“Isi kepala di balik topi baja, semua serdadu pasti tak jauh berbeda. Tak peduli perwira, bintara atau tamtama, tetap tentara…”
Itulah penggalan syair lagu yang berjudul Serdadu yang dilantunkan seorang penyanyi legendaris, yaitu Iwan Fals. Lagu yang berirama country dengan hentakan nada mars, rasanya pas banget untuk didengarkan dan diresapi makna liriknya.
Mengamati seorang lelaki renta yang berusia 86 tahun dan duduk di kursi teras sambil memijit paha sebelah kanannya, membuat saya ingin berkisah tentang sosok mantan serdadu tersebut dengan status dua veteran pejuang namun beliau enggan untuk disebut sebagai sosok pahlawan.
Banyak dari veteran yang pernah berjuang sebagai pionir yang pertama kali terjun di medan pertempuran demi menjaga keutuhan ibu pertiwi sudah dianggap sebagai pahlawan oleh banyak hati dan pikiran masyarakat kita karena mengingat akan jasa-jasa dan pengorbanan mereka. Namun, kita sebagai masyarakat juga harus mengakui bahwa sebutan “Pahlawan” itu sendiri bisa bersifat subyektif dan cenderung ke arah pribadi dari individu veteran tersebut. Juga, harus dibuktikan dengan adanya surat keputusan dari pemerintah akan penyebutan status pahlawan itu sendiri.
“Veteran ya veteran, dan bukan pahlawan! Jangan pernah menyebutnya seperti itu. Kami semua para veteran hanya melaksanakan tugas dan kewajiban kami sebagai tentara pejuang!” Itu adalah kalimat yang menunjukan kerendahan hati dari Pak Atmojo kepada saya.
“Paha bapak kena apa kok dipijiti terus?” Saya mencoba mengalihkan topik pembicaraan agar beliau merasa nyaman.
“Oh, ini tertembak pasukan Inggris saat bertempur di pedalaman hutan Kalimantan dalam rangka tugas Dwikora!”, jawab pak Atmojo singkat.
Saya pun mengamati dan ternyata memang benar bahwa ada bekas luka berbentuk bulat di paha akibat tertembus peluru dari senjata musuh.
Akhirnya, beliau pun bercerita bahwa pada tahun 1964, pernah ditugaskan di Kalimantan dalam rangka melawan pembentukan negara Federasi Malaysia yang dibentuk oleh negara Inggris dan hal itu dianggap sebagai satu ancaman kepada kedaulatan dan kemerdekaan Republik Indonesia.
Jika kita pernah dengar ada slogan “Ganyang Malaysia” yang dikumandangkan oleh Ir. Soekarno, sebagai Presiden Republik Indonesia yang pertama, itulah pertempuran yang bukan ditujukan untuk melawan rakyat Malaysia, melainkan pada bentuk kolonialisme baru di kawasan Asia Tenggara bentukan negara Inggris.
Berkat penugasan tersebut, Pak Atmojo, menyandang status atau bisa disebut sebagai seorang veteran yang tergabung dalam Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI). Beliau dan pasukannya telah menjadi yang pertama kali diterjunkan dalam medan pertempuran untuk memberikan kesetiaan, pengorbanan, perjuangan dan pengbadian tak terkira demi menjaga NKRI tetap utuh.
Hal itu juga dituangkan dalam surat keputusan pemerintah dan telah diterimakan kepada pak Atmojo sebagai seorang veteran Dwikora yang setia kepada Negara Republik Indonesia. Oleh karena itu, beliau berhak menerima tunjangan khusus veteran di samping menerima gaji pensiunannya sebagai seorang tentara dengan pangkat terakhir Pembantu Letnan Satu (Peltu) TNI-AD.
Hebatnya, beliau ternyata juga mendapatkan penghargaan veteran lainnya sebagai pejuang yang pertama kali dikirim dalam operasi Seroja. Pertempuran di awal tahun 1974 itu semata demi terjalinnya integrasi Timor-Timur yang dijajah Bangsa Portugis untuk bisa bersatu kembali kepada pangkuan Ibu Pertiwi.
Oleh karena pengabdian dan pengorbanannya tersebut, ada bintang jasa, piagam penghargaan dan status veteran untuk kedua kalinya yang berhak diterima dan disandang oleh Pak Atmojo.
Namun Pak Atmojo, tetap tunduk dan patuh pada keputusan Pemerintah Indonesia bahwa berapa kali pun seorang tentara menjalankan tugas dan mendapat status veteran, hanya satu yang harus dipilihnya. Apakah pilihan akan status veteran Dwikiora, atau veteran Seroja?
Akhirnya, beliau memutuskan untuk memilih status veteran Dwikora karena di medan pertempuran hutan belantara Kalimantan itu, beliau hampir kehilangan nyawanya.
“Seorang tentara tidak perlu takut mati tertembak peluruh musuh saat pertempuran, karena setiap butir peluru atau bom itu pasti lah ada namanya bila memang ditakdirkan untuk tertembak. Setiap dari kita sudah siap gugur demi NKRI!”.
Itulah jawaban beliau dari pertanyaan saya apakah tidak takut mati saat bertempur di hutan Kalimantan yang terkenal lebat.
Kalimat jawaban beliau itu terdengar sangat patriotisme di telinga saya. Betapa tidak? Kalimat tersebut bisa membangkitkan semangat akan adanya asumsi bahwa kita semua sudah mulai kehilangan rasa nasionalisme atau bahkan mulai luntur di dalam memaknai kecintaan kita kepada negara dan bangsa Indonesia.
Sejujurnya, ada anggapan dari para veteran pejuang bahwa di zaman sekarang, etos kepahlawanan sudah bias dan serasa melenceng serta cenderung berlabuh demi kepentingan individu, atau golongan dibanding dengan memberikan pengabdian yang terbaik pada negeri ini. Hal itu yang yang harus kita hilangkan bersama dengan berusaha memberikan yang terbaik pada negeri yang kita cintai bersama.
Sambil mengamati guratan wajah pak Atmojo yang masih menampakan ketegasannya, sekali lagi, saya menyimak dengan antusias kisah dari beliau saat bertugas pada operasi Dwikora.
Pengalaman bertempur mati-matian di hutan belantara Kalimantan melawan pasukan Inggris dan juga kisah pertempuran lainnya yang menegangkan saat mengikuti operasi Seroja di Timor-Timur yang bisa memacu hormon adrenalin bagi siapa saja yang mendengarnya.
Di tengah mendengarkan cerita beliau, tiba-tiba saya pun memotong kisah heroiknya, “Apakah bapak Atmojo bersedia bila saya tulis perjalanan hidup bapak, mulai dari menjadi tentara, kemudian kisah pertempuran saat bertugas di Operasi Dwikora dan juga saat operasi Seroja di Timor-timur”?
Beliau pun menoleh dan memandang saya dan tersenyum tanpa berkata apa-apa sambil meneguk teh di gelasnya yang mulai dingin.
“Nanti akan saya jadikan cerita seru dan dicetak menjadi buku seperti Otobiografi dengan tampilan foto-foto selama bertugas jika bapak punya!” tambah saya agar beliau tertarik.
Sambil memegang pundak saya, beliau berkata bahwa dirinya tidak akan bersedia bila kisahnya dibukukan atau bila ada fotonya juga saat bertugas untuk dipublikasikan dalam bentuk buku, novel dan lainnya meskipun mendapatkan royalti setelah bukunya diterbitkan.
“Saya seorang prajurit, seorang veteran pejuang dan saya juga seorang pensiunan tentara! Saya akan tetap menjaga rahasia negara, Sumpah Prajurit juga Sapta Marga Tentara dan akan saya bawa mati semua rahasia dari tugas negara yang pernah saya emban! Cukup kamu saja yang mendengarkannya secara lisan kisah ini”.
Mendengat kalimat yang meskipun berbisik lirih, saya masih tetap bisa mendengarnya dengan jelas.
Betapa hebatnya aura kharisma akan makna semangat kepahlawanannya yang terpancar dari kalimat yang diucapkan oleh sosok veteran Dwikora sekaligus veteran Seroja, Bapak Atmojo.
Semangat berkorban demi keutuhan NKRI dari sosok veteran pejuang yang saya kagumi untuk dijadikan suri tauladan dalam menjalani hidup ini, dan beliau itu adalah ayah kandung saya.


