“Karena ketika berdebat, istri tidak berniat untuk menang. Dia hanya ingin menjelaskan apa yang dia rasakan. Banyak konflik terjadi, karena salah satu pihak merasa tidak dipahami… bersambung…”
Akun @pernikahan****
Kompasianer, relasi suami istri memang sangatlah unik. Relasi dua pribadi beda karakter dan latar belakang, namun terhubung dalam satu tali rahasia. Ikatan tali tak kasat mata, namun kuat berlangsung dalam jangka waktu yang panjang.
Saya yakin, setiap pasangan berharap pernikahannya bakalan langgeng. Satu hati hanya untuk satu orang, bertahan seumur hidup hingga maut memisahkan. Tetapi untuk meraih cita- cita mulia itu, tentu tidak semudah membalik telapak tangan.
Sepasang suami istri, tetaplah dua pribadi dengan karakter berbeda. Masing- masing punya sudut pandang, dan isi kepala yang tidak sama. Punya kecenderungan, cara bersikap, mengambil keputusan yang tak serupa. Maka sangatlah wajar, kalau sesekali suami istri ribut adu argumen.
Si istri maunya A suami maunya B, istri seleranya X suami seleranya Y. Hal demikian mustahil dihindari. Kalau yang dikedepankan ego, niscaya pertengkaran terus berlangsung.
Memberi toleransi, memaafkan, memaklumi untuk sebuah kesalahan. Saling belajar mengerti, memahami, menerima satu sama lain adalah kunci kelanggengan.
Suami istri dengan kesadaran penuh, musti berusaha menyelaraskan satu sama lain. Mencari jalan tengah, agar keinginan keduanya terakomodir. Sehingga setiap keputusan, tujuannya demi kebaikan bersama.
Sudah menjadi hukum alam, bahwa pembawaan laki- laki dan perempuan berbeda. Umumnya laki- laki lebih mengedepankan logika, sedangkan perempuan mengutamakan perasaan.
Cuplikan status salah satu akun medsos, saya tulis ulang di awal artikel sangatlah related. Bisa menjadi nasehat buat para suami, saat mendapati istri sedang ngomel.
Ya, paling aman suami diam mendengarkan jangan menyela. Biarkan istri ngomel sepuasnya, mengeluarkan semua uneg- unegnya. Jangan menyangkal atau membela diri, biarkan istri menyelesaikan omelannya.
Di lain waktu setelah semua mereda dan tenag, perlahan- lahan suami bisa menjelaskan duduk perkara. Dalam kondisi tenang dan santai, niscaya salah paham bisa diluruskan.
—– —- —
Kompasiasner, terutama para suami. Mungkin pernah mengalami, suasana rumah setelah terjadi keributan suami istri. Beberapa waktu terasa canggung, kaku, istilah sekarang awkard. Suami istri dengan sisa ego, sedang di fase berusaha berdamai.
Apalagi ketika suami, berada di posisi menang adu argumen. Ketika semua pendapat istri terbantahkan, dari sisi manapun istri salah dan kalah. Biasanya seperti ada periode ngambang, keadaan rumah sangat tidak nyaman.
Istri betah di kamar, pintu dikunci dengan rapatnya. Sikap istri mendadak dingin, tidak mau diganggu oleh siapapun termasuk suami atau anak. Anak yang sedang bermain dengan senangnya, sama sekali tidak membantu mengubah suasama.
Kalau sudah demikian, suami yang menang di atas angin berada di posisi serba salah. Mengatasi rengekan anak, karena istri tak keluar kamar saat anak nangis. Rumah berantakan, makanan tak tersedia di meja, meski jam makan sudah datang.
Kalahnya istri di pertengkaran, efeknya merembet kemana- mana. Lagi- lagi suami sangat dilematis, musti segera bertindak cepat menurunkan tensi.
Sebagai orang dewasa, tak masalah suami berinisiatif merendahkan ego. Memulai lebih dulu minta maaf, meskipun dirinya berada di pihak yang menang. Mengalah tidak memperpanjang masalah, karena tidak ada manfaat didapat dari kemenangannya.
Sikap mengalah sangat penting, dan suami jangan gengsi mengalah. Selama tujuannya mulia, yaitu demi kebaikan bersama. Mengalahnya suami, membuat istri merasa diratukan. Merasa tetap disayang, meski dirinya salah dan kalah.
Kalau sudah demikian, biasanya rumah yang beku kembali hangat. Wajah yang tadinya muram, kembali bersinar dengan cerah. Ke depan menjadi pelajaran, suami jangan mendebat saat istri sedang ngomel.
Suami Jangan Mendebat Saat Istri Sedang Ngomel
(lanjutan )
“Dengan mengalah dalam arti menahan diri bukan kalah, suami memberi ruang bagi istri untuk mengekspresikan emosinya sampai reda. Dengan begitu diskusi menjadi lebih rasional, peran suami diuji bukan untuk membuktikan logika, tapi untuk menjaga hatinya.”
Mengalahnya suami ke istri, bagi saya sama sekali tidak menjatuhkan harga diri. Justru sebagai pembuktian, rasa sayang yang sungguh- sungguh. Karena banyak dampak baik dirasakan, dalam jangka waktu panjang.
Suami yang mengalah ke istri, sangat bisa menyadarkan istri dirinya diutamakan. Rasa hormat itu akan tumbuh, rasa penghargaan akan muncul dengan sendirinya. Sehingga tak ada alasan, istri tidak patuh pada suami.
Kompasianer, relasi suami istri memang sangatlah unik. Relasi dua pribadi beda karakter dan latar belakang, namun terhubung dalam satu tali rahasia. Ikatan tali tak kasat mata, namun kuat berlangsung dalam jangka waktu yang panjang.
Hubungan itu akan kuat, kalau terus dijaga dan dipertahankan. Melalui kejadian di keseharian, misalnya suami jangan mendebat saat istri sedang ngomel.
Semoga bermanfaat.


