Selain Brenton Tarrant, Ini Makna 8 Istilah Kontroversial Senjata Mainan Terduga Pelaku Ledakan di SMAN 72

Posted on

Insiden Ledakan di SMAN 72 Jakarta Utara: Temuan Terkait Istilah Ekstrem

Insiden ledakan yang terjadi di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 72 Jakarta Utara pada Jumat, 7 November 2025, menjadi perhatian publik. Ledakan tersebut melukai sejumlah orang, termasuk terduga pelaku yang diduga merupakan salah satu siswa di sekolah tersebut. Dalam olah tempat kejadian perkara (TKP), pihak kepolisian menemukan senjata mainan atau replika dengan permukaan bertuliskan sejumlah frasa asing yang menimbulkan kecurigaan.

Beberapa tulisan itu menarik perhatian publik karena memiliki kemiripan dengan istilah yang sering muncul dalam kasus kekerasan bersenjata di luar negeri. Polisi menyebut seluruh temuan di lokasi masih dalam tahap pendalaman dan akan diumumkan setelah hasil investigasi lengkap. Tulisan-tulisan pada senjata tersebut kini menjadi bagian penting dalam penyelidikan untuk mengungkap motif di balik aksi yang menyebabkan puluhan korban luka itu.

Berikut beberapa istilah yang ditemukan tertulis pada senjata mainan dalam kasus ledakan SMAN 72 Jakarta Utara:

For Agartha

Tulisan “For Agartha” merujuk pada legenda Agartha, kerajaan mitologis yang dipercaya tersembunyi di pusat bumi. Dalam teori konspirasi modern, Agartha sering dijadikan simbol dunia bawah tanah yang dianggap “lebih murni” dan dihuni makhluk superior.

Konsep ini terkait erat dengan teori Hollow Earth yang populer sejak abad ke-19 dan kemudian diadopsi oleh kalangan okultis serta kelompok ekstrem kanan. Dalam sejarah, beberapa tokoh Nazi disebut mengaitkan Agartha dengan sumber kekuatan ras Arya. Bahkan, beredar teori konspirasi bahwa setelah kekalahan, Hitler dan pasukannya kabur ke Antartika untuk bersembunyi di Agartha.

Kini, istilah tersebut sering muncul di komunitas daring ekstrem kanan sebagai simbol penolakan terhadap keberagaman dan tatanan dunia modern. Muncul sebagai meme, sandi forum, hingga slogan terselubung dalam manifesto kekerasan bersenjata. Simbol ini juga digunakan untuk mengekspresikan imajinasi pelarian ke dunia baru yang diyakini lebih murni dari keberagaman dan nilai-nilai demokratis.

Brenton Tarrant

Pada 15 Maret 2019, Brenton Tarrant, ekstremis sayap kanan asal Australia, melakukan penembakan brutal di dua masjid di Christchurch, Selandia Baru, menewaskan 51 orang dan melukai puluhan lainnya. Serangan itu disiarkan langsung di Facebook melalui kamera di helmnya, memunculkan istilah “terorisme bergaya gim video”.

Sebelum aksinya, Tarrant mengunggah manifesto berjudul The Great Replacement di forum 8chan yang memuat teori konspirasi rasis tentang “penggantian ras dan budaya” oleh imigran. Video berdurasi 17 menit tersebut cepat menyebar luas hingga akhirnya dilarang keras oleh pemerintah Selandia Baru.

Tarrant menargetkan jamaah salat Jumat di Masjid Al Noor serta musala Linwood. Ia dijatuhi hukuman penjara seumur hidup tanpa pembebasan bersyarat pada 2020, vonis terberat dalam sejarah hukum Selandia Baru. Namun, pada 2021 ia mengklaim dipaksa mengaku bersalah dan berencana mengajukan banding. Klaim itu memicu kekecewaan publik, terutama komunitas Muslim, yang menilai tindakannya hanya membuka kembali luka lama korban dan keluarga mereka.

14 Words

Frasa “14 Words” merupakan slogan utama kelompok supremasi kulit putih, berbunyi:
“We must secure the existence of our people and a future for white children.”
(Kita harus menjaga keberlangsungan bangsa kita dan masa depan anak-anak kulit putih).

Istilah ini berasal dari David Lane, anggota kelompok ekstremis “The Order” di Amerika Serikat. Slogan tersebut kerap dikombinasikan dengan angka 88 (singkatan dari Heil Hitler), menjadi kode “14/88” yang lazim digunakan dalam simbol, grafiti, dan senjata oleh kelompok rasis internasional.

Slogan tersebut disusul dengan slogan kedua:
“Because the beauty of the White Aryan woman must not perish from the earth.” (Karena kecantikan wanita Arya tidak boleh musnah dari muka bumi ini)

Luca Traini

Nama Luca Traini mengacu pada pelaku penembakan bermotif rasis di Macerata, Italia, pada 3 Februari 2018. Traini menembaki warga kulit hitam dari dalam mobil dan melukai enam orang. Saat ditangkap, ia mengenakan bendera Italia dan melakukan salam fasis. Aksinya dikecam luas sebagai bentuk teror berbasis kebencian rasial.

Ketika ditangkap, ia membungkus tubuhnya dengan bendera Italia dan sempat melakukan salam fasis. Serangan ini terjadi di tengah meningkatnya tensi politik terkait isu imigrasi menjelang pemilu Italia waktu itu, dan banyak pihak mengecam aksi Traini sebagai bentuk teror rasis berbasis ideologi ultranasionalis. Berdasarkan penyisiran, polisi menemukan pistol di dalam kendaraannya.

Welcome to Hell

Frasa “Welcome to Hell” berarti “Selamat Datang di Neraka.” Ungkapan ini sering digunakan dalam budaya pop dan komunitas daring ekstrem untuk menandai aksi kekerasan atau penolakan terhadap otoritas.

Alexandre Bissonnette

Alexandre Bissonnette, mantan mahasiswa ilmu politik berusia 29 tahun, dijatuhi hukuman penjara seumur hidup tanpa kemungkinan pembebasan bersyarat selama 40 tahun atas aksi penembakan brutal di masjid Kota Quebec, Kanada, pada Januari 2017.

Serangan tersebut terjadi sekitar pukul 20.00 waktu setempat dan menewaskan enam orang jamaah serta melukai 19 orang lainnya, termasuk satu korban yang mengalami kelumpuhan permanen.

Dalam penyelidikan, Bissonnette diketahui terobsesi pada Presiden Amerika Serikat Donald Trump, ideologi sayap kanan, dan memiliki kebencian mendalam terhadap Muslim. Saat kejadian, sekitar 40 orang tengah berada di dalam masjid ketika Bissonnette melepaskan tembakan selama kurang dari dua menit, menyebabkan kepanikan dan kekacauan di tempat ibadah itu.

Natural Selection

Tulisan “Natural Selection” ditemukan juga di senjata mainan tersebut. Frasa ini terkenal karena tertera pada kaus yang dikenakan Eric Harris. Salah satu pelaku penembakan di Columbine High School, Colorado, Amerika Serikat. Tulisan itu mencerminkan pandangan gelap Harris tentang seleksi alam, keyakinan bahwa hanya yang kuat yang pantas bertahan hidup.

Bersama sahabatnya, Dylan Klebold, Harris melancarkan salah satu serangan paling tragis dalam sejarah sekolah di AS, menewaskan 13 orang dan melukai 24 lainnya sebelum keduanya bunuh diri.

Keduanya dikenal pendiam dan tertutup, namun memiliki ketertarikan kuat pada senjata, gim video kekerasan, dan ideologi ekstrem. Menurut penyelidikan, mereka mulai merencanakan serangan sejak Mei 1998, hampir setahun sebelum tragedi terjadi yang dilakukan bertepatan dengan ulang tahun Adolf Hitler.

Selama berbulan-bulan, Harris dan Klebold menyiapkan bahan peledak dan senjata api, serta membuat video dan catatan harian yang menggambarkan kemarahan mereka terhadap lingkungan sekolah dan masyarakat. Dalam catatannya, Harris menulis kekaguman terhadap konsep “seleksi alam” dan menyatakan keinginan untuk “menyaring yang lemah”. FBI kemudian menyimpulkan bahwa Harris menunjukkan ciri-ciri psikopat dengan sifat narsistik dan agresif, sedangkan Klebold digambarkan sebagai remaja depresif yang pendendam.

1189

Angka 1189 tertulis pada bagian grip depan senjata mainan. Angka ini dikaitkan dengan Brenton Tarrant, yang mencantumkan “Acre 1189” pada senjatanya sebagai referensi terhadap Perang Salib Ketiga, simbol konflik antara dunia Kristen dan Muslim.

Terduga pelaku pengebom di musala ini secara sengaja mencantumkan nama-nama pertempuran dan tahun yang diasosiasikan dengan konflik antara Eropa dan dunia Muslim, termasuk Vienna 1683 dan Malta 1565. Angka 1189 diyakini merujuk pada dimulainya Perang Salib Ketiga, ketika pasukan Kristen Eropa berusaha merebut kembali Yerusalem dari kekuasaan Muslim di bawah Sultan Salahuddin al-Ayyubi.

Pihak kepolisian hingga kini belum memberikan keterangan resmi mengenai arti dan maksud dari tulisan-tulisan tersebut. Kasus ledakan di SMAN 72 Jakarta Utara masih dalam tahap penyelidikan mendalam, termasuk penggalian motif di balik tindakan pelaku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *