Sasar segmen unbankable, adakah alternatif pembiayaan selain pinjol?

Posted on

JAKARTA, PasarModern.com Pinjaman daring atau pindar alias pinjaman online (pinjol) yang disediakan perusahaan fintech peer-to-peer lending (P2P lending) merupakan layanan keuangan yang mampu memenuhi kebutuhan akses pembiayaan untuk masyarakat yang belum masuk dan terjangkau oleh perbankan formal.

Dilihat dari proses bisnisnya, fintech lending adalah layanan keuangan berbasis teknologi yang mempertemukan pemberi dana (lender) dengan penerima pinjaman (borrower) melalui platform digital online, seperti aplikasi atau situs web.

Bagi borrower, keunggulan dari layanan keuangan ini adalah prosesnya yang cepat dan mudah. Di sisi sebaliknya, pemberi dana (lender) pindar juga berpotensi mendapatkan imbal hasl yang lebih tinggi dibandingkan produk keuangan tradisional.

Tidak ada layanan keuangan yang sama persis dengan pinjol

Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK Agusman mengatakan, fintech lending adalah suatu layanan keuangan yang memiliki keunikannya sendiri.

“Yang serupa persis dengan fintech lending tentu tidak ada,” kata dia kepada PasarModern.com.

Namun demikian, layanan buy now pay later (BNPL) atau paylater mungkin menjadi salah satu produk yang agak mirip.

“Tapi yang terakhir ini mensyaratkan adanya barang atau jasa yang dibiayai sebagai underlying,” imbuh dia.

Senada, Ekonom Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Nailul Huda mengatakan, jenis layanan keuangan yang memiliki kemiripan dengan pindar adalah Kredit Tanpa Agunan (KTA) dan paylater.

Kredit Tanpa Agunan (KTA) merupakan fasilitas pinjaman perbankan yang tidak memerlukan jaminan aset. Biasanya jenis pinjaman ini digunakan untuk keperluan mendesak seperti renovasi rumah hingga biaya pendidikan.

 

“Khusus paylater, saya melihat ada pergeseran preferensi masyarakat dari pinjaman daring kepada paylater,” ungkap Nailul.

Ia menjelaskan, salah satu alasan masyarakat mengakses layanan keuangan pinjaman daring adalah karena adanya kemudahan akses, tanpa jaminan, dan cepat.

“Dengan proses yang lebih mudah, tanpa jaminan, pinjaman daring menjadi alternatif utama masyarakat, terutama yang unbankable,” tutur dia.

Pinjol perlu jaga tingkat pembiayaan macet di UMKM

Kemudahan yang ditawarkan oleh pindar terhadap sektor produktif perlu diimbangi dengan menekan tingkat wan prestasi 90 hari (TWP90).

Rasio ini digunakan sebagai indikator yang mengukur tingkat pembiayaan macet di industri fintech lending.

Nailul menerangkan, kredit produktif perbankan masih sulit dijangkau oleh pelaku UMKM yang unbankable, dibandingkan dengan pindar.

“Namun demikian, dengan kemudahan juga akan timbul kualitas kredit. TWP90 untuk kredit produktif lebih tinggi, bahkan lebih tinggi dibandingkan dengan NPL UMKM,” ujar dia kepada PasarModern.com.

Nailul menjelaskan, risiko yang cukup tinggi muncul seiring dengan kemudahan yang ditawarkan. Apalagi, penilaian skor kredit juga tidak mempertimbangkan historis perbankan.

Berdasarkan data OJK, tingkat risiko kredit secara agregat atau TWP90 berada di posisi 2,82 persen pada September 2025. Angka ini naik dibandingkan dengan TWP90 Agustus 2025 sebesar 2,60 persen.

Pinjol jadi alternatif masyarakat yang tak punya akses ke KTA perbankan 

Pindar atau pinjol memang menjadi alternatif pembiayaan bagi UMKM meskipun memilik suku bunga pinjaman atau manfaat ekonomi yang relatif lebih tinggi.

 

Jenis pembiayaan yang diberikan pindar memang paling mirip dengan KTA pada perbankan yang tidak menggunakan jaminan atau agunan.

Ekonom sekaligus Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), Budi Frensidy mengatakan, pinjaman daring merupakan alternatif bagi pelaku UMKM yang tidak bankable atau tidak memenuhi persyaratan untuk mendapatkan layanan keuangan perbankan.

“Jadi memang bisa kita prediksi bahwa ini pinjaman online adalah sejenis KTA yang banyak dimanfaarkan oleh ,ereka yang sebenarnya tidak punya akses ke pembiayaan lain,” kata dia.

Dengan tingkat risiko yang besar, pindar memiliki bunga pinjaman atau manfaat ekonomi yang lebih tinggi.

