalam permainan kothekan lesung yang dimainkan perempuan petani, di mana ritme berulang dan sinkronisasi suara lesung mencerminkan pentingnya kesabaran, ketekunan, serta solidaritas dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui kothekan lesung, perempuan petani tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga menanamkan kebersamaan, saling menghargai, dan semangat gotong royong yang menjadi fondasi moral dalam komunitas.

Lesung, memiliki kedekatan pada masyarakat agraris yang didominasi oleh kehidupan petani. Dalam budaya agraris, Mbok Sri atau Dewi Sri dipercaya masyarakat sebagai dewi pelindung atau dewi kesuburan lahan pertanian, terutama sawah.

Studi yang dilakukan oleh Astono (2002) yang berjudul Lesung Banarata Karawitan di Akar Rumput, dalam “Keteg” secara jelas menerangkan bahwa perempuan petani selalu melakukan ritual persembahan saat panen padi. Sebagai salah satu pendukung upacara persembahan, lesung menjadi ungkapan rasa yang mengandung nilai keindahan. Ekspresi masyarakat agraris menyambut sukacita saat panen raya tercermin dalam permainan musik kothekan dengan instrumen pokok alu dan lesung. Suara yang keluar dari alat tersebut terdengar klotekan sehingga diberi nama kothekan.

Lesung yang umumnya digunakan untuk musik tradisional kothekan panjangnya sekitar 2-3 meter berbentuk kotak dengan lebar 25-30 cm dan tinggi 30-40 cm. Dengan lubang panjang 1 hingga 2 meter, lebar 20 cm dan tinggi 20 cm. Hanya kayu jati tua, nangka, mangga dan trembesi yang digunakan untuk lesung dengan tingkat kekeringan sekitar 60-75 persen.

Alu atau antan, kayu untuk memukul lesung berbentuk selinder dengan panjang sekitar 1,5-2 meter dengan diameter sekitar 6-8 cm pada bagian tengah agak ke bawah diameter lebih kecil yaitu sekitar 4-5 cm. Diameter kayu pada bagian tengah ke bawah sengaja dibuat kecil sebagai pegangan tangan pemain agar tidak naik atau turun. Panjang alu disesuaikan dengan tinggi badan pemain musik kothekan. Kayu yang digunakan untuk alu haruslah kuat seperti kayu petai cina (mlandingan), pinus, dan nangka.

Pembuatan lesung harus cermat dan menggunakan hitungan hari untuk mendapatkan kualitas yang bagus. Dalam kajian yang dilakukan oleh Ipong Jazimah yang berjudul Nilai Gotong-Royong dan Tenggang Rasa dalam Kothekan Lesung Banyumasan menyampaikan bahwa pembuatan lesung harus menghindari mangsa kawolu, masa saat curah hujan tinggi. Dengan curah hujan tinggi menyebabkan kandungan air dalam kayu berlebihan sehingga kayu mudah lunak, rusak, bahkan membusuk. Tingkat kekeringan kayu sangat penting sebab jika terlalu kering, kayu mudah pecah, demikian pula jika terlalu basah dapat menyusut sehingga bentuknya berubah dan suara yang dikeluarkan jauh dari harapan.

Kulit luar pohon untuk membuat lesung harus dalam kondisi bersih dan tidak berjamur dengan diameter sekitar 150 hingga 200 cm. Pohon yang mau dijadikan lesung, harus ditebang dengan menggunakan teknik tertentu. Pertama, menggali tanah di sekitar pohon sesuai dengan arah tumbuhnya akar pohon. Kedua, pohon harus ditumbangkan terlebih dahulu dari akarnya. Ketiga, pembuatannya tidak menggunakan gergaji namun pethel, wadung, tatah, dan gandhen.

Proses pembuatan lesung biasanya sekitar 5 hari, sebab untuk penebangan pohonnya bisa sampai 3 hari dan penatahannya sekitar 1-2 hari. Pembuatan lesung biasanya melibatkan tokoh adat dalam masyarakat setempat yang dikenal dengan dukun. Dukun ini berperan sebagai orang yang mendaraskan doa dan mantra agar lesung dapat selesai tepat waktu dan bermanfaat bagi masyarakat, terutama peningkatan dan kelancaran rezeki.

Awal Kemunculan Kothekan Lesung

Awal kemunculan permainan musik kothekan lesung dilatarbelakangi oleh kejenuhan yang dialami kaum perempuan petani dalam kegiatan mengolah hasil sawahnya atau panen. Untuk mengisi waktu luang—baik setelah bekerja di sawah, mengurus rumah tangga, atau di kala santai pada sore dan malam hari—perempuan petani pun menciptakan hiburan ini.

Hiburan kothekan lesung tidak hanya berfungsi sebagai pelepas penat, tetapi juga sebagai media pengikat sosial yang kuat di antara para perempuan petani. Melalui irama yang sederhana namun berulang, kothekan lesung menjadi sarana ekspresi kolektif yang menghadirkan rasa kebersamaan dan identitas budaya. Lagu dan alat musik yang digunakan pun kental dengan nilai-nilai tradisional, mencerminkan kehidupan, harapan, dan keuletan perempuan petani dalam menghadapi tantangan hidup sehari-hari.

Seiring perkembangan kebutuhan masyarakat, fungsi kothekan lesung mengalami perubahan. Lesung yang awalnya sebagai alat penghibur perempuan petani saat menumbuk padi menjadi alat penanda jika ada bahaya datang. Jika ada bencana alam, beberapa perempuan membunyikan lesung agar masyarakat segera berkumpul. Kothekan lesung juga menjadi simbol untuk mengusir roh jahat.

Siti Aesijah dalam kajiannya yang berjudul Makna Simbolik dan Ekspresi Musik Kotekan mengungkapkan bahwa kothekan lesung sekaligus sebagai simbol dalam kehidupan manusia seperti: simbol wanita mencari teman (gending; rondo katisen), simbol laki-laki mencari pasangan (gending; duda njaluk lawang), simbol bersatunya laki-laki dan wanita (gending; kuputarung).

Selain dari gendingnya, kothekan lesung juga dapat diungkap sebagai simbol yang berhubungan dengan keyakinan atau kepercayaan masyarakat setempat, falsafah hidup maupun pola pikir praktisnya.

Kothekan Lesung: Simbol Senjata Perempuan

Perempuan petani, bukan hanya bergumul dengan lumpur sawah dan teriknya matahari. Kothekan lesung tidak sekadar hiburan semata, namun juga warisan budaya yang terus dipertahankan sebagai simbol perlawanan dan kreativitas dalam keseharian perempuan petani. Kothekan lesung menjadi kesenian tradisional yang mengalami modifikasi dalam penataan pola, ritme, dan jalinan pola ritme antarpemain. Modifikasi kolektif ini mampu menghasilkan irama bunyi yang bersifat musikal dan estetik.

Modifikasi kolektif dalam kothekan lesung, tidak hanya memperkaya nilai seni, tetapi juga mengokohkan posisi perempuan sebagai agen budaya yang aktif dan kreatif. Di balik bunyi-bunyi lesung yang memukau, terkandung narasi keteguhan hati dan semangat kolektif perempuan petani yang mampu mempertahankan identitas sekaligus menantang stereotipe tradisional.

Kothekan lesung menjadi senjata emosional dan simbol pengakuan, melampaui fungsi praktis menjadi sebuah pernyataan kultural yang mengangkat martabat perempuan di ruang publik. Melalui kreativitas ini, perempuan petani tidak hanya meneruskan tradisi, tetapi juga mencipta ruang baru bagi suara mereka untuk didengar dan dihargai oleh masyarakat luas.

Kothekan lesung, sebagai ekspresi budaya yang hidup, menjadi cermin identitas kolektif masyarakat setempat yang terjalin erat dengan aktivitas sehari-hari perempuan petani. Melalui irama dan pola yang khas, seni tradisional kothekan lesung mampu menguatkan rasa kebersamaan sekaligus menegaskan akar budaya yang menjadi fondasi kekuatan sosial.

Ketika kothekan lesung dipertahankan dan dikembangkan, kehadirannya tidak hanya menjaga warisan leluhur. Kothekan lesung membangun fondasi identitas yang melekat dalam kesadaran komunitas perempuan petani. Perempuan petani yang memainkan kothekan lesung menunjukkan kuatnya solidaritas sosial dan memberikan kebanggaan atas jati diri budaya lokal di tengah dinamika perubahan zaman yang cepat.

Kothekan lesung dapat menjadi simbol kesalehan identitas perempuan sebagai pelaku dan perawat tradisi masyarakat setempat. Melalui seni tradisional kothekan lesung, perempuan petani tidak hanya melaksanakan ritual budaya, tetapi juga menunjukkan dedikasinya dalam menjaga kelangsungan nilai-nilai leluhur. Kesalehan perempuan petani melalui mothekan lesung bukan hanya dalam arti religius untuk menjaga harmonisasi dengan antara manusia dengan alam.

Kothekan lesung yang dimainkan perempuan petani menjadi simbol kesungguhan untuk memelihara keharmonisan sosial dan hubungan manusia dengan leluhur melalui praktik budaya yang diwariskan turun-temurun. Dengan peran aktif perempuan petani dalam memainkan dan melestarikan kothekan lesung, makin menghidupkan kembali tradisi sekaligus memperlihatkan komitmen moral dan spiritual sebagai penjaga akar budaya yang menguatkan identitas kolektif masyarakat. Seni kothekan lesung menjadi wujud nyata dari kesalehan sosial yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini secara harmonis dan penuh rasa tanggung jawab.

Secara tradisional, sawah merupakan bagian dari ruang publik perempuan. Perempuan petani bersentuhan dengan well being keluarga—untuk menyediakan makanan sehat dan bergizi bagi dirinya sendiri dan keluarganya. Sebagai ruang publik, area sawah tidak membahayakan bagi gender maskulin, dengan posisinya sebagai pelaku utama.

Peran serta perempuan petani dalam upacara panen raya melalui kesenian tradisional kothekan lesung menunjukkan adanya ruang dan kesempatan baginya untuk berekspresi, membangun identitas, dan solidaritas dalam komunitas. Kehadiran perempuan petani dalam ruang publik melalui kesenian kothekan lesung mengekspresikan kemampuan dan keterampilan seninya untuk menghibur dan mengisi waktu di luar ranah domestik atau ruang privat.

Di sisi lain, perempuan petani yang memainkan kothekan lesung dalam konteks budaya patriarki, dianggap tidak bertentangan. Sebab, kesenian ini hanya dilakukan pada saat tertentu sehingga nilai-nilai filosofi dalam kothekan lesung masih tetap terjaga sebagai identitas masyarakat lokal.

Dalam konteks kekinian, semangat di balik kelahiran kothekan lesung justru sangat relevan untuk direfleksikan. Di era yang serba cepat dan penuh tekanan, masyarakat modern kerap dilanda kejenuhan dan alienasi.

Kothekan lesung mengingatkan kita pada sebuah kearifan: kreativitas dan kebahagiaan sering kali lahir justru dari keterbatasan. Para perempuan petani itu tidak menunggu hiburan datang, tetapi menciptakannya dari sumber daya yang paling dekat, yaitu lesung dan alu. Ini adalah filosofi “membuat lemon dari limun”—mengubah kesulitan menjadi peluang akan kebahagiaan dengan tidak mereduksi nilai kelokalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *