Suami Hajar Istri Narsis di Medsos, Masuk RS dan Rebutan HP

Posted on

Suami Tega Penganiaya Istri Karena Terlalu Narsis di Media Sosial

Seorang suami di Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, menghajarnya hingga babak belur karena kesal dengan sikap istrinya yang terlalu narsis di media sosial. Kejadian ini berawal dari perkelahian antara keduanya saat memperebutkan ponsel.

Peristiwa Pemukulan yang Mengakibatkan Luka Parah

Menurut informasi yang diperoleh, kejadian ini terjadi pada Kamis (30/10/2025). Suami bernama MN (53) dan istrinya SY (51) sempat terlibat rebutan handphone sebelum tindakan kekerasan terjadi. Saat itu, MN mendatangi istrinya yang sedang sibuk menggunakan ponsel di dalam kamar. Ia meminta SY untuk menyerahkan handphone, tetapi ditolak.

Akibatnya, terjadi percekcokan yang berujung pada pemukulan. MN memukul SY hingga mengalami luka lebam dan benjol di wajah. Akibatnya, SY harus dirawat di rumah sakit.

Setelah menerima laporan dari korban, polisi langsung melakukan penangkapan terhadap MN pada Sabtu (1/11/2025) malam. MN kini ditahan di penjara dengan dugaan melanggar Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (PKDRT).

Motif Penganiayaan yang Muncul dari Emosi

Kasat Reskrim Polres Ogan Ilir AKP Mukhlis menjelaskan bahwa motif penganiayaan berasal dari emosi MN akibat sikap istri yang terlalu narsis di media sosial. Menurutnya, SY sering kali mengunggah foto-foto dirinya di Facebook, sehingga membuat MN merasa tidak nyaman.

“Tersangka emosi karena korban banyak unggah foto di Facebook, narsis begitu,” ujar Mukhlis kepada wartawan di Indralaya, Minggu (2/11/2025).

MN kini menghadapi ancaman hukuman pidana penjara selama lima tahun. Proses hukum terhadapnya akan dilanjutkan sesuai ketentuan yang berlaku.

Memahami Narsisme dan Gangguan Kepribadian Narsistik

Narsisme adalah sifat yang biasanya terlihat pada seseorang yang ingin menjadi pusat perhatian. Namun, jika perilaku tersebut berlebihan dan mengganggu hubungan dengan orang lain, maka bisa disebut sebagai Gangguan Kepribadian Narsistik (NPD).

NPD merupakan gangguan kepribadian yang tercantum dalam DSM-5-TR, yaitu buku panduan diagnosis gangguan mental. Gejalanya meliputi:

  • Suka Menjadi Pusat Perhatian: Orang dengan NPD cenderung melebih-lebihkan pencapaian atau mengarang cerita untuk menarik perhatian.
  • Memberikan Nasihat yang Tak Diminta: Mereka sering kali memberi nasihat tanpa diminta, namun dengan cara yang menunjukkan superioritas.
  • Tidak Sabar Menunggu: Narsisis sering merasa berhak atas perlakuan istimewa dan mudah frustrasi jika tidak segera dipenuhi.
  • Ambisi Tanpa Batas: Mereka percaya diri mereka ditakdirkan untuk menjadi hebat, bahkan sering meremehkan orang lain.
  • Pandai Menebar Pesona: Meski terlihat ramah, perhatian yang diberikan bersifat transaksional dan bertujuan untuk mendapatkan validasi.
  • Sangat Kompetitif: Mereka selalu ingin menang dan sulit menerima kekalahan.
  • Pendendam: Narsisis sulit mengelola rasa sakit hati dan cenderung membalas dendam.
  • Tidak Pernah Salah: Mereka jarang mengakui kesalahan dan lebih memilih menyalahkan orang lain.
  • Memanfaatkan Orang Lain: Narsisis sering memperlakukan orang lain sebagai alat untuk mencapai tujuan pribadi.
  • Mendambakan Pengakuan dan Validasi: Mereka sangat membutuhkan perhatian dan kekaguman dari orang lain.

Empat Hal Penting Tentang NPD

Psikolog klinis Zachary Rosenthal PhD menjelaskan beberapa hal penting tentang NPD:

  • Apakah Narsisis Orang yang Buruk?

    Tidak selalu. Banyak dari mereka tumbuh dengan keyakinan bahwa mereka istimewa dan pantas mendapat perlakuan lebih baik, tanpa belajar tentang empati dan kerendahan hati.

  • Bagaimana NPD Didiagnosis?

    Diagnosis dilakukan melalui wawancara terstruktur oleh profesional kesehatan mental untuk menilai pola perilaku seseorang.

  • Apakah NPD Bersifat Genetik?

    Tidak ada gen khusus untuk NPD. Lingkungan berperan besar dalam perkembangan kondisi ini, terutama pada anak-anak yang didorong untuk merasa luar biasa sejak kecil.

  • Bisakah Seseorang Pulih dari NPD?

    Ya, bisa. Namun, butuh waktu dan upaya besar. Terapi individu dan hubungan saling percaya antara pasien dan terapis sangat penting dalam proses pemulihan.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *