Jangan Khawatir, Lagu Itu Tanda Kita Berusaha Tenang

Posted on

Fenomena Membuka Lagu yang Sama Berulang Kali

Beberapa malam lalu, saya sedang menikmati kopi di warung kopi sambil menulis laporan lapangan menggunakan laptop. Di sebelah saya, ada seorang teman yang terus-menerus memasang earphone dengan volume agak keras, hingga saya bisa mendengar samar-samar lagu yang dia putar. Awalnya, saya memaklumi hal itu. Namun, setelah cangkir kopi saya habis, lagu tersebut masih terus diputar. Sampai saya memesan cangkir kedua, lagu itu belum juga berubah.

Saya memberikan teguran, “Woy, lagunya itu lagi itu lagi, kamu nggak bosan? Lagi baper ya?” Dia hanya tersenyum tipis dan menjawab dengan santai, “Bukan baper, coy. Lebih tepatnya, ini upaya healing.”

Jawaban itu terdengar agak ngawur atau paling tidak sok-sokan filosofis. Namun, fenomena memutar lagu yang sama berulang-ulang, entah itu lagu bucin atau lagu heavy metal, adalah hal universal. Dan percaya atau tidak, tindakan me-replay itu bukan sebuah kebodohan selera musik. Ini adalah tindakan paling rasional yang bisa dilakukan otak kita demi mencapai homeostasis, alias keseimbangan, yang didukung penuh oleh ilmu psikologi dan neurologi.

Upaya Menenangkan Diri di Tengah Chaos

Dalam dunia yang serba tidak pasti, penuh deadline yang tidak masuk akal, tagihan yang menjulang, dan berita politik yang selalu membuat kening berkerut, otak kita selalu mencari sesuatu yang stabil. Lagu yang sudah kita hafal luar dalam adalah definisi sempurna dari stabilitas. Kita tahu kapan chorus akan masuk, kita hafal melodi mana yang akan membuat kita merinding, dan kita sudah tahu bagaimana reaksi emosional kita terhadap lagu tersebut. Nggak ada kejutan, nggak ada risiko kognitif. Itulah mengapa kebiasaan ini disebut sebagai bentuk Pengaturan Emosi (Emotional Regulation) atau self-soothing oleh para psikolog.

Lagu favorit yang diulang-ulang bisa menjadi “emotional refuge” atau tempat berlindung emosional yang kita pilih untuk menenangkan pikiran yang sedang kacau atau meredakan kecemasan. Kita tidak perlu adaptasi, kita tinggal replay dan efeknya langsung terasa. Ini adalah bentuk Kepuasan Instan yang sangat dibutuhkan. Kita tahu kalau lagu ini diputar, mood akan segera terangkat atau, setidaknya, stabil.

Jebakan Dopamin dan Instant Gratification

Tindakan me-replay lagu itu lebih mirip dengan mencari quick fix daripada menikmati seni. Ini adalah urusan kimia otak yang kejam. Setiap kali kita mendengarkan bagian favorit dari lagu yang kita suka, otak akan melepaskan dopamin, neurotransmiter yang bertanggung jawab atas perasaan senang dan reward. Dopamin ini adalah pemicu utama kenapa kita bisa ketagihan pada makanan enak, scroll media sosial, atau bahkan hal-hal lain yang nggak perlu kita sebutkan.

Pengulangan lagu, secara neurologis, adalah upaya untuk memicu Sistem Reward Dopaminergik ini berulang kali. Ini adalah cara termudah dan tercepat untuk mendapatkan high yang menyenangkan. Mengacu pada studi ilmiah yang dipublikasikan di National Institutes of Health, para peneliti menyimpulkan bahwa familiaritas adalah variabel paling penting yang menjelaskan kenapa kita menyukai musik. Mereka menemukan bahwa kesukaan (liking) terhadap sebuah musik meningkat secara terus-menerus dengan pengulangan, tanpa peduli seberapa kompleks lagu itu. Semakin sering didengar, semakin familiar, semakin mudah otak memprosesnya, dan semakin besar reward dopamin yang dilepaskan. Jadi, kita bukan introvert, kita hanya budak dopamin yang efisien dalam mencari reward instan.

Nostalgia dan Upaya Menambal Identitas

Kenapa lagu yang kita putar berulang-ulang seringkali adalah lagu lawas? Jawabannya ada pada fungsi musik sebagai mesin waktu yang super efektif. Lagu-lagu lawas itu memiliki ikatan emosional yang kuat dengan suatu fase kehidupan, entah itu saat sekolah, masa-masa penuh ambisi, atau justru masa kegalauan yang dramatis. Ketika kita memutar lagu itu lagi, otak kita mengaktifkan hippocampus dan amigdala—dua area yang terkait erat dengan memori dan emosi.

Laporan dari University of Michigan yang meneliti kebiasaan ini menemukan bahwa orang menikmati memutar lagu yang sama hingga ratusan kali, terutama jika mereka memiliki koneksi emosional yang mendalam. Lagu itu memungkinkan pendengar untuk mengembangkan hubungan pribadi yang langgeng. Dengan memutar lagu lawas, kita sebenarnya sedang melakukan pemeliharaan identitas. Kita mencoba menyambungkan diri kita yang sekarang dengan diri kita yang dulu, memastikan bahwa rantai kenangan dan pengalaman kita nggak terputus. Ini semacam self-therapy yang membantu kita merasa utuh dan kontinu di tengah perubahan yang terjadi. Kadang, kita butuh tahu siapa kita dulu agar tahu harus ke mana sekarang.

Secara Kognitif, Menuntaskan Urusan Batin yang Belum Tuntas

Selain sebagai self-soothing yang menenangkan, replay button juga sering digunakan sebagai alat pemrosesan kognitif, terutama bagi mereka yang suka merenung. Ada kalanya kita memutar sebuah lagu bukan karena kita bahagia, tapi justru karena lagu itu mewakili masalah atau emosi yang menggantung di kepala. Para psikolog menyebut ini kaitannya dengan Efek Zeigarnik, sebuah fenomena di mana otak cenderung lebih fokus dan terobsesi pada tugas atau pengalaman yang belum selesai atau belum tuntas.

Mengutip ulasan dari VegOut Mag, kebiasaan looping lagu bisa menjadi bagian dari proses batin untuk mencapai emotional closure. Lagu yang diulang-ulang seolah-olah menjadi loop emosional di mana alam bawah sadar kita terus mencoba memproses, menganalisis, atau memahami masalah yang ada—sampai kita merasa clear dan siap untuk beranjak ke lagu berikutnya. Ini adalah tanda bahwa kita adalah deep thinker yang sedang berusaha keras. Kita nggak cuma mendengarkan lirik, tapi kita menyambungkannya dengan pikiran, ketakutan, dan harapan pribadi kita, menjadikan musik sebagai cermin refleksi diri yang paling jujur.

Reduksi Decision Fatigue Demi Flow State

Terakhir, ada alasan yang amat pragmatis kenapa kita memilih replay lagu ketimbang shuffle album baru: efisiensi energi mental. Dalam sehari, otak kita kelelahan membuat keputusan, mulai dari mau sarapan apa sampai membalas chat seperti apa. Hal ini menyebabkan decision fatigue alias kelelahan pengambilan keputusan. Memilih lagu baru, meskipun terdengar sepele, tetap membutuhkan energi kognitif karena otak harus beradaptasi dengan melodi, irama, dan lirik yang asing.

Dengan memilih lagu yang sudah familiar, kita mengurangi kelelahan tersebut. Energi mental yang dihemat itu kemudian diarahkan ke aktivitas utama, seperti bekerja, menulis, atau merenung. Lagu yang diulang-ulang justru membantu kita masuk ke kondisi flow state (kondisi fokus total) karena ia menyediakan latar belakang yang konsisten dan nggak mengganggu. Jadi, ketika kita atau teman kita sedang looping lagu di warung kopi, bukan berarti kita malas mencari lagu baru, tapi kita sedang mempraktikkan manajemen energi kognitif yang superior. Kita sedang mencoba menjadi manusia yang paling waras di tengah tuntutan dunia yang serba tak waras.

Maka, lain kali jika ada teman yang mencap kita aneh karena memutar lagu yang sama, jangan marah. Senyumin saja. Katakan padanya bahwa kita sedang mengaktifkan sistem reward dopamin, menjaga identitas diri, dan memproses unresolved issues batin melalui emotional refuge yang murah meriah. Lagipula, di dunia yang nggak pasti ini, apalagi yang bisa kita andalkan selain lagu yang sudah kita hafal luar dalam?

Kita cuma mencari sedikit kenyamanan yang pasti. Selebihnya, biarlah dunia yang chaos sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *