Waktu Perang yang Dekat: Iran, Hormuz, dan Ujian Ekonomi Indonesia

Posted on

Perkembangan Terkini Serangan AS dan Israel terhadap Iran

Memasuki hari keempat serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, sejumlah peristiwa penting terjadi. Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan tewas dalam serangan tersebut. Iran merespons dengan balasan yang keras, mengirimkan rudal dan pesawat tanpa awak yang menargetkan lokasi strategis di negara-negara tetangga. Bandara Internasional Dubai mengalami ledakan, sementara kilang minyak Ras Tanura milik Saudi Aramco dan Kedutaan Besar AS di Riyadh juga menjadi sasaran. Meskipun demikian, Iran membantah telah melancarkan serangan terhadap kilang Aramco.

Iran juga menutup Selat Hormuz, yang merupakan jalur logistik global penting. Jalur ini menghubungkan Oman dan Iran, serta menjadi jalur pelayaran yang sempit dengan hanya 3 km ruang laut untuk kapal tanker. Setiap hari, sekitar 20 juta barel minyak atau sepertiga dari pasokan global melewati selat ini, membuatnya menjadi target yang rentan.

Harga minyak Brent sempat melonjak 13% menjadi US$82,37 per barel pada Senin (2/3), sebelum akhirnya turun ke level US$79,78. William Jackson, ekonom dari Capital Economics, mengatakan jika konflik berlarut-larut, harga minyak bisa mencapai US$100 per barel.

Pengaruh Konflik terhadap Pasokan Minyak Global

Meskipun Iran hanya berkontribusi sekitar 3-4% dari total produksi minyak global, sanksi ekonomi berkepanjangan menghambat produksinya. Saat ini, Iran memproduksi sekitar 3,3 juta barel per hari, sebagian besar dijual ke Cina. Namun, dampak serangan AS ke Iran cepat menyebar ke wilayah lain.

Belum ada tanda-tanda perang akan mereda. AS diperkirakan akan meningkatkan intensitas serangan dalam 24 jam ke depan. Presiden AS Donald Trump bahkan memprediksi konflik akan berlangsung empat hingga lima minggu.

Dampak pada Indonesia

Konflik ini memiliki dampak langsung bagi Indonesia, meskipun jarak antara Teheran dan Jakarta mencapai 7.400 kilometer. Disrupsi logistik energi dan lonjakan harga minyak menjadi salah satu yang paling dikhawatirkan. Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso menyebut harga minyak sangat sensitif.

Asumsi harga minyak di APBN saat ini adalah US$70 per barel. Kenaikan US$1 per barel akan menambah beban belanja APBN hingga US$10,3 triliun. Direktur Eksekutif Center for Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menyebut jika harga minyak mencapai US$100-120 per barel, kenaikan belanja negara bisa mencapai Rp515 triliun.

Efek Bola Salju pada Perekonomian

Lonjakan harga minyak akan seperti bola salju yang menggulung perekonomian. Minyak menjadi tulang punggung logistik. Saat harga bahan bakar melonjak, distribusi barang akan semakin mahal. Sekretaris Jenderal DPP Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Trismawan Sanjaya menyebut ada potensi pengalihan rute kapal setelah penutupan Selat Hormuz. Namun, durasi pengiriman akan bertambah 15-20 hari, yang tentunya akan mengerek biaya operasional.

Jika kondisi ini terus berlangsung, biaya logistik global diperkirakan naik lebih dari 30% dibandingkan periode sebelum eskalasi konflik. “Bahkan di beberapa rute, kenaikan freight bisa sampai 45-58%,” katanya.

Dampak pada Industri dan Inflasi

Risiko serupa juga akan terjadi di dalam negeri. Founder & CEO Supply Chain Indonesia (SCI), Setijadi menyebut struktur logistik Indonesia masih bergantung pada transportasi jalan, terutama truk. Ini membuat sensitivitas terhadap harga solar relatif tinggi. Kenaikan harga solar hingga 10% misalnya, akan mendorong ongkos angkut naik sekitar 4%.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani mengakui kondisi ini akan menekan industri nasional. Menurutnya, bahkan tanpa penutupan Selat Hormuz, ketidakpastian geopolitik sudah cukup untuk meningkatkan premi risiko harga minyak dan gas.

Stabilitas Ekonomi Indonesia

Pemerintah mengaku menyiapkan sejumlah langkah untuk mengatasi kondisi ini. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan suplai pasokan minyak tidak hanya berasal dari Timur Tengah, tetapi juga dari Amerika Serikat dan bahkan Rusia. Pertamina sudah membuat MoU dengan AS, seperti Chevron dan Exxon.

Meskipun menghadapi serangkaian risiko geopolitik global, pemerintah masih cukup percaya diri. “Fundamental eksternal Indonesia tetap baik, tercermin dari kinerja neraca perdagangan yang masih mencatatkan surplus selama 69 bulan berturut-turut,” kata Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu.

Inflasi Februari 2026 tercatat 4,76% (yoy), meski pemerintah menilai tekanan harga secara fundamental masih terkendali. Dengan mengecualikan dampak kebijakan diskon listrik pada awal 2025, inflasi diperkirakan berada di kisaran 2,59%. “Secara fundamental, tekanan harga tetap terkendali dan diperkirakan kembali normal mulai Maret 2026,” kata Febrio.

Konflik ini mungkin terjadi ribuan kilometer dari Indonesia, tetapi dampaknya bisa terasa hingga ke harga pangan dan daya beli masyarakat. Di tengah ketidakpastian geopolitik yang kian rapuh, ketahanan fiskal dan energi akan menjadi ujian sesungguhnya bagi perekonomian nasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *