Kolonel Inf Nur Wahyudi: Karier Militer dan Kehidupan Pribadi yang Menarik Perhatian
Kolonel Inf Nur Wahyudi kini menjadi sorotan publik setelah mendapat amanah baru sebagai Komandan Resor Militer (Danrem) 045 Garuda Jaya (Gaya) Bangka Belitung. Sebelumnya, ia menjabat sebagai Komandan Satuan (Dansat) 81 Kopassus, yang merupakan satuan antiteror andalan TNI. Ia akan menggantikan Brigjen TNI Safta Feryansyah, yang juga berasal dari korps baret merah.
Kepala Penerangan Korem (Kapenrem) 045 Gaya, Lettu Kasrofi, membenarkan pergantian jabatan tersebut. “Iya benar bang Danrem baru Kolonel Inf Nur Wahyudi, menggantikan Danrem lama Brigjen TNI Safta Feryansyah,” ujarnya saat dikonfirmasi.
Selain karier militer yang menjanjikan, kehidupan pribadi Kolonel Inf Nur Wahyudi juga menjadi perhatian masyarakat. Ia menikahi Juliana Moechtar, mantan istri mendiang gitaris Seventeen, Herman Sikumbang. Juliana saat itu berstatus single parent setelah suaminya meninggal dunia tersapu tsunami di Banten tahun 2018.
Latar Belakang Keluarga dan Perjalanan Cinta
Juliana Moechtar sebelumnya dikenal sebagai finalis Putri Indonesia 2010. Setelah kehilangan suaminya, ia fokus pada perannya sebagai ibu dan pengurus rumah tangga. Hubungan antara Nur Wahyudi dan Juliana dimulai melalui makcomblang, hingga akhirnya mereka menikah pada Mei 2022.
Setelah menikah, Juliana mulai menjauh dari dunia hiburan. Ia kini sibuk dengan tugas sebagai Ketua Persit Cabang VI Sat 81 PCBS Kopassus. Kehidupan barunya ini membuatnya lebih fokus pada keluarga dan organisasi istri prajurit TNI.
Profil Karier Militer Kolonel Inf Nur Wahyudi
Kolonel Inf Nur Wahyudi lahir di Sidoarjo, Jawa Timur. Dari kecil, ia sudah memiliki cita-cita menjadi tentara. Ia masuk Sekolah Menengah Atas (SMA) Taruna Nusantara tahun 1998 atau TN 6. Setelah lulus SMA, ia mendaftar menjadi calon taruna Akademi Militer (Akmil) di Magelang, Jawa Tengah.
Persiapan matang sejak duduk di bangku SMA membuatnya diterima di Akmil. Selama di Akmil, ia tekun belajar dan penuh disiplin. Ia lulus Akmil pada tahun 2001 dengan pangkat Letnan Dua. Setelah lulus, ia ditempatkan di Grup 1 Kopassus Serang selama 2 tahun.
Nur Wahyudi kemudian menimba ilmu pendidikan anti teror di Jakarta. Pada tahun 2012, ia pindah tugas ke Grup 3/Sandhi Yudha, satuan Kopassus yang memiliki spesifikasi tugas perang rahasia. Setelah menyelesaikan pendidikan di Bandung, ia kembali ke Grup 1 Kopassus Serang pada tahun 2015.
Pada masa karier militer, Nur Wahyudi pernah menjadi Komandan Batalyon (Danyon) 12 Grup 1 Kopassus Serang selama dua tahun. Ia juga dipanggil ke Jakarta untuk mengikuti lomba menembak di Singapura. Selain itu, ia pernah ditugaskan bergabung dengan Satgas Unifil Lebanon dalam rangka menjalankan misi perdamaian PBB.
Pengalaman dalam Operasi Militer
Salah satu pengalaman penting dalam karier Nur Wahyudi adalah ketika ia menjadi anggota Satgas Muhibah dalam pembebasan sandera KMV Sinar Kudus oleh perompak Somalia pada 2011 silam. Operasi ini dilakukan dengan bantuan pasukan Marinir, Kopassus, Kopaska, dan Kostrad TNI.
Pembebasan sandera berhasil dilakukan meski sempat terjadi baku tembak hingga empat perompak Somalia tertembak dan jatuh ke laut. Para sandera yang diselamatkan berhasil tiba di Indonesia dalam kondisi sehat pada 7 Mei 2011.
Selain itu, Nur Wahyudi juga pernah menjadi prajurit di beberapa Satgas, termasuk UNIFIL di Lebanon dan Satgas Ban Intel di Papua serta Satgas Intel BIN di Bali dan NTB.
Sifat Pemaaf dan Kelembutan Hati
Meskipun memiliki latar belakang militer yang keras, Nur Wahyudi dikenal memiliki hati yang lembut. Hal ini terlihat saat ia memaafkan seorang pemuda yang mencuri handphone di RSUD Adidarma Rangkasbitung, Desa Muara Ciujung Barat, Lebak.
Peristiwa tersebut terjadi pada Sabtu 9 April 2022. Nur Wahyudi yang kala itu masih menjabat sebagai Dandim 0603/Lebak, tengah menemani anaknya yang dirawat di ruangan perawatan. HP yang tengah diisi daya diambil Maman, seorang pemuda yang kesulitan keuangan. Ia ingin menjual HP tersebut untuk membayar persalinan istrinya.
Setelah mengetahui alasan Maman melakukan aksi nekatnya, Nur Wahyudi memaafkannya sekaligus sepakat perkara tersebut dihentikan.
Kenaikan Pangkat dan Tugas Baru
Kini, Nur Wahyudi mendapat amanah baru menjabat Danrem 045 Gaya dan akan mendapat kenaikan pangkat menjadi bintang satu. Pada tahun 2024 lalu, ia ditunjuk menjadi komandan upacara HUT ke-79 Republik Indonesia (RI) di Ibu Kota Nusantara (IKN). Ia merupakan perwira menengah TNI pertama bertugas di upacara HUT RI yang terakhir bagi Joko Widodo sebagai Presiden RI.


