Kelapa sawit masuk ke Indonesia pada 1848 dan ditanam di Kebun Raja Bogor. Nenek moyang sawit-sawit di Indonesia dan Asia Tenggara itu tumbang pada 1989.
Sejarah Awal Kelapa Sawit di Indonesia
Kelapa sawit yang memiliki nama ilmiah Elaeis guineensis ini memang sudah sering membuat heboh. Sebagai tanaman asal Afrika Barat, ia dimasukkan untuk pertama kalinya ke Indonesia oleh Kebun Raya Bogor pada 1848 dulu. Tidak dari Afrika Barat, tapi dari Isle de Bourbon (kini bernama Reunion) dekat Mauritius 2 batang, dan Hortus botanicus Amsterdam 2 batang.
Di Bogor, mereka ditanam tidak hanya dalam Kebun Raya (di pojokan tanah dekat Kali Ciliwung yang membelah kebun itu), tapi juga di tepi Jalan Otto Iskandardinata yang dulu, sebelum diperlebar – belakangan diketahui bahwa pohon sawit pertama yang ditanam di Kebun Raya Bogor itu, yang adalah pohon asli, telah mati pada 1989. Yang tersisa sekarang adalah tugu peringatan yang diresmikan pada ulang tahun Kebun Raya Bogor ke-200 pada 2017 lalu.
Tumbuhnya begitu bagus sampai pada 1859 dicoba disebar di Banyumas dan Palembang. Tapi sial, penanamannya gagal total, karena ketidakcakapan para petugas yang alergis terhadap tanaman baru. Karena itu, pada 1876 dicoba disebarluaskan di daerah Deli. Mula-mula sebagai penghias jalan masuk ke Perkebunan Pabatu dekat Pematangsiantar. Kemudian ada yang tergugah minatnya untuk membibitkannya di Marihat Baris sebagai tanaman kebun yang mungkin bisa dipungut hasilnya. Baru pada 1910 ada perkebunan benaran di Tanah Item Ulu. Sejak itu, penanamannya meluas dengan pesat, karena setiap orang tahu bahwa kebun sawit menghasilkan duit. Tidak sedikit.
Kelapa sawit penghuni Kebun Raya Bogor itulah yang menjadi semacam nenek moyang semua pohon sawit perkebunan seluruh Asia Tenggara – ketika artikel ini ditulis pada November 1984, pohon tersebut, yang ketika itu berusia 136 tahun, tumbuh menjulang hingga 24 meter tingginya. Pohon itu dianggap sebagai dokumen hidup dan monumen yang dihormati oleh siapa saja yang merasa berhutang budi padanya.
Penyebaran dan Pengaruh Kelapa Sawit
Malaysia, salah satu produsen minyak sawit terbesar di dunia, juga mendapatkan bibit kelapa sawitnya dari Indonesia. Lebih tepatnya dari Deli sekitar tahun 1905. Popularitas Malaysia sebagai penghasil kelapa sawit tertolong kampanye “Ganyang Malaysia” yang digagas Bung Karno pada era 1960-an awal. Saat itu, ekspor minyak sawit terhenti sama sekali dari Indonesia.
Kondisi itu dimanfaatkan benar oleh Malaysia untuk mengisi kekosongan di pasaran dunia dengan sawit bikinan mereka. Pertanyaannya kemudian, mengapa minyak sawit menjadi mata dagangan ekspor yang begitu penting? Tidak lain, karena minyak itu merupakan bahan dasar bagi pembuatan margarin, minyak goreng, lilin dan sabun mandi wangi orang Eropa dan Amerika. Selama orang yang lahir, makan dan mandi di muka bumi ini terus menerus meningkat, pasti kebutuhan mereka akan minyak sawit juga terus-menerus meningkat.
Macam-macam bahan itu memang bisa juga dibuat dari kopra kelapa biasa, tapi sudah lama dirasakan bahwa produksi kelapa tidak akan cukup lagi (sampai harganya terus-menerus meningkat), karena buahnya juga dimakan oleh rakyat biasa penduduk ‘pri’ dalam masakan tradisional mereka. Sementara kelapa sawit tidak. Jadi pabrik minyak sawit tidak perlu bersaing membeli kelapa di pasaran lokal dengan rakyat jelata. Murah jatuhnya. Lalu permintaan meledak.
Proses Penyerbukan dan Perkembangan Buah
Tanaman sawit sepintas lalu seperti pohon kelapa biasa, kalau dibiarkan tua dan tumbuh meninggi (bisa sampai 24 meter, seperti yang tumbuh di Kebun Raya Bogor itu), tapi kultivar (varietas yang dikultur (budidaya)-kan) di perkebunan berbatang lebih gemuk dan tetap bekek, supaya gampang dipungut buahnya. Karena bekeknya, ia dikira pohon salak, sampai di Pasundan dipanggil salak minyak.
Bunganya tersusun dalam bentuk malai, dan muncul dari tiap ketiak daun banyak sekali. Kalau menjadi buah, jumlahnya juga begitu banyak tiap tandannya, sampai kelapa itu disebut kelopo sewu di Jawa Tengah. Tiap pohon yang sudah dewasa (berumur empat tahun) memang mampu menghasilkan sepuluh tandan, yang masing-masing mengandung l.k. dua ratus buah kecil-kecil, sekecil buah kenari. Satu tandan yang berisi ribuan buah ini bisa seberat 30-50 kg.
Bagaimana ribuan bunga itu bisa dibuahi sampai terbentuk buah ribuan pula yang berdesak-desakan?
Kalau dulu pembuahan dibiarkan berlangsung secara alamiah dengan hembusan angin dan kemudian dibantu dengan tangan manusia yang menghamburkan tepung sari di atas kerumunan putik bunga betina, sejak tahun 1983, orang beralih mengerahkan kumbang moncong Elaeidobius kamerunicus. Untung mereka berumah satu (dalam satu pohon ada bunga jantan dan betina hidup serumah), semacam kumpul kebo. Tapi bukan!
Kumbang moncong Curculionidae kecil (cuma sekitar 1 cm) asal Kamerun, Afrika, ini bukannya lebih berdisiplin daripada manusia (dalam urusan serbuk menyerbuki bunga itu), tapi karena motivasi ingin (dan wajib sukarela) makan dan berkembang biak dalam tandan bunga sawit jantan. Bau bunga jantan yang sudah mekar memang merangsang indera pencium mereka.
Sesudah makan kenyang, kaum ibu mereka tidak lupa menaruh telur dalam lubang bekas tusukan moncongnya pada tangkai kotak sari bunga jantan. Kumbang ini memang aneh. Ia menggerek lubang dengan moncongnya yang runcing, menghisap sari bunga, dan sesudah itu menaruh telur dengan moncong yang sama itu juga.
Selagi sibuk makan dan bertelur inilah, mereka ketempelan tepung sari bunga jantan yang berhamburan ke mana-mana. Sesudah bertelur, mereka beralih ke tandan bunga betina. Wah! Apa tidak merusak kaum betina juga nanti?
Alam kita memang bijak bestari. Bunga betina itu sengaja diatur untuk tidak begitu menyengat baunya, hingga tidak begitu menarik untuk dimakan. Begitu kumbang itu tiba di tandan bunga betina, ia tidak jadi menusuk dan menghisap sari bunga, tapi sudah sempat mengantarkan tepung sari yang bertaburan menempel pada kaki dan perutnya, ke putik bunga betina.
Proses Pemrosesan Minyak Sawit
Kalau sudah masak, buah yang semula kehitam-hitaman itu berubah ungu, lalu agak kuning. Tiap buah mempunyai tempurung keras yang melindungi daging buah di bawahnya. ‘Daging’ ini lumayan tebal dan mengandung sejumlah pembuluh serabut yang alot di antara perenchym (jaringan dasar) yang berminyak. Memang daging buah inilah yang nantinya diperas minyaknya. Di bawahnya lagi ada selapis kulit yang mula-mula memang gampang diiris, tapi kemudian menjadi keras sesudah kering. Ia meliputi biji yang biasanya cuma satu. Biji ini juga mengandung minyak, tapi agak berbeda dengan minyak dalam daging buah. Kalau minyak daging buah lebih cair karena sebagian besar berupa minyak olein, maka minyak biji lebih kental karena sebagian besar berupa stearin. Dalam suhu biasa, ini malah berbentuk lemak padat.
Perkebunan kelapa sawit yang memuaskan kebanyakan dibangun di dataran rendah (antara 0 – 700 meter di atas permukaan laut) yang subur tanahnya, lembab iklimnya (dengan curah hujan 2.000 mm per tahun) dan terbuka tersinari matahari penuh. Lazimnya dimulai dengan pembibitan tanaman, yang menyemai biji pilihan di atas bedengan pesemaian dulu.
Sesudah berkecamuk dan berumur 1- 2 bulan, bibit dipindahtanamkan ke bedengan pesemaian kedua, dengan jarak tanam 50 x 50 cm. Sesudah setahun, orang menggali lubang penanamannya yang tetap di kebun, berukuran 60 x 60 x 60 cm, dan memindahtanamkan bibit yang sudah besar itu ke sana. Jarak tanam di kebun ini 9 x 9 meter. Memang lebar. Ini perlu, karena tajuk kelapa sawit memang lebar.
Supaya tanah sekitarnya tidak gundul dan rusak kehujanan dan kepanasan sampai mundur kesuburannya, ditanamlah tumbuhan penutup tanah Calopogonium mucunoides, yang di Jawa Tengah dikenal sebagai Kacang Asu. Dari mana asalnya asu ini, tidak disebut-sebut dalam sejarah perkacangan.
Tanaman Leguminosae berasal dari Amerika Tengah ini selain rimbun melindungi tanah juga mampu mengikat Nitrogen bebas dari udara dan menyimpannya dalam bintil akar. Kelak Nitrogen simpanan ini diberikan kepada tanah sekitarnya, hingga kesuburannya tidak merosot.
Walaupun yang merongrong kelapa sawit itu lumayan banyaknya, seperti kumbang kelapa penggerek pucuk batang, belalang pemakan daun, ulat pengganyang bunga, bekicot dan tikus penggeragot buah, namun agaknya semua itu dipandang enteng, karena hasil buahnya masih tetap ribuan banyaknya. Belakangan, dengan tersebarnya kumbang penyerbuk Elaeidobius yang berhasil meningkatkan hasil itu, rongrongan tikus lebih hebat lagi, karena tandan bunga jantan menjadi lebih gurih sesudah dihuni oleh larva dan kepompong Elaeidobius.
Untuk menekan gangguan tikus, para pekebun sawit dianjurkan untuk meningkatkan pemakaian umpan (tikus) beracun. Dr. Mustafa Majnu memberi resep pembuatan umpan yang cukup menggiurkan (‘Pengaruh Elaeidobuis kamerunicus terhadap pengelolaan perkebunan kelapa sawit’ dalam Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian 6(1)1984:4-5).
Jagung giling 8,75 bagian + ikan asin 0,75 bagian + minyak sawit 3,125 bagian + lilin putih 4,375 bagian + antikoagulan 1 bagian + Vetsin 0,001 bagian, diaduk menjadi rata, lalu diumpankan sedikit demi sedikit, tiap tiga hari sekali, sebanyak tiga kali ulangan.
Dengan adanya serangga penyerbuk itu pula, pemberantasan hama kumbang kelapa, belalang dan ulat menjadi repot, kalau tetap memakai insektisida biasa yang tidak pandang bulu, seperti sediakala. Dianjurkan memakai racun penghambat pembentukan kulit (serangga), seperti Dimilin atau Alsystin, supaya pertumbuhan hama itu terhambat, tapi Elaeidobius-nya tidak apa-apa.
Yang biasa diperas minyaknya hanya buah yang sudah masak. Buah muda selain rendah kadar minyaknya juga mengandung asam-asaman yang mengganggu. Mula-mula seluruh tandan buah disetum (dipanasi dengan uap) supaya enzym pemecah lemak yang ada dalam daging buah lumpuh. Enzym inilah biang keladi munculnya asam lemak bebas pada waktu buah digiling untuk diperas minyaknya. Jadi jauh sebelumnya perlu dilumpuhkan dulu.
Proses yang salah kaprah disebut sterilisasi ini (meskipun sama sekali bukan), dilakukan dalam suhu 100° C dan tekanan beberapa atmosfir, sampai proteina dan damar yang ada hancur berantakan dan tidak turut mengotori minyak yang terperas nanti.
Sesudah disetum, buah dipreteli dengan mesin dari tandannya. Pekerjaannya memang bisa gampang, kalau tandan itu tidak berdesak-desakan buahnya seperti dulu, ketika belum ada Elaeidobius. Kini, dengan buah yang lebih rapat, padat berdesak-desakan, dan tersusun kuat-kuat, perontokan buah (yang di kalangan perkebunan dikenal sebagai penebahan) memang lebih sulit dan minta waktu penyetuman lebih lama.
Oleh Dr. Mustafa Majnu di muka kita dianjurkan untuk mengatasi kesulitan ini dengan:
(a) memanen buah kalau tandan sudah menunjukkan tanda kematangan yang merata. Paling tidak harus ada dua buah berondolan per kilogram tandan. Panenan juga mesti diatur bergilir sesuai iklim.
(b) menebah dengan tekanan uap yang lebih besar (2,8 – 3,0 kg per cm2) dengan dua kali blow down. Jadi penguapan dengan tiga puncak
(c) membelah tandan buah yang besar dan berat, supaya uap mudah masuk ke bagian dalam.
Tentu, semuanya ini perlu investasi tambahan. Tapi memang begitu, kalau kita ingin meningkatkan produksi dan tetap bertahan pada tingkat yang sudah bagus.
Pemerasan minyak mula-mula dilakukan dengan tekanan rendah saja. Minyak murni yang keluar dengan mudah ditampung dalam wadah tersendiri. Sesuatu itu, bungkil yang menyisa masih diperas lagi untuk kedua kalinya dengan tekanan yang lebih besar. Minyak yang terperas dengan paksa ini ditampung tersendiri secara terpisah.
Bisa juga buah itu digilas menjadi semacam bubur dulu yang serba sama, dalam suhu panas hasil uap air bertekanan 3 atmosfir. Kemudian bijinya bisa dipisah dengan mudah dari bubur daging buahnya. Barulah daging buah ini diperas minyaknya dengan alat pemeras bertekanan 20 – 25 atm. Minyaknya kemudian dibersihkan dari air dan sisa kotoran yang lain, dalam ‘tangki penjernihan’, yang bagian bawahnya menyempit seperti kerucut.
Minyak yang tinggal di bagian atas kemudian diambil dan disaring, untuk dijual sebagai Crude Palm Oil alias CPO.
