Awal Mula FN yang Dibully hingga Terjadi Ledakan di SMAN 72 Jakarta
Awal mula peristiwa tragis yang menimpa FN, siswa SMAN 72 Jakarta, ternyata terkait dengan dugaan pengalaman bullying yang dialaminya selama masa SMA. FN awalnya dikenal sebagai sosok yang ceria dan ramah serta pandai bergaul. Namun, keceriaannya mulai berubah seiring dengan perubahan sikapnya di bangku SMA.
Saat ini, FN lebih sering menyendiri dan jarang berinteraksi dengan teman-temannya. Hal ini disampaikan oleh K, salah satu adik kelas FN, yang mengungkap bahwa FN pernah bertanya tentang acara puncak Bulan Bahasa di sekolah. Pertanyaan itu sempat membuat K heran karena FN tidak pernah menunjukkan minat yang besar terhadap kegiatan sekolah sebelumnya.
Dari informasi tersebut, diketahui bahwa FN tampaknya memiliki rencana jangka panjang untuk melakukan aksi yang sangat nekat. Dugaan kuat menyebutkan bahwa FN ingin membalaskan dendam akibat perlakuan bullying yang dialaminya. Menurut FA, salah satu siswa lain, FN sengaja melakukan aksi peledakan pada momen sholat Jumat, meskipun pada hari itu ia sedang libur.
Perubahan Sikap FN yang Mengkhawatirkan
Pengamatan dari Ketua RT setempat juga menunjukkan bahwa FN semakin tertutup dan sulit bersosialisasi. Ia dikenal sebagai anak yang tidak pernah bergabung dalam kegiatan bersama teman-teman sekitar. Bahkan, saat di rumah, FN tidak pernah menyapa pemilik rumah atau menunjukkan tata krama yang baik.
FN tinggal bersama orang tuanya di sebuah rumah usaha kuliner di kawasan Jalan Mahoni 1, Sukapura, Cilincing, Jakarta Utara. Orang tua FN bekerja di tempat usaha tersebut. Dari pengamatan Ketua RT, FN sudah tinggal di rumah itu sejak masih kecil, yaitu sejak SD. Namun, setelah masuk SMA, perilakunya semakin berubah menjadi lebih tertutup dan jarang keluar rumah.
Bawa 7 Bahan Peledak, 3 Tidak Meledak
Dalam peristiwa ledakan di SMAN 72 Jakarta, terduga pelaku FN disebut membawa tujuh bahan peledak. Dari jumlah tersebut, empat di antaranya meledak di dua lokasi berbeda, sementara tiga lainnya tidak meledak. Pihak kepolisian telah menyita bahan-bahan tersebut untuk penyelidikan lebih lanjut.
Rumah FN Digeledah
Pasca ledakan, petugas gabungan dari Polda Metro Jaya, Densus 88, dan Puslabfor Mabes Polri melakukan penggeledahan di rumah FN. Beberapa barang bukti seperti paket berisi serbuk berhasil dibawa oleh polisi. Di depan rumah, beberapa orang juga dimintai keterangan oleh aparat kepolisian.
Pakar Ungkit Masalah Bullying
Seorang pakar psikologi forensik, Reza Indragiri Amriel, mengungkit kembali isu bullying sebagai salah satu faktor yang mungkin melatarbelakangi aksi FN. Menurutnya, bullying yang terjadi di lingkungan sekolah sering kali tidak ditangani secara serius, sehingga korban akhirnya merasa tidak ada solusi lain selain bertindak ekstrem.
Reza menjelaskan bahwa banyak korban bullying yang akhirnya menjadi pelaku kekerasan karena tidak mendapatkan dukungan yang cukup. Ia menyarankan agar bullying dianggap sebagai kasus pidana, terutama karena korban dan pelaku biasanya masih dalam usia anak-anak.
Solusi yang Harus Dilakukan
Reza menekankan pentingnya pendekatan multidimensi dalam menangani kasus seperti ini. Ia mengusulkan penerapan model Bioecological Model (BM) dan Interactive Model (IM) dalam proses hukum. Namun, ia menyadari bahwa sistem peradilan saat ini cenderung cepat dan sederhana, sehingga sulit untuk menerapkan pendekatan yang lebih holistik.


