Akhirnya Terungkap, Makanan Apa yang Dikonsumsi Mahasiswa UKIT Tomohon?

Posted on

Peristiwa Keracunan Massal di Asrama Mahasiswa Teologi UKIT Tomohon

Sejumlah besar mahasiswa Fakultas Teologi Universitas Kristen Indonesia Tomohon (UKIT) di Sulawesi Utara dilaporkan mengalami keracunan makanan. Kejadian ini terjadi di lingkungan asrama putra-putri UKIT Tomohon pada hari Kamis, 11 September 2025. Hingga Jumat, 12 September 2025, jumlah korban yang mendapat perawatan medis mencapai 79 orang.

Para mahasiswa diduga mengalami gejala keracunan setelah menyantap hidangan yang disajikan di asrama. Mereka segera dilarikan ke dua rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut. Dua rumah sakit yang digunakan sebagai tempat perawatan adalah Rumah Sakit Umum GMIM Bethesda dan Rumah Sakit Gunung Maria Tomohon.

Rumah Sakit Umum GMIM Bethesda berada di Jalan Raya Tomohon, Kelurahan Talete Satu, Kecamatan Tomohon Tengah, Kota Tomohon. Rumah sakit ini termasuk fasilitas kesehatan tipe C yang dikelola oleh Yayasan Medika Gereja Masehi Injili di Minahasa. Lokasinya mudah diakses dari wilayah perkotaan maupun pedesaan.

Sementara itu, Rumah Sakit Gunung Maria Tomohon terletak di Jl. Sejahtera No. 282, Tomohon. Rumah sakit ini merupakan rumah sakit umum yang dikelola oleh organisasi Katolik dan berlokasi di Kota Tomohon.

Penanganan Medis dan Pemeriksaan Lapangan

Kasat Reskrim Polres Tomohon, Iptu Royke Raymon Mantiri, menyampaikan bahwa para korban saat ini masih dirawat di kedua rumah sakit tersebut. Menurutnya, beberapa korban masuk ke rumah sakit pada hari Rabu, sementara yang lainnya masuk pada hari Kamis.

Iptu Royke menegaskan bahwa pihaknya akan kembali melakukan pengecekan di lapangan karena ada informasi tentang adanya korban baru. “Data yang kami kumpulkan dari hari Rabu hingga hari ini, namun kami akan cek lagi karena katanya ada korban baru yang masuk,” ujarnya.

Selain itu, ia menjelaskan bahwa beberapa korban telah pulang, tetapi sebagian lainnya masih dalam perawatan. Saat ini, tim masih berada di lokasi untuk memastikan kondisi korban.

Penyelidikan Kasus Keracunan

Menurut Iptu Royke, kasus ini masih dalam penyelidikan oleh Polres Tomohon. “Kita gelar dan nanti akan dipastikan apakah ada unsur pidananya atau tidak,” ujarnya.

Dia juga meminta masyarakat untuk mempercayakan penyelidikan kasus ini kepada pihak kepolisian. Iptu Royke menegaskan bahwa proses penyelidikan akan dilakukan secara transparan dan profesional.

Sampel Makanan yang Diperiksa

Dalam penyelidikan, pihak kepolisian telah mengambil sampel makanan untuk diperiksa di laboratorium forensik. Sampel yang diambil meliputi tempe, sayuran, dan penyedap rasa. Menurut Iptu Royke, para korban ternyata mengonsumsi makanan yang sama untuk menu pagi, siang, dan sore.

Data sementara menunjukkan bahwa sebanyak 68 mahasiswa mengalami keracunan. Namun, angka ini bisa saja bertambah karena tim masih melakukan pendataan.

Pemeriksaan Saksi

Sebanyak 12 saksi terkait kasus ini telah diperiksa. Delapan di antaranya berasal dari dapur asrama, termasuk koki, petugas dapur, dan pihak yang bertanggung jawab atas pembelian bahan makanan. Selain itu, empat pasien yang menjadi korban juga dimintai keterangan.

Pernyataan dari Pihak Kampus

Dekan Fakultas Teologi UKIT, Pdt. Dr. Denny A. Tarumingi, membenarkan adanya kejadian keracunan ini. Menurutnya, para dosen telah ke rumah sakit untuk mendampingi mahasiswa yang menjadi korban. “Kita sudah turun langsung ke rumah sakit sejak hari Rabu hingga hari ini untuk mendampingi mahasiswa kami,” jelas Denny.

UKIT juga menyatakan akan bertanggung jawab penuh terhadap biaya pengobatan para korban. “Untuk biaya perawatan di rumah sakit kita akan tanggung semuanya. Semua akan dimaksimalkan,” ujarnya.

Informasi Tentang Kota Tomohon

Kota Tomohon terletak di Provinsi Sulawesi Utara, Indonesia. Letaknya sekitar 35 km dari Bandara Sam Ratulangi Manado, dengan waktu tempuh sekitar satu jam dari Manado. Secara geografis, Tomohon berada di daerah pegunungan dan dikelilingi oleh Kabupaten Minahasa.

Dahulu, Tomohon merupakan bagian dari Kabupaten Minahasa sebelum akhirnya menjadi kota otonom pada tahun 2003.