Renungan Harian Katolik: Langkah Iman
Dalam renungan hari ini, kita diingatkan bahwa iman adalah dasar dari doa. Seperti kisah orang buta dalam Injil, doa dimulai dengan langkah iman yang berani, tekun, dan penuh kepercayaan kepada Tuhan. Doa bukan sekadar banyak kata, tetapi lebih dari itu, doa menjadi hidup ketika dijalani dengan cinta, kerendahan hati, dan kerinduan untuk membangun relasi yang dalam dengan Tuhan.
Langkah iman harus terus dipelihara. Kita perlu tetap rendah hati, tidak takut berseru kepada Tuhan, dan percaya pada penyelenggaraan-Nya, terutama dalam situasi sulit. Dengan demikian, kita dapat menjalani hidup rohani dengan penuh keyakinan dan harapan.
Bacaan Liturgi Hari Ini
Bacaan pertama hari ini mengisahkan tentang masa di mana seorang raja yang bernama Antiokhus Epifanes memerintahkan semua orang untuk menyerah pada adat istiadat bangsa-bangsa lain. Banyak orang Israel menyetujui pemujaan raja, bahkan menyembah berhala dan mencemarkan hari Sabat. Kitab-kitab Taurat diperlakukan dengan tidak hormat, dan siapa pun yang memegang hukum Taurat akan dihukum mati.
Namun, ada banyak orang Israel yang tetap setia pada perjanjian kudus mereka. Mereka memilih untuk mati daripada menodai dirinya dengan makanan yang tidak halal atau mencemarkan perjanjian kudus. Mereka memiliki tekad yang kuat untuk tetap setia kepada Tuhan meskipun menghadapi ancaman kematian.
Mazmur Tanggapan mengingatkan kita bahwa kita harus tetap setia kepada Taurat Tuhan, walaupun tali-tali orang-orang fasik membelit kita. Kita harus memohon perlindungan dari pemerasan manusia agar dapat berpegang pada titah Tuhan. Orang-orang yang mengejar kita dengan maksud jahat akan jauh dari Taurat-Mu, sementara keselamatan jauh dari orang-orang fasik karena mereka tidak mencari ketetapan-ketetapan-Mu.
Bait Pengantar Injil mengingatkan kita bahwa Yesus berkata, “Akulah terang dunia. Barangsiapa mengikuti Aku, ia akan mempunyai terang hidup.”
Kisah Orang Buta dalam Injil
Dalam bacaan Injil hari ini, kita membaca kisah seorang buta yang duduk di pinggir jalan dan mengemis. Ketika ia mendengar orang banyak lewat, ia bertanya apa yang terjadi. Orang-orang memberitahunya bahwa Yesus orang Nazaret sedang lewat. Lalu, ia berseru, “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” Meski orang-orang di depannya menyuruhnya diam, ia semakin keras berseru.
Yesus berhenti dan menyuruh orang mengantarkan dia kepada-Nya. Ketika si buta itu sudah dekat, Yesus bertanya, “Apa yang kauinginkan Kuperbuat bagimu?” Jawab orang itu, “Tuhan, semoga aku melihat!”
Yesus berkata, “Melihatlah, imanmu telah menyelamatkan dikau.” Pada saat itu juga ia melihat, lalu mengikuti Yesus sambil memuliakan Allah. Seluruh rakyat menyaksikan peristiwa itu dan memuji-muji Allah.
Kisah ini menjadi contoh bagi kita dalam menjalani hidup doa. Untuk memulai hidup doa, kita membutuhkan iman. Langkah iman ditunjukkan oleh orang buta ini. Dia bukan orang istimewa, hanya seorang buta yang duduk di pinggir jalan. Namun, dengan berani dan tekun berseru kepada Tuhan, ia mendapatkan jawaban yang indah.
Doa yang Berarti
Santa Teresia pernah berkata bahwa dalam doa, bukan jumlah kata yang penting, tetapi banyak mencinta. Karena kita tahu bahwa di hadapan kita ada Dia yang mencintai kita. Doa yang demikian ini menjadi hidup. Doa bukan lagi membosankan tetapi sungguh-sungguh menjadi kesempatan berharga kita untuk membangun relasi yang intensif dengan Tuhan.
Banyak orang akhirnya memilih untuk berhenti dalam doa karena merasa doanya tidak dikabulkan Tuhan. Hari ini, kita diundang untuk meneladan semangat orang buta ini yang dengan berani dan tekun setia berseru kepada Tuhan. Di hadapan Tuhan, kita perlu bersikap sebagai seorang pengemis yang selalu datang memohon belas kasihan Tuhan atas dosa.
Memelihara Langkah Iman
Bagaimana cara kita memelihara langkah iman? Pertama-tama, kita perlu bersikap rendah hati di hadapan Tuhan. Kita selalu sadar sebagai orang yang lemah dan rapuh. Rentan akan dosa. Pada saat yang sama, kita juga perlu menyadari bahwa Tuhan adalah Bapa yang maharahim bagi umat-Nya. Kedua, jangan takut untuk berseru kepada Tuhan. Bukankah Ia adalah Bapa kita yang mahabaik? Bukankah Ia akan mengabulkan dan menganugerahkan berkat bagi kita?
Dalam keadaan terpuruk sekalipun, tetaplah berpegang teguh dalam iman akan Tuhan. Tetaplah berseru dalam doa. Santo Paulus menasihati kita dengan berkata, “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur” (Flp.4:6).
Doa Akhir
Ya Tuhan, bukalah mata hati kami agar kami mampu melihat dunia dengan lebih bijaksana. Bantulah kami agar kami selalu sadar akan tugas perutusan kami sebagai orang Kristiani. Semoga dimanapun kami berada, kami membawa cahaya penerangan bagi siapa saja yang kami jumpai. Tuhan, bantulah kami untuk mampu selalu melihat, jangan biarkan kami mengalami kebutaan. Amin.
Sahabatku yang terkasih, Selamat Hari Senin. Salam doa dan berkatku untukmu dan keluarga di mana saja berada: Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus….Amin.