Menurut Budi, UMKM yang mampu menjaminkan agunan sebagai syarat pinjaman tidak akan memilih layanan keuangan pindar ini.

Adapun, layanan keuangan lain seperti perbankan juga bisa menawarkan jumlah pinjaman yang lebih besar dibandingkan fintech lending.

“Itu sebenarnya tidak recommended atau tidak menjadi pilihan,” ungkap dia.

“Sektor produktif kalau punya akses ke sumber pembiayaan lain, pasti tidak akan pilih pinjaman online,” timpal Budi.

Perbedaan pinjol dan KTA perbankan

Meskipun memiliki beberapa kesamaan, pindar dan KTA jelas merupakan dua jenis produk layanan keuangan yang berbeda.

Pinjol atau pindar merupakan pembiayaan yang disediakan oleh perusahaan fintech peer-to-peer lending (P2P Lending), sementara itu KTA merupakan produk yang disediakan oleh bank konvensional atau bank digital.

 

Umumnya pindar memiliki proses pengajuan yang lebih cepat dan mudah dan sepenuhnya dilakukan secara digital. Pencairan dana bisa dilakukan dalam hitungan menit hingga jam.

Adapun syarat yang diperlukan juga relatif lebih sederhana seperti dari e-KTP dan varifikasi data digital.

Sedangkan KTA memiliki proses pengajuan pinjaman yang lebih formal dan cenderung memakan waktu yang lebih lama, hingga beberapa hari kerja. Pencairan dana KTA bisa dilakukan secara online melalui aplikasi bank atau secara langusng di cabang bank.

Dibandingkan dengan pindar, syarat KTA lebih ketat dengan dokumen pelengkap seperti slip gaji, mutasi rekening, NPWP, dan kadang juga kepemilikan kartu kredit.

Dari segi limit pembiayaan, pindar juga cenderung menawarkan besaran yang terbatas, apalagi jika peminjam baru bergabung atau mendaftar.

Sebaliknya, KTA bisa menawarkan plafon pinjaman yang lebih besar, atau hingga ratusan juta rupiah, tergantung dengan pendapatan dan riwayat kredit calon nasabah.

Kemudian, pinjaman daring juga biasanya menarkan manfaat ekonomi atau besaran suku bunga yang lebih tinggi dibandingkan dengan KTA bank.

KTA sendiri biasanya memiliki suku bunga lebih rendah dengan bunga yang tetap tiap bulannya.

Sebagai gambaran, suku bunga KTA berkisar antara 0,73 hingga 2,75 persen per bulan, atau sekitar 10 sampai 23 persen per bulan.

Sementara itu saat ini, batas manfaat ekonomi untuk pindar konsumtif berkisar antara 0,3 persen per hari untuk tenor kurang dari 6 bulan dan 0,2 persen per hari untuk tenor lebih dari 6 bulan.

 

Pindar juga memiliki tenor atau jangka waktu pinjaman yang biasanya lebih pendek dibandingkan dengan KTA yang bisa memberikan tenor hingga 5 tahun.

Penyaluran pembiayaan pinjol terus tumbuh

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan, pembiayaan industri pinjaman daring masih mencatatkan pertumbuhan double digit, atau mencapai 22,16 persen pada September 2025 mencapai 90,99 triliun.

Pertumbuhan pembiayaan pindar berada dalam tren positif setelah pada Agustus 2025 tumbuh 21,62 persen.

Sebagai pembanding, nominal utang paylater di perusahaan pembiayaan mencapai Rp 10,31 triliun pada periode yang sama.

Realisasiini tumbuh 88,65 persen secara tahunan, dan jauh lebih tinggi dibanding pertumbuhan Agustus 2025 yang 2,92 persen. Meski demikian, tingkat NPF gross paylater tetap stagnan di 2,92 persen.

Ketua Umum Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) Entjik S Djafar mengatakan, peningkatan penyaluran pembiayaan yang terjadi di industri pindar secara umum terjadi karena adanya edukasi yang terus diberikan.

“Ini terlihat dari kesadaran masyarakat yang mulai menghindari pinjol ilegal beralih ke pindar, sehingga terjadi pengalihan dari pinjol ke pindar yang tentunya mendorong kenaikan disbursmen dari bulan ke bulan,” ujar dia kepada PasarModern.com.

Sebelumnya, OJK melalui Peraturan OJK (POJK) Nomor 19 Tahun 2025 mendorong pindar untuk menyalurkan kredit kepada usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) secara mudah, tepat, cepat, murah, dan inklusif.

Hal tersebut didukung oleh asosiasi meningat kebutuhan pendanaan dari masyarakat masih sangat besar.

Sementara itu, lembaga jasa keuangan konvensional memiliki keterbatasan dalam pembiayaan permodalan bagi UMKM.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *