Khutbah Jumat 31 Oktober 2025: Hikmah dalam Kata dan Tindakan

Posted on

Pentingnya Hikmah dalam Ucapan dan Perbuatan

Khutbah Jumat adalah elemen penting dalam pelaksanaan shalat sunnah Jumat setiap pekan. Dalam sebuah hadits riwayat Muslim dan Ahmad, Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya panjangnya sholat dan pendeknya khutbah seorang khatib adalah tanda kepahaman seseorang tentang agama. Oleh karena itu panjangkanlah sholat dan persingkatlah khutbah; sesungguhnya dalam penjelasan singkat ada daya tarik.” (HR Muslim dan Ahmad)

Dalam Islam, khutbah disampaikan secara singkat agar jemaah tidak bosan. Para khotib harus memperhatikan dengan cermat apa yang disampaikan, agar bisa sampai pada pendengar atau jamaah, dan bisa dicerna serta diamalkan sesuai syarat.

Ada berbagai jenis topik khutbah Jumat, namun kali ini kita akan membahas satu tema dengan judul Meraih Hikmah dalam Ucapan dan Perbuatan. Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, banyak orang berbicara dan bertindak tanpa pertimbangan. Padahal, Islam mengajarkan pentingnya hikmah, yaitu kebijaksanaan dalam menimbang setiap ucapan dan perbuatan. Hikmah adalah karunia Allah bagi mereka yang berpikir jernih dan berhati bersih.

Khutbah I

Alhamdulillah, yang telah memberikan hikmah kepada manusia. Kita menyampaikan khutbah ini untuk meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Allah SWT berfirman:

“Allah menganugerahkan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugerahi hikmah, sungguh, ia telah dianugerahi kebaikan yang banyak.” (QS al-Baqarah: 269)

Ath-Thabari menafsirkan ayat ini dengan mengatakan dalam kitab tafsirnya: “Allah memberikan hikmah, yaitu ketepatan dalam berucap dan berbuat, kepada orang-orang yang Ia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugerahi ketepatan dalam hal itu, maka ia telah dianugerahi kebaikan yang banyak.”

Hadirin jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Apabila seseorang mampu memahami situasi di sekitarnya, tepat dalam menyikapi keadaan dari setiap peristiwa, selalu berupaya untuk mencapai tujuan yang baik dengan cara yang benar, serta mampu berucap dan bertindak dengan tepat, maka ia adalah seorang hakim (bijak bestari) yang benar-benar telah dianugerahi hikmah.

Allah SWT memuji Luqman, seorang laki-laki saleh, dan menurut pendapat lain, dia adalah seorang nabi, dalam Al-Qur’an:

“Dan sungguh, telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu bersyukurlah kepada Allah!” (QS Luqman: 12).

Betapa penting dan agung menjadi seorang yang hakim (bijak), yang selalu berupaya menyucikan diri dari penyakit-penyakit hati yang melekat pada banyak manusia. Hikmah adalah kekayaan hati dan jiwa. Betapa banyak orang yang kaya harta tetapi fakir ilmu dan hikmah. Bahkan, betapa banyak pemimpin yang menjerumuskan rakyatnya ke dalam berbagai kerusakan karena gaya kepemimpinan yang tidak bertumpu pada hikmah.

Kata hikmah diambil dari kata “ihkam” yang berarti bagus serta benar dalam berucap dan berbuat. Hikmah dapat menolak “safah” (tindakan bodoh). Oleh karena itu, dikatakan bahwa ilmu adalah hikmah, karena ilmu mencegah kebodohan bagi orang yang mengamalkannya. Jadi, hikmah meniscayakan tindakan yang tepat pada waktu yang tepat dengan cara yang tepat.

Khutbah II

Alhamdulillah, yang telah memberikan hikmah kepada manusia. Kita menyampaikan khutbah ini untuk meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Allah SWT berfirman:

“Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat serta yang banyak mengingat Allah.” (QS Al-Ahzab: 21)

Allah SWT juga berfirman dalam Qur’an surah Al-An’am ayat 89–90:

“Mereka itulah orang-orang yang telah Kami anugerahi kitab, hikmah, dan kenabian. Jika orang-orang (Quraisy) itu mengingkarinya, Kami akan menyerahkannya kepada kaum yang tidak mengingkarinya. Mereka itulah para nabi yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Maka, ikutilah petunjuk mereka.”

Meneladan para nabi adalah hikmah itu sendiri, karena Allah mengutus mereka sebagai rahmat bagi umat manusia dan memerintahkan kita semua untuk menaati mereka. Allah SWT berfirman dalam Qur’an Surah An-Nisa’ ayat 64:

“Kami tidak mengutus seorang rasul pun, kecuali untuk ditaati dengan izin Allah.”

Karena Allah telah menetapkan keselamatan dalam mengikuti jejak para nabi, maka siapa pun yang mendambakan keselamatan hendaklah menempuhnya melalui tuntunan mereka yang diwariskan kepada para pewaris nabi, yaitu para ulama yang mengamalkan ilmunya.

Rasulullah SAW bersabda sebagaimana dikutip Imam At-Tirmidzi:

“Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi. Dan para nabi tidak mewariskan dinar maupun dirham, melainkan mereka mewariskan ilmu. Maka siapa yang mengambilnya, sungguh ia telah mengambil bagian yang besar.”

Ilmu dan bimbingan para nabi tetap menjadi pelita hidayah sepanjang zaman, meskipun waktu terus bergulir dan teknologi semakin maju. Tidak ada petunjuk yang lebih lurus daripada apa yang telah ditunjukkan para nabi ‘alaihimussalam. Sekalipun kemajuan teknologi dapat menjadi sarana kebahagiaan dunia, namun meneladan para nabi adalah jalan menuju kebahagiaan dunia sekaligus akhirat.

Para ulama yang saleh senantiasa memancarkan hikmah dalam makna yang paling indah. Barang siapa yang memiliki akal jernih dan pandangan tajam, lalu menimba ilmu dari para ulama terpercaya serta mengambil manfaat dari ilmu yang mereka warisi dari para nabi, niscaya ia akan memperoleh ilmu yang luas, memancarkan hikmah, dan menampakkannya dalam ucapan serta perbuatannya.

Dengan itu, ia berpindah dari keburukan menuju kebaikan, dan dari kebaikan menuju yang lebih baik. Siapa pun yang menjadikan hikmah sebagai penuntunnya, ia akan selamat dari berbagai marabahaya: tidak mencampuri perkara yang bukan urusannya, tidak membenarkan setiap kabar yang didengar, tidak mengucapkan semua yang diketahui, dan tidak melakukan semua yang mampu ia lakukan. Karena itu, marilah kita senantiasa mendekat kepada para ulama, membaca karya-karya mereka, dan meneladan perjalanan hidup mereka.

Rasulullah SAW bersabda sebagaimana dikutip oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim:

“Tidak ada iri kecuali pada dua perkara: seseorang yang Allah karuniai harta lalu ia habiskan di jalan kebenaran, dan seseorang yang Allah karuniai hikmah, lalu ia berhukum dengannya dan mengajarkannya.”

Yang dimaksud dengan iri di sini adalah ghibthah, yakni berharap mendapatkan kebaikan serupa tanpa menginginkan hilangnya nikmat dari orang tersebut. Sedangkan yang dimaksud hikmah dalam hadits ini adalah ilmu yang bermanfaat, yang dengannya seorang hakim dapat memutuskan perkara dengan adil, seorang mufti memberi fatwa dengan benar, dan seorang alim mengajarkannya kepada umat.

Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin meriwayatkan nasihat Luqman al-Hakim kepada putranya:

“Wahai anakku, duduklah bersama para ulama dan dekatkanlah dirimu kepada mereka, karena Allah menghidupkan hati dengan cahaya hikmah sebagaimana Dia menghidupkan bumi dengan hujan dari langit.”

Rasulullah SAW juga bersabda sebagaimana dikutip oleh Imam At-Tirmidzi:

“Hikmah adalah barang hilang milik seorang mukmin. Di mana pun ia menemukannya, dialah yang paling berhak atasnya.”

Maka marilah kita jadikan ilmu dan hikmah sebagai bekal hidup, agar kita memperoleh keselamatan di dunia dan kebahagiaan di akhirat. Demikianlah khutbah singkat pada siang hari yang penuh keberkahan ini. Semoga bermanfaat dan membawa berkah bagi kita semua.