Program CSR Sip for Sustainability: Membangun Ekosistem Kopi yang Berkelanjutan di Kintamani, Bali
Kopi bukan sekadar minuman. Di balik setiap tegukan, ada perjalanan panjang yang melibatkan petani, komunitas, dan alam. Di Kintamani, Bali, petani kopi masih menghadapi tantangan serius seperti kualitas hasil panen yang belum konsisten, keterbatasan akses teknologi, serta rendahnya minat generasi muda untuk melanjutkan usaha tani.
Melihat kondisi ini, Kopi Kenangan meluncurkan program CSR Sip for Sustainability bertepat dengan Hari Kopi Sedunia 2025. Program ini dirancang untuk memperkuat rantai pasok kopi dari hulu hingga hilir, dengan fokus pada pemberdayaan petani, peningkatan kapasitas, serta gerakan ramah lingkungan. Berikut adalah laporan langsung dari kunjungan media ke Kintamani, Bali pada 1 Oktober 2025 hingga 3 Oktober 2025.
Mesin Pendukung untuk Menghasilkan Kopi Khas Kintamani yang Lebih Berkualitas dan Mampu Bersaing
Salah satu langkah nyata dari program ini adalah penyerahan mesin Suton (gravity separator) dan mesin pemotong rumput kepada petani binaan Karana Global. Mesin Suton berfungsi untuk memilah biji kopi sesuai berat jenisnya sehingga menghasilkan kualitas terbaik, sementara mesin pemotong rumput membantu mengendalikan gulma tanpa bergantung pada pestisida kimia.
Bantuan ini mungkin terlihat sederhana, tapi dampaknya besar. Dengan alat tersebut, produktivitas petani bisa meningkat hingga 40 persen. Tidak hanya itu, kualitas panen pun menjadi lebih konsisten sehingga kopi Kintamani semakin siap bersaing di pasar global. Lebih jauh, dukungan teknologi ini diharapkan dapat memutus ketergantungan pada cara-cara lama yang kurang efisien. Petani kini memiliki kesempatan untuk mengelola lahan dengan lebih modern, menghasilkan kopi yang memenuhi standar ekspor, sekaligus memperbaiki kesejahteraan keluarga mereka.
Menghadapi Tantangan dalam Edukasi dan Regenerasi untuk Menyiapkan Masa Depan Kopi Lokal
Selain dukungan teknologi, edukasi menjadi kunci dalam program ini. Kopi Kenangan bersama Fakultas Pertanian Universitas Udayana menyelenggarakan pelatihan bagi 100 petani binaan. Pelatihan ini mencakup cara budidaya ramah lingkungan, pengelolaan pascapanen, hingga strategi agar kopi Kintamani memenuhi standar internasional.
Pelatihan ini hadir sebagai respons nyata atas kasus tahun 2024, ketika ekspor kopi Kintamani ke Jepang ditolak akibat residu pestisida yang melebihi ambang batas. Dengan edukasi yang tepat, petani diharapkan bisa menjaga kualitas produknya sekaligus menghindari risiko serupa di masa depan.
Program Sertifikasi Kebun Bantu Petani Kopi Kintamani Lebih Berdaya
Menurut Eldo Soplantilq, Senior Manager, Producer Support, APAC, Rainforest Alliance, di Indonesia dan banyak negara lain, kita masih lebih dikenal sebagai produsen dibanding konsumen. Hal ini wajar mengingat keseharian masyarakat yang masih menyesuaikan dengan kondisi ekonomi, sehingga produk seperti cokelat premium sering digantikan pilihan terjangkau.
“Karena itu, penting bagi prinsip keberlanjutan juga diterapkan langsung di daerah penghasil kopi, salah satunya di Kintamani. Keberlanjutan di sini tidak hanya soal lingkungan, tapi juga memastikan kesejahteraan manusia yang terlibat terutama petani, bersama mitra seperti Kopi Kenangan, Karana, maupun kelompok tani lokal lainnya,” katanya dalam acara yang sama.
Mitra Penghubung Petani dan Produsen Kopi Kintamani Hingga Pelatihan Bagi Banyak Ibu Rumah Tangga
Di balik pelaksanaan program ini, ada peran penting Karana Global. Entitas ini bukan hanya menyalurkan biji kopi, tapi juga menaungi petani, pengolah, dan pedagang di Bali. Hingga kini, Karana mendampingi lebih dari 400 petani yang tersebar di tiga subak yaitu timur, tengah, dan barat Kintamani.
Karana menjadi jembatan penting yang memastikan bantuan dan pelatihan benar-benar sampai ke petani. Tak hanya itu, Karana juga mendorong praktik inklusif dengan melibatkan perempuan yang mayoritas adalah ibu rumah tangga dan keluarga petani dalam proses penyortiran kopi.
Konsumen dan Lingkungan Menjadi Bagian dari Siklus Kopi
Keberlanjutan tidak berhenti di kebun kopi. Lewat pilar Kenangan Sirkular, Kopi Kenangan mengajak konsumen untuk ikut serta menjaga lingkungan. Caranya adalah dengan menggunakan tumbler, mendaur ulang gelas plastik, hingga membeli merchandise yang dibuat dari bahan daur ulang seperti phone strap, coaster, dan box tissue.
Ampas kopi pun dimanfaatkan kembali. Di beberapa gerai ramah lingkungan, ampas diolah menjadi pupuk kompos yang bisa dibawa pulang konsumen. Inisiatif ini membuktikan bahwa limbah sekalipun bisa bernilai, selama ada upaya untuk mengolahnya dengan tepat.


