Ringkasan Berita:
- Armansyah dan keluarganya berhasil selamat dari amukan banjir bandang di Salareh Aie Timur, Palembayan, Agam.
- Meski sudah berkumpul dengan seluruh keluarganya, Armansyah melihat ada luka psikis yang masih tertanam pada ketiga anaknya.
- Terkhusus dua anaknya yang melihat langsung dirinya dan mertuanya terbawa arus bergelut hingga berhasil keluar.
- Armasnyah menilai trauma healing sangat dibutuhkan oleh para korban terkhusus anak.
PasarModern.com, AGAM – Di balik suara gemuruh banjir bandang yang meluluhlantakkan Nagari Salareh Aie Timur, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, tersimpan luka batin yang masih sulit disembuhkan, terutama bagi anak-anak yang menyaksikan langsung bencana itu.
Armansyah, salah satu warga yang selamat bersama keluarganya, mengaku ketiga anaknya mengalami trauma mendalam.
Meski sudah berkumpul dengan seluruh keluarganya, Armansyah melihat ada luka psikis yang masih tertanam pada ketiga anaknya.
Terkhusus dua anaknya yang melihat langsung dirinya dan mertuanya terbawa arus bergelut hingga berhasil keluar.
Kedua anaknya itu, masih dititipkan Armansyah ke tempat keluarganya yang lain, karena tidak berani melihat rumahnya.
Sampai saat ini anaknya masih belum berani untuk datang kembali ke rumah tempat ia dibesarkan yang hanya tersisa lumpur dan satu dinding, penahan Arman dan mertuanya yang berhasil selamat dari kejadian.
“Kalau saya lihat trauma healing sangat dibutuhkan oleh para korban terkhusus anak. Karena di usia itu mereka harus melihat kenyataan, fenomena yang tak pernah terbayangkan atau diceritakan,” ujarnya, Senin (8/12/2025).
Gemuruh Banjir Bandang Mirip Putaran Helikopter
Meski harus menapaki lumpur tanah hampir satu meter (setinggi paha orang dewasa) kaki mungil Armansyah tidak pernah letih berjalan, mencari istri dan anak pasca diterpa banjir bandang di Salareh Aie Timur, Palembayan, Agam, Sumbar, Kamis (27/11/2025).
Setiap detik kejadian itu masih menyelinap dalam ingatannya.
Rasa pasrah namun tidak ingin menyerah menyelimuti Armansyah, terpenting ia bisa bertemu istri dan anaknya.
Sore itu, sekitar pukul 17.27 WIB (seingatnya) gesekan batu dan material banjir bandang terdengar bak bunyi helikopter, meski tidak masuk akal, tapi ke sana arah pikiran Armansyah.
Bunyi itu coba ia sederhanakan menjadi alat berat, mengingat beberapa hari lalu alat berat pernah melintas di dekat rumahnya, bunyi itu diiringi getaran tapi bukan gempa bumi pula.
Suara itu agak membuat penasaran Armansyah, yang hari itu berada di dalam rumah bersama dua anak, istri dan mertuanya.
“Saya lihat ke pintu, tidak kunjung alat berat lewat. Saya makin penasaran, saya berdiri di teras bersama mertua dan dua anak saya,” ujarnya.
Posisinya, Armansyah dan mertua sudah di teras, dua anaknya masih di dekat pintu utama rumah, takut akan suasana yang terjadi.
Tidak selang berapa menit matanya sibuk mencari dan telinganya masih mendengar, beberapa orang berlari melewatinya di jalan, berteriak “Galodo,galodo” sambil berlalu.
Masih coba memahami maksud warga tersebut, air sudah menghempas rumahnya, besar, deras penuh dengan material dan lumpur tanah.
“Saya sempat berputar dalam arus air tersebut, bersama mertua. Anak posisinya masih aman, namun mereka melihat semua kejadian,” ujarnya.
Berkutat dalam arus air yang deras, Armansyah berhasil keluar entah mendapat bantuan dari mana, ada tembok berhasil menahan dirinya dan pijakan untuk keluar, membawa mertuanya.
Sigap saja, Arman, dua anak dan mertuanya lekas mengungsikan diri, berlari dengan hati-hati, menuju ke tempat lebih tinggi.
Di tempat yang menurutnya sudah aman dan sejumlah warga juga sudah berada di sana, serta beberapa sanak saudaranya.
Tapi kejadian itu seperti belum selesai, Arman tersadar istri dan satu anaknya sudah tidak ada.
Suasana panik menyelimutinya, kecemasan akan kehilangan istri menyertai, Arman tidak tenang, ingin kembali menyusuri aliran air yang belum jinak.
“Saya sempat ditahan oleh sejumlah warga untuk sabar sebentar, tunggu air tenang,” ujarnya.
Selang 30 menit dari kejadian, hujan belum kunjung datang, namun gelap malam dan arus listrik yang padam membuat suasana sangat mencekam.
Suara minta tolong muncul dari arah mana saja, sejumlah pemuda kembali turun dari pengungsian menyusuri jalan, mencari keluarga sambil mengerahkan tenaga sisa membantu warga.
Armansyah turut serta dalam rombongan pemuda itu, turun ke lokasi bencana yang tak jelas sudah selesai atau ada gelombang selanjutnya.
“Kami turun melihat kondisi yang sangat mencekam, membantu mana yang bisa dibantu. Namun tujuan utama saya mencari istri dan anak,” ujarnya.
Ia berjalan pelan, matanya sigap mencari namun suara lain dan wajah lain yang ia dapati, belum juga istri dan anaknya.
Arman tidak mau menyerah, ia nekat untuk terus berjalan, menyusuri istrinya sepanjang dampak banjir bandang, yang baru saja menerjang.
Malam itu Arman sempat mengirim pesan ke sejumlah keluarga istrinya, melalui telepon istrinya bahwa ada bencana dan istri serta anaknya belum tidak bersamanya, belum ditemukan.
“Melihat banyak warga yang terdampak, terimpit, bermandi lumpur. Saya seperti tidak tahu arah, pasrah kalau istri dan anak sudah tiada. Tapi saya harus temukan,” ujarnya.
Pesan Singkat di Telepon dan Informasi Warga
Rasa putus asa yang sudah menyelimuti Arman membuat tangis tak terbendung dan emosinya makin tak berarah, ia makin nekad.
Warga menahannya, mengajaknya untuk lebih tenang, kembali ke tempat yang aman, supaya tidak gegabah dan kembali memakan korban.
Arman memang agak sulit berdamai jika memang apa yang ia pikirkan terjadi, ia merasa gagal.
Ternyata pesan singkat masuk ke telepon istrinya saat Arman kembali ke pengungsian, hendak memindahkan anak dan mertuanya ke lokasi lebih aman.
“Masuk pesan dari keluarga istri, kalau istri sudah menghubungi bahwa ia aman, posisinya di Koto Alam,” ujarnya.
Pesan singkat ini, membawa ingatan Arman, bahwa istrinya sempat minta izin ingin pergi ke Koto Alam tempat saudaranya sore itu, tapi seingatnya istrinya belum keluar, motor masih terparkir di halaman.
Informasi serupa kembali datang dari masyarakat lain yang mengaku melihat istri dan anaknya di Koto Alam.
Ia masih belum percaya, sudah empat jam melakukan pencarian, tekadnya bulat untuk melihat langsung ke lokasi yang disebut warga.
“Sekitar pukul 22.00 WIB saya kembali menyusuri lumpur tanah itu, berjalan sejauh satu kilo lebih melihat kondisi istri dan anak saya,” ujarnya, yang sempat ditahan oleh sejumlah warga, mengingat kondisi saat itu.
Tapi Arman berhasil meyakinkan bahwa ia akan baik-baik saja, ditemani sejumlah warga ia menempuh perjalanan sekira 30 menit itu.
Benar saja setelah menyusuri jalan lumpur nan kelam itu, ia melihat wajah istrinya dan anaknya kembali dalam kondisi aman dan sudah bersama para warga lain.
Ternyata istrinya, saat bunyi gemuruh dan getaran terasa, langsung lari ke sawah tempat terbuka, mengira ada gempa.
Tidak hanya lari ke sawah, istrinya juga lari ke tempat lebih tinggi, mendengar adanya galodo, sehingga sampai ke tempat saudaranya di Koto Alam.
“Beruntung sekali, saya masih diberikan kesempatan untuk berkumpul bersama keluarga, meski rumah habis dan ada beberapa warga lain yang harus kehilangan sanak saudaranya,” ujar Armansyah.
Hanya setengah jam bertemu istrinya, Arman kembali pamit bersama sejumlah pemuda yang menamninya, kembali membantu warga yang meminta tolong.(*)


