Sayang, Bagaimana Kabarmu?

Posted on

Perasaan yang Tersembunyi

Kita sering mengeluh tentang kesibukan dan beban hidup. Tapi, terkadang hal yang paling menyedihkan bukanlah tumpukan pekerjaan, melainkan satu kalimat sederhana dari orang yang dulu sangat dekat: “Sayang, apa kabarmu?” Kalimat ini mungkin terdengar biasa saja, tapi bagi sebagian orang, ia bisa memicu perasaan tidak nyaman.

Ada jenis notifikasi yang terlihat kecil, namun bisa langsung membuat hati sedikit berat. Bukan tagihan listrik, bukan pesan dari kantor, atau bahkan dari mantan. Pesan itu datang dari ibu. Pada hari-hari yang biasa-biasa saja, kita mungkin hanya membacanya sekilas lalu melanjutkan aktivitas. Namun, di hari lain, ketika pekerjaan menumpuk dan tubuh lelah, pesan pendek itu terasa seperti pengingat: sudah berapa lama kita tidak benar-benar mengabari ibu?

Banyak anak pernah berjanji kepada ibunya bahwa hubungan mereka tidak akan berubah. Setelah kerja, setelah merantau, setelah menikah, kita merasa masih bisa pulang sering, mengabari, dan tetap menjadi anak yang sama. Seolah-olah yang berubah hanya status, bukan kedekatan. Nyatanya, hidup tidak selalu sesuai rencana. Pelan-pelan, hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Ada rapat yang tidak bisa ditinggalkan, ada deadline yang harus dipenuhi, ada keluarga baru yang juga butuh perhatian. Sampai akhirnya, ibu mengirim pesan yang mungkin terdengar biasa, tapi bagi kita terasa berbeda: “Sayang, apa kabarmu?”

Di titik itu, sering kali kita merasa ada yang janggal. Bukan pada ibu, tapi pada diri sendiri. Kapan mulai hubungan antara ibu dan anak terasa seperti dua orang yang saling bertukar basa-basi? Kapan kabar tentang kita tidak lagi otomatis diketahui olehnya, sampai harus ditanyakan dengan kalimat sopan santun seperti orang yang jarang bertemu?

“Apa kabar” terdengar wajar jika diucapkan teman lama. Tapi ketika keluar dari mulut ibu, kalimat yang sama bisa berubah menjadi pertanyaan yang lebih dalam: sudah sejauh apa kita melangkah, sampai orang yang dulu paling tahu tentang kita sekarang harus menebak-nebak kabar lewat layar?

Yang menarik, jika kita jujur pada diri sendiri, cerita seperti ini sebenarnya tidak asing bagi banyak dari kita. Bukan karena semua orang punya pengalaman yang sama persis, tapi karena pada titik tertentu, kita pernah menjadi anak yang pelan-pelan belajar menjauh. Kita tumbuh, kuliah, kerja, merantau, menikah. Pelan-pelan, rumah yang dulu jadi pusat dunia berubah menjadi titik di peta yang hanya kita kunjungi kalau ada cuti cukup panjang.

Ibu yang dulu setiap hari melihat kita berangkat sekolah, mendengar suara piring di dapur, dan tahu kapan kita pulang hanya dari bunyi langkah di teras, sekarang harus menebak-nebak kabar kita dari status WhatsApp yang kita upload setengah iseng. Di satu sisi, kita bangga dengan hidup baru. Punya penghasilan sendiri, punya meja kerja sendiri, punya keluarga kecil sendiri. Di sisi lain, ada bagian kecil di hati yang selalu mengerut setiap kali melihat chat dari ibu yang diawali dengan, “Nak, sibuk ya?” atau “Sayang, kok lama tidak dengar kabarmu?”

Lucunya, untuk hal-hal lain kita bisa sangat cepat. Balas email atasan dalam hitungan menit. Jawab chat teman nongkrong hanya dengan satu emoji. Repost video lucu hanya dengan sekali klik. Tapi untuk satu pesan dari ibu, kita sering menundanya sampai nanti. Sampai tidak terasa, teks biru atau hijau itu sudah tenggelam oleh ratusan notifikasi lain.

Kadang, kita berdalih: “Aku sayang kok sama ibu. Cuma belum sempat.” Tapi bagi orang tua, sayang yang tidak pernah muncul dalam bentuk kabar, sapaan, atau suara, lama-lama terasa seperti sayang yang hanya ada di kepala kita, tidak pernah benar-benar mereka dengar.

Kadang kita lupa, di ujung lain layar itu ada seorang ibu yang menatap ponselnya lebih lama dari biasanya. Ia tidak menuntut balasan panjang, hanya tanda bahwa anaknya masih sempat menyapa. Tapi entah bagaimana, di daftar prioritas hari itu, membalas ibu kembali kalah dari hal-hal lain yang rasanya lebih mendesak.

Di era ketika kata “healing” jadi mantra kolektif, kita seperti berbondong-bondong mencari pelukan di luar rumah. Kita pergi ke kafe untuk merasa didengar, membuka podcast untuk merasa ditemani, mendengarkan lagu-lagu sendu untuk merasa dipahami. Padahal dulu, jauh sebelum semua istilah itu lahir, banyak dari kita menemukan ketenangan di meja makan yang sederhana.

Di sana ada ibu yang bertanya, bukan dengan kalimat formal, tapi dengan cara lain: menambah nasi di piring kita, menyodorkan lauk ke arah kita, atau hanya dengan kalimat, “Kamu kelihatan capek, sini cerita.” Tanpa teori psikologi, tanpa istilah mental health, tapi ada ruang nyaman yang nyata.

Kini, ketika semua orang berlomba-lomba menjadi versi terbaik dirinya, kita sering lupa satu hal: di mata ibu, kita tidak pernah diminta menjadi versi terbaik siapa pun. Bahkan ketika hidup berantakan, bagi mereka, kita tetap anak kecil yang dulu mereka gendong waktu demam tinggi.

Mungkin karena itu, kalimat “Sayang, apa kabarmu?” terasa seperti garis tipis antara dua rasa: rindu dan jauh. Di satu sisi, ada kehangatan karena tahu ada seseorang yang masih peduli. Di sisi lain, ada perih karena sadar bahwa orang itu adalah seseorang yang harusnya tidak perlu lagi bertanya kabar, saking dekatnya dulu.

Kalau dipikir-pikir, tidak ada sekolah yang mengajarkan kita cara tetap menjadi anak setelah dewasa. Kita diajari cara mencari kerja, cara mengatur uang, cara membangun jaringan, bahkan cara membangun personal branding. Tapi tidak ada mata pelajaran “Cara Tidak Membiarkan Ibumu Merasa Asing”.

Kita berjalan dengan keyakinan yang sama: tidak akan ada yang berubah. Nyatanya, yang berubah bukan hanya alamat rumah, tapi juga arah telepon. Dulu, nomor yang paling sering kita tekan adalah nomor ibu. Sekarang, mungkin nama mereka bergeser ke bawah di daftar kontak, digantikan oleh klien, atasan, atau grup kerja.

Pada titik ini, mungkin kita tidak butuh ceramah panjang soal bakti. Yang kita butuh justru pengakuan kecil di dalam diri: ya, hidup ini memang melelahkan. Ya, kita punya banyak peran. Ya, kita tidak selalu punya energi untuk semua orang. Tapi di antara sekian banyak hal yang bisa kita kurangi, jangan sampai justru kabar untuk orang yang dulu paling pertama tahu saat kita demam dan jatuh.

Mungkin kita tidak bisa menjadi anak yang selalu pulang setiap minggu. Tidak semua orang punya kemewahan itu. Tapi mungkin, kita masih bisa menjadi anak yang tidak membiarkan kalimat “Sayang, apa kabarmu?” terasa seperti sapaan antara dua orang asing.

Pada akhirnya, esai ini bukan tentang merasa paling bersalah, tapi tentang menyadari bahwa jarak itu sering kali tidak tercipta dalam semalam. Ia tumbuh dari hal-hal kecil yang kita tunda: satu panggilan yang kita lewati, satu pesan yang kita baca tanpa membalas, satu rencana pulang yang terus kita tunda.

Mungkin kita tidak bisa kembali ke masa ketika setiap hari diakhiri dengan duduk di ruang tamu bersama ibu. Tapi kita selalu punya hari ini untuk mengetuk pintu yang mulai jarang kita datangi.

Kadang, pencerahan itu tidak datang dari nasihat yang panjang, tapi dari satu pesan yang kita balas dengan sungguh-sungguh. Bukan hanya “baik” atau “alhamdulillah sehat”, tapi juga, “Ibu gimana? Capek nggak? Belakangan ini Ibu lagi kepikiran apa?” Pertanyaan-pertanyaan kecil yang memberi tahu bahwa kita bukan hanya ingin dilihat, tapi juga ingin melihat.

Mungkin hari ini, setelah membaca sampai bagian ini, ada satu hal sederhana yang bisa kita lakukan. Bukan sekadar menghela napas dan berkata, “Iya ya, aku juga begitu,” lalu kembali sibuk seperti biasa. Tapi benar-benar membuka ponsel, mencari nama yang sudah lama tidak naik ke atas daftar chat, dan menulis lebih dulu:
“Bu, apa kabar? Aku kangen.”

Bukan karena kita anak yang sempurna. Tapi karena kita tidak ingin ibu kita terlalu sering menulis kalimat yang diam-diam paling kita takutkan: “Sayang, apa kabarmu?”
Kalau suatu hari nanti pesan itu kembali muncul di layar ponsel, semoga kali ini kita tidak hanya membacanya lalu menunda. Dan bagi kita yang ibunya sudah tidak lagi bisa mengirim pesan apa pun, mungkin cara kita menjawab adalah dengan satu doa yang pelan, dengan mengingat kebaikannya, dan dengan berusaha menjalani hidup dengan cara yang tidak akan membuatnya malu kalau ia masih menyaksikan kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *