Ahli UGM Mengungkap Keterlibatan Mafia Migas dalam Pembakaran Kilang Dumai, Setelah Purbaya Kritik Pertamina yang Tidak Proaktif

Posted on

Dugaan Kebakaran Kilang Minyak di Dumai oleh Mafia Migas

Pakar ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi, menyatakan dugaan kuat bahwa kebakaran kilang minyak milik Pertamina di Dumai, Riau, pada Rabu malam (1/10/2025) adalah hasil dari tindakan yang disengaja atau dilakukan secara sistematis oleh kelompok mafia migas. Menurutnya, tujuan dari tindakan tersebut adalah untuk menurunkan produksi BBM dari kilang tersebut, sehingga Indonesia harus terus mengimpor bahan bakar minyak (BBM) dalam jumlah besar.

Fahmy, yang pernah menjadi anggota Tim Antimafia Migas yang dibentuk oleh Presiden Joko Widodo pada 2014 dan diketuai oleh Faisal Basri, menjelaskan bahwa ia memiliki beberapa alasan untuk menduga adanya tindakan sengaja dari pihak tertentu. Ia mengungkapkan bahwa kebakaran kilang ini terjadi beruntun, namun tidak pernah ditemukan penyebab pasti melalui proses penyelidikan.

“Kami melihat ada pola kejadian kebakaran yang berulang, tetapi tidak pernah bisa diungkap dengan jelas. Ini membuat saya mempertanyakan apakah kebakaran itu benar-benar terjadi secara alami atau ada unsur kesengajaan,” ujar Fahmy dalam wawancara yang ditayangkan di channel YouTube @voidotid.

Ia menegaskan bahwa tujuan dari kebakaran tersebut adalah agar produksi BBM dari kilang menurun, sehingga meningkatkan kebutuhan impor BBM. Hal ini akan memberi peluang bagi mafia migas untuk memperoleh keuntungan lebih besar.

Cara Mafia Migas Berburu Rente

Fahmy menjelaskan bahwa mafia migas biasanya mencari keuntungan melalui impor BBM, khususnya dari Singapura. Proses impor tersebut dapat dilakukan melalui blending atau lelang (bidding). Dengan demikian, mereka akan berusaha semaksimal mungkin untuk mencegah pembangunan kilang baru dan menurunkan produksi kilang lama.

Kilang minyak merupakan fasilitas industri kompleks yang berfungsi untuk mengolah minyak mentah menjadi produk-produk petroleum seperti bensin, diesel, LPG, dan aspal. Fasilitas ini sangat penting dalam mendukung rantai pasok energi nasional maupun global, karena minyak mentah tidak dapat langsung digunakan sebelum diproses di kilang.

Kebakaran Kilang Terjadi Setelah Pernyataan Menteri Keuangan

Salah satu alasan lain yang membuat Fahmy menyimpulkan adanya intervensi dari mafia migas adalah kebakaran yang terjadi sehari setelah Menteri Keuangan Purbaya menyampaikan pernyataan tentang 7 kilang minyak yang dijanjikan oleh Pertamina sejak 2018 tetapi belum direalisasi hingga saat ini.

Purbaya menyatakan bahwa Pertamina dinilai lambat dalam membangun kilang minyak saat rapat kerja dengan DPR RI pada Selasa (30/9/2025). Ia juga mengatakan bahwa sampai sekarang, kilang minyak belum dibangun, sementara beberapa kilang justru dibakar.

“Setelah pernyataan tersebut, kebakaran kilang terjadi. Ini sangat aneh dan harus diusut tuntas,” ujar Fahmy.

Riwayat Kebakaran Kilang di Indonesia

Sebelum kejadian di Dumai, beberapa kilang minyak Pertamina pernah terbakar dalam beberapa tahun terakhir. Contohnya:

  • Kilang Balikpapan terbakar pada Sabtu dini hari, 25 Mei 2024.
  • Kilang Dumai terbakar pada April 2023 akibat kebocoran gas hidrogen.
  • Depo minyak Pertamina di Plumpang, Jakarta Utara, terbakar pada Maret 2023 dan menewaskan 17 orang serta mengungsikan lebih dari 1000 orang.
  • Kebakaran di kilang Pertamina di area Refinery Unit (RU) V Balikpapan terjadi pada Maret 2022.
  • Kilang Pertamina di Cilacap terbakar pada November 2021.

Fahmy mengungkapkan bahwa kebakaran-kebakaran ini sering dikambinghitamkan sebagai akibat petir. Namun, ia menilai hal ini tidak masuk akal karena sistem keamanan kilang yang merupakan fasilitas strategis seharusnya memiliki perlindungan yang berlapis.

Kritik terhadap Sistem Keamanan Kilang

Menurut Fahmy, sistem keamanan kilang di luar negeri biasanya menetapkan standar zero accident, artinya tidak ada kecelakaan yang terjadi. Jika terjadi percikan api, sistem keamanan akan segera memadamkannya. Namun di Indonesia, kebakaran di kilang terjadi secara berulang dan mudah terjadi.

“Fahmy menyatakan bahwa kilang-kilang yang ada di Indonesia umumnya adalah kilang tua yang sewaan. Hal ini membuatnya rentan rusak dan mudah terbakar.”

Penghalangan Pembangunan Kilang Baru

Fahmy menambahkan bahwa sejak pemerintahan SBY hingga Jokowi, rencana pembangunan kilang minyak selalu gagal. Ia mengatakan bahwa mafia migas melakukan penghalangan secara sistemik untuk mencegah pembangunan kilang baru.

“Karena mafia migas berburu rente dari impor BBM, maka mereka berusaha memastikan bahwa impor BBM tetap tinggi dan pembangunan kilang baru tidak terwujud,” katanya.

Menurut data yang ia kutip, impor BBM saat ini mencapai 1,3 juta barel per hari. Angka ini sangat besar dan menyebabkan inefisiensi dalam pembelian serta meningkatkan subsidi BBM.

Contoh Kegagalan Kerja Sama dengan Negara Lain

Fahmy mencontohkan bahwa Pertamina pernah bekerja sama dengan Aramco untuk membangun kilang dalam jumlah produksi yang sangat besar. Namun, kerja sama tersebut gagal karena insentif yang dijanjikan kepada Aramco tidak diberikan. Akibatnya, Aramco mengundurkan diri.

Selain itu, kerja sama dengan Rusia untuk membangun kilang di Jawa Tengah juga dibatalkan setelah rakyat setempat mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi (MK) dan menang.

Begitu pula dengan kerja sama dengan Qatar untuk membangun kilang, yang juga gagal karena penolakan dari warga setempat.

Rekomendasi untuk Pemerintahan Prabowo

Fahmy menyarankan kepada pemerintahan Prabowo jika ingin membangun kilang untuk menekan subsidi BBM, jangan melibatkan Pertamina. Ia menilai bahwa Pertamina adalah tempat berkeliaran para mafia migas, sehingga pembangunan kilang akan mudah dibatalkan.

“Jika ingin membangun kilang, pemerintahan Prabowo bisa melibatkan Danantara,” ujarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *