Bencana Banjir dan Longsor di Sumatera: Korban Tewas Mencapai 604 Orang
Banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi di Pulau Sumatera telah menewaskan sebanyak 604 orang hingga Senin (1/12/2025). Peristiwa ini tidak hanya menjadi bencana alam, tetapi juga dianggap sebagai dampak dari kerusakan ekologis yang terjadi selama satu dekade. Akademisi Tifauzia Tyassuma, atau lebih dikenal dengan nama Dokter Tifa, mengungkapkan bahwa bencana ini bukan sekadar cuaca ekstrem, melainkan akibat kebijakan pemerintah yang tidak memperhatikan keseimbangan lingkungan.
Dokter Tifa menyebutkan bahwa kebijakan masa lalu menjadi pemicu utama bencana ini. Ia menilai bahwa pembukaan hutan, tambang, dan proyek-proyek lainnya telah melemahkan kemampuan alam dalam menahan air. Dalam sebuah renungan yang diunggahnya lewat media sosial, ia menjelaskan bahwa kondisi lingkungan di Sumatera seperti “tubuh” yang mengalami pembengkakan dan kerusakan organ akibat beban yang dipaksakan tanpa pemulihan.
Ia mengibaratkan banjir yang terjadi sebagai “Edema Ekologis”, yaitu pembengkakan yang lahir dari kebijakan rezim 10 tahun yang memukul jantung pulau ini dan merusak ginjalnya tanpa pernah merasa bersalah. Menurutnya, banjir tidak datang dari langit begitu saja, tetapi dari tanah yang dilukai dengan sengaja. Dalam satu dekade lalu, Sumatera diperlakukan seperti papan operasi dengan pasien tanpa anestesi: hutan dibelah, bukit dibongkar, izin diteken tanpa informed consent.
Dampak Bencana yang Masih Berlangsung
Hingga Senin (1/12/2025) pukul 17.00 WIB, Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Bencana (Pusdatin BNPB) mencatat sedikitnya 604 orang tewas. Korban meninggal tersebar di tiga provinsi, yakni Sumatera Utara sebanyak 283 jiwa, Sumatera Barat sebanyak 165 jiwa, dan Aceh sebanyak 156 jiwa. Selain ratusan korban tewas, ribuan warga masih dinyatakan hilang serta mereka yang luka-luka menunjukkan bahwa dampak bencana masih jauh dari selesai.
Di Aceh, sebanyak 156 orang dinyatakan meninggal dunia. Sebanyak 181 warga lainnya masih belum ditemukan. Tim SAR gabungan terus melakukan pencarian di area-area terdampak paling parah, termasuk kawasan yang masih terisolasi akibat akses jalan yang putus. BNPB juga melaporkan sedikitnya 1.800 orang mengalami luka-luka, sebagian di antaranya membutuhkan perawatan lanjutan karena cedera berat.
Di Sumatera Barat, kondisi tak jauh berbeda. Provinsi itu mencatat 165 korban meninggal, 114 orang hilang, serta lebih dari seratus warga lainnya luka-luka. Sejumlah titik terdampak di Kabupaten Pesisir Selatan, Agam, hingga Padang Pariaman berubah menjadi kepungan lumpur dan puing-puing. Tim penyelamat masih berusaha mencapai beberapa kawasan yang sebelumnya tertutup material longsor.
Sementara itu, Sumatera Utara menjadi wilayah dengan jumlah korban meninggal terbesar, yakni 283 jiwa. Provinsi ini juga mencatat 169 orang hilang dan 613 korban luka. Banyak desa di Langkat, Deli Serdang, hingga Serdang Bedagai terendam banjir besar setelah hujan ekstrem mengguyur tanpa henti selama beberapa hari. Hingga Senin malam, proses evakuasi masih berlangsung di banyak titik.
Tanggapan Presiden Prabowo Subianto
Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan kondisi terkini bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera setelah meninjau langsung kawasan terdampak menggunakan helikopter, Senin (1/12/2025). Peninjauan udara tersebut dilakukannya usai mengunjungi lokasi pengungsian di Tapanuli Tengah, tempat ratusan warga masih bertahan akibat rusaknya permukiman dan terputusnya akses transportasi.
Setelah helikopter yang ditumpanginya kembali mendarat di Bandara Raja Sisingamangaraja XII, Tapanuli Utara, Prabowo langsung memberikan keterangan kepada awak media. Ia menyebut situasi di beberapa titik terdampak kini berangsur membaik meski sejumlah wilayah masih membutuhkan penanganan intensif. “Kita monitor terus. Saya kira situasi membaik, ya. Jadi saya kira kondisi yang sekarang ini sudah cukup, ya,” ujar Prabowo, menegaskan bahwa pemerintah tengah mempercepat distribusi bantuan dan pemulihan layanan dasar di area bencana.
Dari peninjauan udara, terlihat sejumlah kawasan yang sebelumnya tergenang mulai surut, meski di beberapa daerah aliran sungai material lumpur dan longsoran masih menutup jalur utama. Rumah-rumah warga yang rusak serta lahan yang tersapu banjir juga menjadi sorotan pemerintah dalam penanganan lanjutan.
Kritik Terhadap Kebijakan Pembangunan
Dokter Tifa menilai alih fungsi lahan, pembukaan hutan, hingga praktik pertambangan dan perkebunan yang tidak mempertimbangkan daya dukung daerah aliran sungai menjadi faktor yang memperparah risiko bencana. Ia juga menyinggung kebijakan pembangunan pemerintahan Era Presiden RI, Joko Widodo yang menurutnya mengabaikan keseimbangan lingkungan. Selama sepuluh tahun, Jokowi katanya mengumbar soal investasi dan pembangunan tanpa memikirkan dampak buruk terhadap lingkungan.
Rezim dulu bicara tentang investasi, pembangunan, dan “masa depan Indonesia”. Tapi di balik kalimat manis itu, rakyat hari ini berdiri di depan rumah yang tenggelam sambil bertanya: “Sebelumnya kami punya hutan. Sekarang kami hanya punya banjir. Apa ini yang namanya kemajuan?” bebernya.
Sumatera kini menurutnya tengah menangis bukan karena hujan, tapi karena pengkhianatan. Pengkhianatan yang terjadi ketika hutan dibuka demi konglomerat, sungai disempitkan demi proyek cepat jadi, tambang dibiarkan menggali sampai bumi menganga, perkebunan sawit dihamparkan tanpa memikirkan daya tampung DAS, dan setiap kritik dibungkam dengan kalimat klasik mengatasnamakan “pembangunan”.
Harapan untuk Solusi Cepat
Dalam renungannya, Dokter Tifa menilai masyarakat kini menanggung dampak dari rangkaian kebijakan yang membuka ruang bagi eksploitasi lingkungan. Banjir yang terjadi di Sumatera katanya sedang mengungkap apa yang dulu ditutup rapat oleh kekuasaan. Banjir sedang berbicara dengan bahasa yang tidak bisa disensor, bahwa Sumatera telah dicabik-cabik demi ambisi politik, demi kepentingan modal, demi citra penguasa yang dibangun di atas tanah yang perlahan mati.
Ia berharap pemerintah pusat mengambil langkah cepat untuk memulihkan kondisi lingkungan dan memperkuat mitigasi bencana di wilayah-wilayah rawan. Ia juga menyampaikan doa agar Presiden RI, Prabowo Subianto dapat memberikan perhatian dan solusi bagi warga yang terdampak banjir di Sumatera.
Banjir Sumatera adalah amputasi terakhir dari tubuh ekologis yang telah disiksa terlalu lama. Dan kita-rakyat-dipaksa menjadi saksi. Saksi yang tahu bahwa banjir ini tidak datang sendiri. Ia lahir dari kebijakan yang salah, dari keserakahan yang dilegalkan, dari penguasa yang lebih mencintai pencitraan daripada tanah airnya sendiri.
Semoga Presiden @Prabowo bisa menghentikan semua kejahatan ini, dan memberikan solusi cepat bagi rakyat Sumatera. Amiin. Hasbunallah wani’mal wakil, nikmal maula wani’man nashiir. La haula wala quwwata ila billah.
