Tujuh Prajurit Marinir Korban Longsor Cisarua, Putra Terbaik Gorontalo

Posted on

Identitas Tujuh Prajurit Marinir yang Dievakuasi dari Bencana Tanah Longsor

Tujuh prajurit Marinir TNI AL telah berhasil dievakuasi dan diidentifikasi setelah bencana tanah longsor menerjang kawasan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Salah satu dari mereka adalah Serda Marinir Rein Pasaike, asal Gorontalo. Penemuan jasad para ksatria samudra ini menjadi titik terang sekaligus menyisakan kesedihan mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan.

Tim SAR gabungan yang terdiri dari unsur TNI, Polri, Basarnas, dan relawan terus bekerja keras di medan berat. Mereka menggunakan anjing pelacak, ekskavator, dan drone untuk mencari korban lain yang masih tertimbun. Operasi pencarian diperpanjang tujuh hari ke depan, dengan status tanggap darurat 14 hari, karena masih ada 16 prajurit dan sejumlah warga sipil yang dilaporkan hilang.

Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Laut (Kadispenal), Laksamana Pertama TNI Tunggul, menyampaikan bahwa keberhasilan evakuasi ketujuh prajurit ini adalah hasil kerja sama sinergis antarinstansi. Menurutnya, proses identifikasi dilakukan secara cepat namun tetap mengedepankan akurasi agar tidak terjadi kesalahan dalam penyerahan jenazah kepada pihak keluarga.

“Kami sampaikan duka cita yang sedalam-dalamnya atas gugurnya para prajurit terbaik Korps Marinir. Hingga hari ini, tim SAR gabungan telah berhasil mengevakuasi tujuh jenazah, namun perjuangan belum berakhir karena masih ada rekan-rekan mereka yang dalam proses pencarian,” ujar Laksamana Pertama TNI Tunggul saat dikonfirmasi.

Berita gugurnya prajurit asal Gorontalo ini langsung memicu gelombang simpati di tanah kelahirannya. Nama Serda Marinir Rein Pasaike kini menjadi perbincangan hangat sekaligus menjadi simbol patriotisme bagi warga Gorontalo yang merasa kehilangan sosok pemuda tangguh yang rela berkorban demi ibu pertiwi. Rein Pasaike bersama rekannya, Koptu Marinir Edi Haryono, merupakan dua nama terakhir yang berhasil diidentifikasi dari kloter evakuasi tersebut.

Kehadiran identitas Rein dalam daftar korban gugur membuat masyarakat di Bumi Serambi Madinah tersebut terhenyak, mengingat ia merupakan salah satu representasi pemuda Gorontalo di kancah militer nasional. Pemerintah Provinsi Gorontalo dan jajaran Lanal Gorontalo dikabarkan tengah mempersiapkan prosesi penyambutan jenazah jika nantinya keluarga memutuskan untuk memakamkan almarhum di kampung halaman. Kabar ini menjadi pengingat bagi publik akan risiko tinggi yang dihadapi setiap prajurit TNI dalam menjalankan tugas di medan bencana sekalipun.

Kadispenal merinci bahwa identitas kelima prajurit lainnya telah lebih dulu diketahui pada pertengahan pekan lalu. Meskipun identitas sudah dirilis, suasana di markas besar Korps Marinir tetap diliputi mendung kesedihan saat bendera setengah tiang dikibarkan sebagai bentuk penghormatan terakhir bagi mereka yang gugur di medan tugas.

“Adapun 7 prajurit yang telah berhasil dievakuasi yaitu Serda Marinir Sidiq Hariyanto, Praka Marinir Muhammad Kori, Praka Marinir Andre Nicky Olga Suwita, Praka Marinir Ari Kurniawan, Pratu Marinir Febry Bramantio, Serda Marinir Rein Pasaike dan Koptu Marinir Edi Haryono,” tegas Tunggul secara resmi.

Daftar Lengkap 7 Prajurit Marinir yang Dievakuasi

Berikut adalah daftar nama prajurit Korps Marinir yang telah ditemukan:

  • Serda Marinir Sidiq Hariyanto
  • Praka Marinir Muhammad Kori
  • Praka Marinir Andre Nicky Olga Suwita
  • Praka Marinir Ari Kurniawan
  • Pratu Marinir Febry Bramantio
  • Serda Marinir Rein Pasaike
  • Koptu Marinir Edi Haryono

Perjuangan Tim SAR di Medan Berat

Pencarian korban di Kampung Pasir Kuning, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua bukanlah perkara mudah. Material longsor yang terdiri dari tanah liat basah, bebatuan besar, hingga reruntuhan bangunan menjadi tantangan utama bagi 3.675 personel yang diterjunkan ke lokasi.

Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, secara resmi telah memperpanjang masa operasi SAR. Keputusan ini diambil mengingat masih adanya 16 prajurit TNI AL lainnya dan beberapa warga sipil yang dilaporkan hilang dan diduga tertimbun di bawah lapisan tanah yang tebal.

“Operasi ini kami perpanjang tujuh hari ke depan, menyesuaikan dengan masa tanggap darurat yang ditetapkan oleh Bupati Bandung Barat,” jelas Syafii. Fokus utama saat ini adalah menyisir sektor-sektor yang dianggap menjadi lokasi titik kumpul terakhir para prajurit sebelum longsor menerjang.

Penggunaan Teknologi dan Anjing Pelacak

Untuk mempercepat pencarian, tim SAR tidak hanya mengandalkan tenaga manusia. Sebanyak 22 ekor anjing pelacak K9 dikerahkan untuk mendeteksi keberadaan korban melalui aroma tubuh di bawah timbunan tanah setinggi beberapa meter. Selain itu, alat berat berupa 17 unit ekskavator dioperasikan dengan sangat hati-hati. Alat berat ini berfungsi membuka akses jalan dan memindahkan batu-batu besar yang tidak mungkin diangkat secara manual oleh personel di lapangan.

Pemanfaatan teknologi udara juga menjadi kunci dalam memetakan pergerakan tanah. Sebanyak 22 unit drone diterjunkan untuk memantau area dari ketinggian, memastikan keselamatan tim evakuasi dari ancaman longsor susulan yang masih mungkin terjadi jika hujan kembali turun.

Sektor Pencarian yang Terbagi

Kepala Kantor SAR Bandung, Ade Dian Permana, menjelaskan bahwa area longsor dibagi menjadi beberapa sektor pencarian. Penemuan jenazah terjadi di titik-titik yang berbeda, menunjukkan betapa kuatnya daya dorong material longsor saat kejadian berlangsung.

“Kami menemukan korban di Worksite A dan Worksite B. Jarak antar penemuan menunjukkan bahwa sebaran material longsor ini cukup luas,” kata Ade. Hingga Sabtu siang, total kantong jenazah yang telah dievakuasi mencapai angka 63, yang mencakup korban militer dan sipil.

Tim DVI Polri bekerja tanpa henti di posko kesehatan untuk melakukan pencocokan data antemortem dan postmortem. Hal ini sangat penting karena kondisi jenazah yang terkena tekanan material berat memerlukan ketelitian medis untuk memastikan identitas yang benar sebelum diserahkan ke keluarga.

Pemerintah Kabupaten Bandung Barat sendiri telah menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari. Hal ini memungkinkan alokasi dana darurat dan pengerahan sumber daya yang lebih besar untuk menangani dampak bencana hidrologi ini.

Marsekal Madya Syafii berharap seluruh korban dapat ditemukan sebelum masa tanggap darurat berakhir pada 6 Februari 2026.

“Mohon doanya dari seluruh masyarakat agar cuaca mendukung dan kami bisa membawa pulang semua korban ke pangkuan keluarga,” tambahnya.