Fakta Terbaru: Pondok Pesantren Al Khoziny Sidoarjo Roboh, Korban Tewas Jadi 5 Orang

Posted on



SIDOARJO, PasarModern.com

– Bangunan musala Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny di Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, ambruk Senin (29/9/2025) sore.

Peristiwa tersebut terjadi saat para santri tengah melaksanakan salat berjamaah Ashar di gedung tiga lantai yang masih dalam tahap pembangunan itu.

Proses evakuasi terus dilakukan Tim SAR gabungan. Diduga terdapat puluhan korban yang masih terjebak di dalam reruntuhan bangunan.

Selengkapnya, berikut PasarModern.com rangkumkan sederet fakta terbaru ihwal peristiwa tersebut:

Fakta Terbaru Tentang Ambruknya Musala Ponpes Al Khoziny

  1. Tujuh korban kembali berhasil dievakuasi

    Hingga Rabu (1/10) malam atau hari ke-3, sebanyak 108 korban telah dievakuasi, di mana 18 di antaranya dievakuasi Tim SAR, sementara sisanya melakukan evakuasi mandiri sesaat kejadian.

    Dari 18 korban yang dievakuasi Tim SAR, tujuh di antaranya berhasil dikeluarkan dari reruntuhan pada Rabu kemarin.

    “Pada hari ini, kita telah berhasil mengevakuasi tujuh korban dengan rincian lima selamat dan dua dalam kondisi meninggal dunia,” kata Direktur Operasi pencarian dan Pertolongan Basarnas RI Laksamana Pertama TNI Yudhi Bramantyo selaku SAR Mission Coordinator (SMC), Rabu.

    Ia menjelaskan pada pukul 14.42 WIB, pihaknya berhasil mengangkat korban ke-12 dalam kondisi meninggal dunia. “Kami tidak bisa menyebutkan identitasnya karena tidak diketahui kemudian sudah dibawa ke Rumah Sakit Siti Hajar dalam proses identifikasi DVI, karena dalam kondisi hitam,” ungkap Yudhi.

    Kemudian pada pukul 15.22 WIB, pihaknya berhasil mengevakuasi korban ke-13 berinisial HK dalam kondisi selamat.

    “Pada pukul 16.05 WIB kita berhasil mengangkat lagi satu korban yang ke-14 atas nama WH dalam kondisi selamat. Pada pukul 18.02 WIB Alhamdulillah kita berhasil mengangkat korban yang ke-15 atas nama PTRA dalam kondisi selamat,” jelasnya.

    Pada pukul 18.17 WIB, tim kembali berhasil mengangkat korban yang ke-16, namun tidak bisa mengidentifikasi identitas karena korban dalam kondisi meninggal dunia.

    “Pada pukul 18.40 WIB, korban ke-17 berhasil kita evakuasi juga atas nama FTH dalam kondisi selamat,” ucapnya.

    “Berantai kita kebut juga akhirnya pada pukul 22.00 WIB korban ke-18 berhasil kita evakuasi atas nama RSI dalam kondisi selamat namun membutuhkan penanganan khusus,” ucapnya.

    Para korban selamat itu kemudian dirujuk ke RSUD RT Notopuro Sidoarjo untuk mendapatkan pertolongan. Terutama SF yang mengalami cedera fraktur atau patah tulang.

    Sementara untuk korban meninggal dibawa ke Rumah Sakit Siti Hajar dalam proses identifikasi DVI.

  2. Korban meninggal dunia jadi 5 orang

    Adapun dengan ditemukannya dua korban meninggal pada Rabu kemarin, maka total korban jiwa dalam peristiwa tersebut menjadi lima orang.

    Mengingat, sebelumnya tercatat telah terdapat tiga korban meninggal.

    Dengan rincian satu korban dilaporkan meninggal dunia di rumah sakit pada Senin (29/9) dan dua lainnya pada Selasa (30/9).

  3. Basarnas kejar golden time

    Kepala Badan SAR Nasional (Basarnas) Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii mengungkapkan dalam proses evakuasi korban ambruknya musala Ponpes tersebut, pihaknya mengejar golden time atau rentang waktu kritis.

    “Saat ini kita mengejar golden time, karena dimungkinkan dari golden time inilah yang kita detek masih ada kehidupan ini masih memungkinkan untuk bisa kita selamatkan dalam kondisi hidup,” kata Syafii dalam keterangannya di konferensi pers, Rabu.

    Menurut penjelasannya, berdasarkan teori golden time untuk penyelamatan korban yang tertimpa reruntuhan umumnya 72 jam atau tiga hari setelah kejadian bencana.

    Meski demikian, ia mengatakan tim SAR sudah dapat menjangkau para santri yang saat ini masih terjebak di reruntuhan bangunan.

    “Sesuai teori memang 72 jam, namun saat kita bisa menyuplai minuman, vitamin, bahkan infus, memungkinkan yang bersangkutan ini bisa bertahan lebih lama,” ucapnya.

  4. Proses evakuasi dilakukan dengan kehati-hatian

    Proses evakuasi korban dalam peristiwa tersebut dilakukan dengan penuh kehati-hatian mengingat kondisi bangunan yang sudah miring dan berpotensi roboh kembali.

    Kepala Basarnas mengatakan, bangunan tersebut mudah runtuh kembali saat adanya getaran yang kuat. Sehingga tim hanya bisa menggunakan peralatan yang tidak membuat getaran berlebihan.

    “Konstruksi yang saat ini terjadi reruntuhan ini, satu titik ada getaran saja bisa menimbulkan dampak-dampak yang lain,” ucapnya.

    “Sehingga kita harus melakukan alternatif-alternatif tindakan. Saat ini untuk menyentuh ke titik korban dengan membuat gorong-gorong di bawah tanah,” ujarnya.

    Sementara itu Kepala Sub Direktorat Pengarahan dan Pengendalian Operasi Bencana dan Kondisi Membahayakan Manusia Basarnas, Emi Freezer mengatakan, dalam golden time 72 jam pertama pascakejadian tim penyelamat melakukan pendekatan secara aman.

    Pasalnya, kata ia, apabila dilakukan penetrasi langsung terhadap kolom utama, akan mengubah konstruksi atau susunan.

    “Informasi hasil analisis dari ITS ini semua sudah kegagalan struktur. Struktur penyangga semua totally collapse atau gagal total untuk memberikan sanggahan. Ini kalau diintervensi sedikit saja akan mengubah pola runtuhan dan rembetannya ke semua sektor yang terhubung dengan bangunan tersebut,” jelasnya, Rabu.

  5. Alasan tak gunakan alat berat

    Dalam kesempatan itu, Emi Freezer membeberkan alasan belum bisa digunakannya alat berat dalam proses evakuasi korban ambruknya bangunan musala Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny di Sidoarjo, Jawa Timur.

    Menurut dia, hal itu karena ada dampak lanjutan jika alat berat dikerahkan.

    “Kenapa alat berat tidak kami optimalkan? Seperti pak Mudji di sini adalah Civil Engineer dari ITS (Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya, beliau sudah membawa peralatan dengan lifting capacity kurang lebih kemampuannya adalah 30 ton,” kata Freezer dalam konferensi pers di Sidoarjo, Rabu (1/10/2025).

    “Di saat kita posisi untuk mengangkat beban pada akses A1 untuk membuat celah agar bisa bekerja lebih maksimal, namun ternyata memberikan dampak pada sisi runtuhan yang bersambungan dengan gedung yang ada di depan,” kata dia.

    Seperti diketahui dalam proses evakuasi ini, tim SAR membagi tiga sektor, pertama yakni sektor A1 yang berada di bagian depan, sektor A2 berada di bagian belakang, dan sektor A3 di bagian atas reruntuhan.

    “Kemarin bapak-bapak lihat saat ada pergerakan di atas ternyata bangunan yang runtuh di Musala ini tidak memberikan dampak secara signifikan, namun getaran yang dirasakan adalah di bangunan paling depan, sehingga akhirnya sempat chaos, namun kemudian dampak seperti ada kegempaan,” tuturnya.

  6. Gempa Sumenep berdampak

    Gempa di kawasan Sumenep, Madura pada Selasa (30/9/2025) berdampak pada reruntuhan bangunan Ponpes Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo.

    Emi Freezer mengatakan gempa tersebut membuat titik lokasi korban, terjadi penurunan beban dan jarak runtuhan dengan lantai.

    “Dari kegempaan semalam dari A1 terjadi penurunan posisi beban. Yang tadinya sekitar 15 cm ditempat korban diukur tadi sudah jadi 10 cm,” ucapnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *