Praktik Kerja Lapangan (PKL) masih menjadi salah satu fase penting bagi siswa SMK sebelum mereka mengantongi ijazah kelulusan. Meski terlihat seperti formalitas namun sejatinya kegiatan ini adalah jembatan transisi antara dunia sekolah dan meniti dunia kerja yang sesungguhnya.
Di sinilah siswa SMK belajar tentang budaya perusahaan, etos kerja, profesionalisme kerja, dan bagaimana menerapkan kompetensi mereka di situasi nyata.
Namun, tidak semua tempat PKL memahami esensi pembinaan yang seharusnya menjadi inti kegiatan ini. Masih ada siswa yang mengalami perlakuan diskriminatif, tidak dihargai, bahkan diperlakukan seperti tenaga kerja gratis yang siap diperintah sesuka hati. Padahal tujuan PKL adalah edukasi, bukan eksploitasi.
Siswa SMK yang mengikuti PKL sebenarnya sedang membangun identitas profesionalnya. Mereka sedang belajar membaca ritme kerja, mempelajari SOP, dan memahami realita dunia kerja. Maka, seyogyanya mereka dibimbing, bukan dijatuhkan. Diarahkan, bukan direndahkan.
Dunia kerja memang penuh dinamika dan tuntutan. Tetapi memberikan tekanan berlebihan kepada siswa PKL hanya akan memutus semangat mereka untuk berkembang. Terlebih jika perlakuan yang diberikan mengarah pada bullying terselubung, pelecehan verbal, atau tugas-tugas di luar batas wajar. Ini bukan pembelajaran, melainkan perusakan karakter.
Sementara itu, banyak tempat PKL yang sudah menerapkan sistem pembinaan yang humanis. Mereka menyambut siswa seperti rekan muda yang perlu diarahkan. Tempat-tempat seperti inilah yang sesungguhnya menjalankan mandat PKL secara profesional. Sayangnya, praktik baik ini belum terjadi secara merata.
Karena itu, penting mengingatkan bahwa siswa PKL bukanlah yang harus melayani segala bentuk instruksi. Mereka adalah peserta didik yang diamanatkan oleh sekolah untuk belajar. Keberhasilan mereka nantinya merupakan cerminan keberhasilan pembimbing di tempat PKL.
PKL seharusnya menjadi ruang kolaborasi antara sekolah dan dunia usaha. Jika hubungan ini dijaga dengan etika dan rasa saling menghormati maka dunia kerja akan menjadi ruang belajar yang aman, nyaman, menggembirakan, dan menumbuhkan kemandirian siswa.
Siswa PKL Bukan Robot
Siswa SMK yang mengikuti PKL sedang berada pada fase penting dalam perjalanan pendidikannya. Mereka sedang menyerap pengetahuan baru, lingkungan baru, dan budaya kerja baru yang tentu jauh berbeda dari suasana kelas.
Siswa PKL datang untuk belajar maka harus diperlakukan secara manusiawi. Karena itu, pembimbing atau mentor di tempat PKL sudah seharusnya memperlakukan mereka layaknya peserta didik bukan tenaga kerja yang bisa diperintah seenaknya.
Mereka membutuhkan arahan, bukan cacian. Mereka membutuhkan bimbingan, bukan hinaan. Perlakuan kasar hanya akan membuat siswa kehilangan kepercayaan diri dan menganggap dunia kerja sebagai ruang yang penuh intimidasi. Padahal, sektor dunia usaha saat ini justru membutuhkan SDM yang percaya diri, proaktif, dan mampu berkomunikasi secara sehat.
Dalam pendekatan pendidikan vokasi, pembinaan dilakukan melalui coaching, mentoring, hingga supervisi yang beretika. Banyak negara maju menerapkan konsep workplace learning yang berfokus pada penghargaan terhadap pembelajar baru.
Pemahaman bahwa siswa PKL adalah pembelajar sangat penting sebab mereka sedang memastikan apakah kompetensi yang dipelajarinya di kelas relevan dengan kebutuhan dunia kerja.
Jika tempat PKL bersikap ramah, mengajarkan hal-hal baru, dan memberikan ruang eksplorasi, maka siswa akan pulang dengan pengalaman nyata yang memperkaya portofolio mereka.
Sebaliknya, jika mereka disambut dengan kalimat merendahkan, tugas yang tidak masuk akal, atau perlakuan otoriter, maka pengalaman buruk itu akan mengendap dan membentuk trauma terhadap dunia kerja. Tentu ini bertolak belakang dengan tujuan pemerintah meningkatkan employability lulusan SMK.
Siswa SMK bukanlah profesional yang sudah mahir. Mereka masih belajar dan proses belajar selalu membutuhkan kesabaran dari pembimbing. Di sinilah letak kedewasaan tempat PKL diuji. Apakah mereka benar-benar siap menjadi mitra sekolah dalam membentuk tenaga kerja muda Indonesia.
PKL yang baik adalah PKL yang memanusiakan siswa. Ketika siswa diperlakukan dengan hormat maka mereka akan tumbuh menjadi insan profesional yang siap memasuki dunia kerja dengan mental sehat dan kompetensi matang.
Stop Diskriminasi dan Bullying
Dunia kerja bukan arena survival atau persaingan yang tidak sehat. Diskriminasi terhadap siswa kerap muncul dalam pelaksanaan PKL. Ketika sebuah tempat PKL menerima siswa dari berbagai sekolah seringkali muncul kecenderungan untuk membanding-bandingkan kemampuan, perilaku, atau performa mereka. Padahal setiap siswa berasal dari latar pembelajaran, fasilitas, dan pembimbing yang berbeda.
Diskriminasi ini kadang muncul dalam bentuk halus seperti perlakuan berbeda, pemberian tugas yang tidak adil, hingga komentar sinis seperti “anak sekolah itu lebih rajin daripada kalian”. Ini bukan hanya melukai hati siswa tetapi juga menciptakan suasana kerja yang toksik.
Bullying terhadap siswa PKL jelas tidak bisa dibenarkan. Mereka bukan objek pelampiasan ego senior atau pekerja lama yang ingin menunjukkan kekuasaan. Tempat PKL seharusnya menjadi ruang aman dan bukan arena intimidasi. Menghormati siswa PKL adalah bagian dari budaya kerja yang profesional.
Terlebih lagi, tidak ada manusia yang ingin diperlakukan berbeda. apalagi ketika mereka datang untuk belajar. Semua orang ingin dihargai, dihormati, dan diperlakukan dengan standar etika yang sama. Dunia kerja seharusnya menjadi role model etika profesional.
Ketika siswa mendapatkan perlakuan adil, tanpa diskriminasi, mereka akan lebih mudah beradaptasi. Siswa belajar dari lingkungan yang suportif.
PKL yang sehat adalah yang memperlakukan semua siswa sama. Tidak ada kasta. Tidak ada sekolah unggulan dan sekolah “biasa”. Yang ada hanyalah pembelajar yang sedang menempuh jalan untuk bekal masa depan.
PKL Bukan Ajang Eksploitasi
Jangan bebani siswa dengan tugas yang tidak masuk akal. Salah satu kesalahan fatal dalam pelaksanaan PKL adalah ketika siswa diberikan tugas di luar kompetensinya atau pekerjaan yang bersifat merendahkan secara fisik maupun mental.
Ada kasus siswa PKL yang disuruh membawa barang berat, membersihkan area khusus yang berbahaya, atau melakukan pekerjaan kasar yang seharusnya bukan bagian dari pembelajaran.
Hal ini bukan hanya melanggar etika tetapi juga bertentangan dengan prinsip keselamatan kerja. Dalam Permenaker RI tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), tenaga kerja termasuk peserta magang memiliki hak untuk bekerja dalam kondisi aman dan sesuai kemampuan. Siswa SMK pun termasuk di dalamnya.
Siswa PKL tidak seharusnya dijadikan “tukang suruh”. Mereka layak mendapatkan pembelajaran yang relevan dengan kompetensi produktif yang sedang mereka pelajari di sekolah. Jika jurusannya teknik komputer, maka tugas yang diberikan harus terkait perawatan perangkat, troubleshooting ringan, atau administrasi digital. bukan mengangkat galon air sepanjang hari.
Fenomena “penyiksaan” sering terjadi karena tempat PPL belum memiliki kesadaran bahwa siswa adalah tamu yang datang untuk belajar. Mereka bukan tenaga gratis yang bisa digunakan sesuka hati. Jika tugas berat diberikan secara asal-asalan maka ada risiko kecelakaan kerja.
Selain itu, pemberian tugas yang tidak manusiawi bisa merusak mental siswa. Mereka bisa merasa tidak dihargai dan kehilangan motivasi untuk berkarir di bidang yang harus mereka tekuni. Padahal tujuan PKL adalah menumbuhkan minat kerja, bukan memadamkannya.
Tempat PKL yang ideal adalah yang memberikan kombinasi antara tantangan dan bimbingan. Mereka menyusun jobdesk terukur, memberi pelatihan, menjelaskan SOP, dan memastikan siswa memahami tugasnya. Itulah ciri-ciri tempat PKL yang profesional.
PKL harus menjadi pengalaman yang memperkaya, bukan pengalaman yang meninggalkan luka. Dengan manajemen tugas yang tepat maka siswa bisa pulang dengan pengalaman nyata, bukan cerita pahit.
Kesalahan adalah Pembelajaran
Siswa SMK yang sedang PKL biasanya masih meraba bagaimana alur kerja berlangsung. Mereka mungkin canggung, masih lamban, atau keliru dalam menjalankan instruksi. Di sinilah peran pembimbing sangat penting: menegur dengan elegan dan mendampingi dengan empati.
Teguran yang baik bukan yang melukai hati. melainkan yang mengarahkan tanpa menjatuhkan. Dunia kerja membutuhkan budaya komunikasi yang dewasa dan sehat. Ketika siswa melakukan kesalahan maka tugas pembimbing cukup menunjukkan cara yang benar.
Kesalahan adalah bagian alami dari proses pembelajaran. Tanpa kesalahan, tidak ada kemajuan. Jika siswa dimarahi tanpa dijelaskan solusinya, itu bukan pembinaan. itu hanya pelampiasan emosi.
Ketika pembimbing mampu menjaga wibawa tanpa mengintimidasi. Siswa akan belajar bahwa lingkungan profesional itu tegas namun tetap manusiawi.
Ketika pembimbing menunjukkan sikap bijaksana maka siswa akan meniru hal yang sama kelak ketika mereka memasuki dunia kerja sesungguhnya. Budaya saling menghargai pun akan terus diwariskan.
Dengan demikian, PKL bukan hanya transfer keterampilan tetapi juga proses pembentukan karakter profesional yang beretika dan bermoral.
Pesan Moral
Pada akhirnya, PKL bukan hanya urusan siswa SMK. Ini adalah urusan bersama: sekolah, dunia usaha, orangtua, dan masyarakat.
PKL adalah investasi jangka panjang dalam mencetak SDM muda yang kompeten dan beretika. Maka setiap pihak harus menjaga proses ini tetap manusiawi.
Tempat PKL seharusnya memberi pengalaman terbaik. Bukan pengalaman traumatis. Satu perlakuan buruk saja bisa mengubah masa depan seorang siswa. Sementara satu bimbingan baik bisa menjadi titik balik yang menginspirasi dirinya selama bertahun-tahun.
Kita perlu menyadari bahwa siswa SMK adalah generasi penerus tenaga kerja Indonesia. Mereka akan mengisi industri, layanan publik, hingga sektor digital yang sedang bertumbuh pesat. Mereka pantas mendapatkan perlakuan yang membangun kemandirian dan kepercayaan diri.
Menghormati siswa PKL adalah bentuk penghormatan terhadap proses pendidikan nasional. Karena mereka bukan hanya individu, tetapi representasi dari kualitas vokasi Indonesia.
Jika tempat PKL memberikan pembinaan dengan hati maka Indonesia akan memiliki SDM unggul, pekerja tangguh, dan generasi profesional yang siap bersaing secara global.
PKL yang ideal bukan hanya mengajarkan skill tetapi juga nilai disiplin, empati, etika. etos kerja, dan integritas. Semua nilai ini hanya bisa tumbuh dari lingkungan yang sehat.
Karena banyak kasus-kasus di berbagai tempat PKL yang tidak sempat diangkat ke permukaan. Bukan berarti semuanya baik-baik saja. Semoga ini menjadi perhatian kita bersama.
Jadi mari terus ingat bahwa memanusiakan siswa PKL berarti memanusiakan masa depan bangsa.
Semoga ini bermanfaat.
Literasi:
https://smk.kemendikdasmen.go.id/berita/enam-kunci-utama-dari-mendikdasmen-agar-menjadi-lulusan-smk-hebat#:~:text=%E2%80%9CMurid%20SMK%20harus%20memiliki%20kemampuan,kuat%2C%20dan%20menghargai%20sebuah%20perbedaan.
https://temank3.kemnaker.go.id/page/perundangan_detail/8/01be2bc7a2c52ffe68b7b885e4761972
*****
Salam berbagi dan menginspirasi.
== AKBAR PITOPANG ==


