Penunjukan Kolonel Infanteri Nur Wahyudi sebagai Danrem 045 Garuda Jaya
Kolonel Infanteri Nur Wahyudi kini mendapatkan amanah besar dalam karier militernya, yaitu sebagai Komandan Resor Militer (Danrem) 045 Garuda Jaya (Gaya) yang bertugas di wilayah Bangka Belitung. Penunjukan ini menandai babak baru dalam perjalanan karier pria yang sebelumnya dikenal sebagai Komandan Satuan (Dansat) 81 Kopassus.
Nur Wahyudi akan menggantikan Brigjen TNI Safta Feryansyah, yang sama-sama berasal dari korps baret merah, sebuah tanda kedekatan dan kesinambungan tradisi di tubuh pasukan elite tersebut. Pergantian ini menjadi perhatian karena keduanya merupakan sosok penting yang membawa visi dan misi berbeda dalam mengawal pertahanan di wilayah yang menjadi tanggung jawab mereka.
Kepala Penerangan Korem 045 Garuda Jaya, Lettu Kasrofi, memberikan konfirmasi resmi mengenai pergantian jabatan tersebut. “Iya benar bang Danrem baru Kolonel Inf Nur Wahyudi, menggantikan Danrem lama Brigjen TNI Safta Feryansyah,” ujarnya saat dihubungi melalui sambungan telepon pada Senin malam, tanggal 13 Oktober 2025.
Informasi ini tentu disambut antusias oleh jajaran militer maupun masyarakat setempat yang menantikan sosok pemimpin baru di Korem 045 Gaya. Sementara itu, proses serah terima jabatan (sertijab) dan pelantikan pejabat baru Danrem 045 Gaya masih dalam tahap persiapan, dan diperkirakan akan segera dilaksanakan dalam waktu dekat. Momen tersebut diharapkan dapat menjadi awal yang baik bagi Kolonel Nur Wahyudi dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab barunya.
Profil Kolonel Infanteri Nur Wahyudi
Profil Kolonel Infanteri Nur Wahyudi sendiri menarik untuk disimak. Namanya pernah mencuri perhatian publik saat ia dipercaya menjadi Komandan Upacara pada peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-79 Republik Indonesia yang berlangsung di Ibu Kota Nusantara (IKN) pada tahun 2024. Penunjukan ini bukan hanya sebagai penghormatan atas kemampuannya, tetapi juga menunjukkan reputasi dan kapasitasnya di lingkungan militer.
Kolonel Inf Nur Wahyudi lahir di Sidoarjo, Jawa Timur. Cita-citanya sejak kecil memang ingin menjadi tentara. Ia masuk Sekolah Menengah Atas (SMA) Taruna Nusantara tahun 1998 atau TN 6. Selepas SMA dia mendaftar menjadi calon taruna Akademi Militer (Akmil) di Magelang, Jawa Tengah. Persiapan matang dilakukan sejak duduk di bangku SMA membuatnya diterima di Akmil. Selama di Akmil dia tekun belajar dan penuh disiplin dan lulus dari Akmil tahun 2001.
Lulus Akmil dengan pangkat Letnan Dua, Nur Wahyudi ditempatkan di Grup 1 Kopassus Serang selama 2 tahun. Tak lama kemudian dia menimba ilmu pendidikan anti teror di Jakarta. Nur Wahyudi pindah tugas ke Grup 3/Sandhi Yudha pada tahun 2012. Grup 3/Sandhi Yudha adalah Satuan Kopassus yang memiliki spesifikasi tugas perang rahasia. Selanjutnya Nur Wahyudi yang ahli menembak ini menyelesaikan pendidikan di Bandung dan kembali ke Grup 1 Kopassus Serang pada tahun 2015.
Nur Wahyudi kemudian ditugaskan di bagian intel. Setelah itu, karier Nur Wahyudi melesat. Dia menjabat Komandan Batalyon (Danyon) 12 Grup 1 Kopassus Serang selama dua tahun. Nur Wahyudi dipanggil ke Jakarta untuk mengikuti lomba menembak di Singapura. Pria yang pernah menjabat sebagai Komandan Sekolah Anti Teror di Grup Pusdiklatsus ini juga ternyata pernah ditugaskan bergabung dengan Satgas Unifil Lebanon dalam rangka menjalankan misi perdamaian Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB).
Nur Wahyudi baru pulang ke Tanah Air pada Januari 2020. Ia kemudian dipercaya menjabat Komandan Kodim (Dandim) 0603/Lebak sejak 5 Agustus 2020. Saat itu pangkat Nur Wahyudi adalah Letkol Infantri. Nur Wahyudi kemudian menjabat Komandan Satuan atau Dansat 81 Kopassus dan naik pangkat menjadi Kolonel Infantri.
Pengalaman Berharga dalam Karier Militer
Satuan 81 Kopassus merupakan satuan antiteror andalan TNI. Satuan 81 Kopassus mencerminkan ketepatan, kecepatan, dan keberanian prajurit dalam menghadapi ancaman nyata terhadap kedaulatan negara. Satuan ini terbentuk dari pengalaman tempur yang sesungguhnya dan tumbuh bersama sejarah bangsa. Kini, Nur Wahyudi mendapat amanah baru menjabat Danrem 045 Gaya dan akan mendapat kenaikan pangkat menjadi bintang satu.
Pada tahun 2024 lalu, Nur Wahyudi ditunjuk menjadi komandan upacara HUT ke-79 Republik Indonesia (RI) di Ibu Kota Nusantara (IKN). Nur Wahyudi merupakan perwira menengah TNI pertama bertugas di upacara HUT RI yang terakhir bagi Joko Widodo sebagai Presiden RI.
Pembebasan Sandera di Somalia
Selama kariernya sebagai prajurit TNI, Nur Wahyudi pernah menjadi anggota Satgas Muhibah dan terlibat dalam pembebasan sandera KMV Sinar Kudus oleh perompak Somalia di Somalia pada 2011 silam. Aksi penculikan terhadap anak buah kapal (ABK) KMV Sinar Kudus bermula saat mereka dalam perjalanan menuju Belanda. Mereka membawa muatan nikel milik PT Aneka Tambang Tbk senilai Rp1 triliun.
Namun, saat tiba di perairan Teluk Aden, Somalia, pada 16 Maret 2011, kapal mereka dibajak. Para perompak Somalia meminta uang tebusan dan pemerintah hanya memiliki waktu 1,5 bulan untuk menyelamatkan para sandera. Susilo Bambang Yudhyono (SBY) yang saat itu menjabat sebagai Presiden, langsung menggelar rapat untuk membahas operasi penyelamatan para sandera. Hasilnya, disepakati pembebasan kapal dan ABK KMV Sinar Kudus dilakukan dengan operasi militer khusus.
SBY juga menyetujui pasukan yang dikerahkan untuk membebaskan sandera berasal dari unsur Marinir, Kopassus, Kopaska, dan Kostrad TNI. Pada 4 April 2011, Satgas pembebasan sandera yang saat itu dipimpin Kolonel Laut (P) M Taufiqurochman, bertolak menuju Somalia lewat Kolombo, Sri Lanka. Para pasukan kemudian melakukan negosiasi cukup alot hingga 12 April 2011, lantaran perompak meminta uang tebusan dinaikkan menjadi Rp40 miliar.
Pembebasan sandera berhasil dilakukan meski sempat terjadi baku tembak hingga empat perompak Somalia tertembak dan jatuh ke laut. Para sandera yang diselamatkan berhasil tiba di Indonesia dalam kondisi sehat pada 7 Mei 2011.
Kehidupan Pribadi dan Keteguhan Hati
Nur Wahyudi juga pernah menjadi prajurit di beberapa Satgas. Ia diketahui pernah menjadi salah satu anggota satuan penugasan United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) di Lebanon. Saat itu, ia menjabat sebagai Danyon 12 Grup 1 Kopassus Serang. Nur Wahyudi kemudian menyelesaikan tugasnya pada 2020, dan kembali ke tanah air diantaranya Satgas Ban Intel di Papua, dan Satgas Intel BIN di Bali dan NTB.
Nur Wahyudi juga pernah menjadi prajurit Grup 3/Sandhi Yuda, satuan Kopassus yang memiliki spesifikasi tugas perang rahasia.
Umur, rezeki dan jodoh hanya Tuhan Yang Maha Esa yang tahu. Begitu pun dengan Nur Wahyudi. Nur Wahyudi tak menyangka istrinya pergi untuk selamanya. Jodoh kemudian mempertemukan Nur Wahyudi dengan Juliana Moechtar yang merupakan finalis Putri Indonesia 2010. Juliana Moechtar saat itu berstatus single parent setelah suaminya, gitaris Seventeen, Herman Sikumbang atau Herman Seventeen meninggal dunia.
Herman Seventeen meninggal dunia tersapu tsunami yang terjadi di Banten tahun 2018. Status Juliana adalah janda beranak dua. Lewat makcomblang, akhirnya Nur Wahyudi berkenalan dengan Juliana. Mei 2022, Nur Wahudi menikahi Juliana. Juliana Moechtar mulai meninggalkan popularitasnya di dunia hiburan. Semenjak itu Juliana sibuk dengan kegiatannya sebagai ibu Persit, terlebih sekarang ia mengemban tugas baru sebagai Ketua Persit Cabang VI Sat 81 PCBS Kopassus.
Nur Wahyudi yang Pemaaf
Nur Wahyudi ternyata memiliki hati yang lembut. Hal itu diperlihatkannya dengan memaafkan seorang pemuda yang mencuri handphone di RSUD Adidarma Rangkasbitung, Desa Muara Ciujung Barat, Lebak. Peristiwa tersebut terjadi pada Sabtu 9 April 2022. Wahyudi yang kala itu masih menjabat sebagai Dandim 0603/Lebak, tengah menemani anaknya yang dirawat di ruangan perawatan. Nur Wahyudi tertidur. Rupanya seorang pria bernama Maman yang tengah kesulitan keuangan masuk ke kamar perawatan anak Nur Wahyudi.
HP yang tengah diisi daya diambil Maman. Dia ingin menjual HP tersebut untuk membayar persalinan istrinya. Saat terbangun, Nur Wahyudi kaget mengetahuinya HP miliknya hilang. Tak butuh waktu yang lama, petugas berhasil mengamankan Maman. Buruh serabutan tersebut dijerat pasal 362 KUHP tentang Pencurian dan berkas perkaranya pun dilimpahkan. Nur Wahyudi pun luluh setelah mengetahui alasan Maman melakukan aksi nekatnya untuk membiayai persalinan istri. Nur Wahyudi memaafkan Maman sekaligus sepakat perkara tersebut dihentikan.


