Tantangan Utang Kereta Cepat Rp 116 T, Rocky Gerung Sebut Jokowi Tak Bisa Tidur Nyenyak

Posted on

Rocky Gerung Kritik Jokowi Terkait Proyek Kereta Cepat Whoosh

Rocky Gerung, seorang tokoh masyarakat yang dikenal dengan kritik tajamnya terhadap berbagai isu politik dan sosial, kembali mengkritik mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam konteks proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB), yang kini dikenal sebagai “Whoosh”. Isu utang hingga Rp116 triliun yang dianggap menjadi beban bagi negara menarik perhatian Rocky. Ia menyatakan bahwa Jokowi saat ini tampak kehilangan “pulung”, sebuah istilah dalam budaya Jawa yang menggambarkan hilangnya wahyu kekuasaan dan kejernihan membaca tanda zaman.

Menurut Rocky, konsep pulung dalam budaya Jawa adalah cahaya biru atau hijau yang muncul untuk menunjukkan bahwa seseorang akan memperoleh wahyu atau anugerah kekuasaan. Namun, ia menilai Jokowi kini telah kehilangan hal tersebut, sehingga tidak lagi mampu membaca arah perubahan sosial maupun politik yang terjadi di sekitarnya.

Masa Depan Pasca-Kepemimpinan Jokowi

Rocky juga memprediksi bahwa masa pasca-kepemimpinan Jokowi akan penuh gejolak, dihantui berbagai skandal lama yang terus dibongkar publik. Beberapa isu yang mencuat antara lain adalah polemik terkait keabsahan ijazah Jokowi dan proses pencalonan putra sulungnya, Gibran Rakabuming Raka, sebagai calon Wakil Presiden dalam Pilpres 2024. Meskipun Gibran akhirnya terpilih mendampingi Presiden Prabowo Subianto, kritik terhadap proses pencalonannya tetap bergulir.

Polemik Proyek Whoosh

Proyek Whoosh sendiri awalnya digagas pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada 2011, dengan Jepang sebagai mitra utama melalui JICA. Jepang telah melakukan studi kelayakan dan menawarkan pinjaman bunga rendah. Namun, pada 2015, Jokowi memilih China sebagai mitra, yang dinilai lebih mahal meski menawarkan teknologi lebih luas.

Kritik terhadap proyek ini terus meningkat, terutama karena adanya dugaan mark-up dalam pembangunan. Menurut informasi yang didapat dari sumber terpercaya, anggaran proyek Whoosh diduga kuat dimark-up beberapa kali lipat. Selain itu, proyek ini dinilai tidak urgent, sehingga menyebabkan beban utang yang besar.

Utang Whoosh Sebagai Bom Waktu

Utang proyek Whoosh mencapai Rp116 triliun, menjadi beban berat bagi BUMN Indonesia, khususnya PT Kereta Api Indonesia (KAI). Proyek yang resmi beroperasi sejak 2023 ini mengalami pembengkakan biaya sebesar 1,2 miliar dollar AS atau sekitar Rp19,54 triliun. Total investasi proyek mencapai 7,2 miliar dollar AS atau sekitar Rp116 triliun.

Dari total investasi, 75 persen berasal dari pinjaman China Development Bank, sedangkan sisanya berasal dari setoran modal pemegang saham. Proyek ini memberikan tekanan besar terhadap kinerja keuangan PT KAI, yang mencatat kerugian senilai Rp1,625 triliun pada semester I-2025.

Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin menyebut utang proyek Whoosh sebagai bom waktu, sehingga pihaknya akan melakukan koordinasi dengan BPI Danantara untuk menanganinya.

Kritik atas Keputusan Politik Jokowi

Rocky Gerung menilai bahwa Jokowi terlalu memaksakan proyek tanpa izin dari masyarakat Indonesia. Ia menyoroti urgensi Whoosh yang sebenarnya tidak terlalu mendesak, hingga akhirnya proyek tersebut justru menjadi beban utang. Ia juga menyebut bahwa keputusan Jokowi dalam proyek ini bisa disebut sebagai ketidakcermatan pembuatan kebijakan, bahkan bisa saja kesengajaan.

Kesimpulan

Dengan berbagai isu yang terus mencuat, Rocky Gerung menilai bahwa bayang-bayang masa lalu Jokowi akan terus menghantui, terlebih jika masyarakat dan media terus menggali kembali jejak-jejak kepemimpinannya selama dua periode berturut-turut. Dalam pandangannya, Jokowi tidak bisa tidur nyenyak karena setiap hari, emak-emak, BEM, dan netizen membongkar kembali skandal-skandal yang pernah terjadi selama 10 tahun kepresidenannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *