Sosok Maria Victoria Viyata Mayos dan Peristiwa yang Menggemparkan
Maria Victoria Viyata Mayos, seorang mahasiswa Universitas Udayana (Unud) Bali, menjadi perbincangan hangat setelah terlibat dalam sebuah percakapan di media sosial yang diduga membully kematian rekannya sendiri, Timothy Anugerah Saputra. Kejadian ini menimbulkan reaksi keras dari masyarakat dan berdampak pada posisi Maria sebagai Kepala Departemen Eksternal FISIP Unud.
Timothy Anugerah Saputra, mahasiswa Sosiologi FISIP Unud, ditemukan tewas setelah melompat dari lantai 2 Gedung Fisipol pada Rabu (15/10/2025). Peristiwa ini menjadi sorotan publik karena diduga terkait dengan ucapan-ucapan yang tidak empatik terhadap korban. Maria, yang juga terlibat dalam percakapan tersebut, akhirnya membuat klarifikasi dan menyampaikan permohonan maaf atas tindakannya.
Isi Chat dan Tanggapan Maria
Dalam chatnya, Maria menulis kalimat seperti, “Nanggung bgt klok bunuh diri dri lantai 2 yak.” Kalimat ini mendapat banyak kritik karena dianggap tidak memiliki rasa empati terhadap kondisi mental korban. Meski demikian, Maria mengklaim bahwa ia tidak mengenal Timothy dan tidak terlibat dalam perundungan selama hidup korban.
Ia juga menyatakan siap menerima sanksi dari pihak kampus. Akun Instagram miliknya, @vitaamariaa_, sudah dinonaktifkan setelah kejadian ini.
Pemberhentian dari Himapol FISIP Unud
Kini, Himapol FISIP Unud 2025 telah memberhentikan empat pengurus, termasuk Maria Victoria Viyata Mayos. Surat pemberhentian ditandatangani oleh Ketua Umum Himapol FISIP Unud 2025, Pande Estu Prajanaya, pada 16 Oktober 2025.
Daftar pengurus yang diberhentikan antara lain:
- Vito Simanungkalit, Wakil Kepala Departemen Eksternal Himapol FISIP Unud Kabinet Cakra;
- Muhammad Riyadh Alvitto Satriyaji Pratama, Kepala Departemen Kajian, Aksi, Strategis, dan Pendidikan;
- Maria Victoria Viyata Mayos, Kepala Departemen Eksternal;
- Anak Agung Ngurah Nanda Budiadnyana, Wakil Ketua Departemen Minat dan Bakat.
Sanksi yang Diberikan
Menurut Ketua Unit Komunikasi Publik Universitas Udayana, Dr Dewi Pascarani, beberapa mahasiswa yang terlibat dalam perundungan akan direkomendasikan untuk diberi nilai D atau tidak lulus pada semua mata kuliah semester berjalan. Namun, sanksi akhir akan diputuskan berdasarkan rekomendasi Satgas PPK setelah pendalaman kasus.
“Kami masih menunggu hasil pendalaman satgas,” katanya.
Sosok Enam Mahasiswa Terlibat Bullying
Enam mahasiswa yang diduga melakukan perundungan terhadap korban adalah:
- Leonardo Jonathan Handika Putra, Wakil Ketua BEM Fakultas Kelautan dan Perikanan Unud angkatan 2022.
- Maria Victoria Viyata Mayos, Kepala Departemen Eksternal Himapol FISIP Unud Kabinet Cakra.
- Muhammad Riyadh Alvitto Satriyaji Pratama, Kepala Departemen Kajian, Aksi, Strategis dan Pendidikan Himapol FISIP Unud.
- Anak Agung Ngurah Nanda Budiadnyana, Wakil Kepala Departemen Minat dan Bakat Himapol FISIP Unud Kabinet Cakra.
- Vito Simanungkalit, Wakil Kepala Departemen Eksternal Himapol FISIP Unud Kabinet Cakra.
- Putu Ryan Abel Perdana Tirta, Ketua Komisi II Dewan Perwakilan Mahasiswa FISIP Udayana.
Permintaan Maaf dari Enam Mahasiswa
Setelah kejadian ini, keenam mahasiswa tersebut menyampaikan permintaan maaf di media sosial. Berikut kutipan pernyataan mereka:
- Maria Victoria Viyata Mayos: “Saya sangat menyesal atas tindakan saya… saya siap menerima konsekuensi dan sanksi dari pihak kampus.”
- Leonardo Jonathan Handika Putra: “Saya memohon maaf atas polemik yang sedang ramai diperbincangkan… saya siap mundur dari jabatan wakil ketua BEM FKP Udayana.”
- Muhammad Riyadh Alvitto Satriyaji Pratama: “Saya ingin menyampaikan klarifikasi dan permohonan maaf yang tulus… saya bertanggung jawab penuh atas kesalahan saya ini.”
- Anak Agung Ngurah Nanda Budiadnyana: “Saya ingin memohon maaf yang sebesar-besarnya… saya siap menerima sanksi dari organisasi yang saya ikuti.”
- Vito Simanungkalit: “Saya memohon maaf sedalam-dalamnya… saya siap menerima sanksi dari pihak mana pun.”
- Putu Ryan Abel Perdana Tirta: “Saya pribadi mengakui kesalahan saya… saya menerima sanksi yang nantinya akan diberikan kepada saya.”
Respons Kampus dan Tindakan Lanjutan
Rektor Universitas Udayana, Prof Ir I Ketut Sudarsana, menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas kepergian salah satu mahasiswa terbaik kampus. Ia menegaskan bahwa kampus harus menjadi ruang aman, berempati, dan bebas dari segala bentuk kekerasan.
Universitas juga akan memberikan pendampingan psikologis bagi rekan-rekan mahasiswa dan civitas akademika yang terdampak. Selain itu, Unud berkomitmen memperkuat program kesehatan mental dan literasi digital di lingkungan kampus.


