Sejarah dan Budaya Kota Kediri
Kota Kediri di Jawa Timur dikenal sebagai daerah yang kaya akan sejarah dan budaya, pernah menjadi pusat Kerajaan Kediri, salah satu kerajaan terkuat di Jawa pada abad ke-11 dan ke-12. Warisan masa lalu ini bersanding dengan keindahan alam pegunungan, tradisi kuliner yang kaya (seperti pecel lele dan nasi campur), serta perkembangan infrastruktur modern.
Situs cagar budaya peringkat nasional ini, yang pembangunannya dimulai pada masa Raja Srengga dari Kerajaan Kadiri (sekitar tahun 1194 Masehi) sebagai tempat pemujaan untuk menangkal bahaya erupsi Gunung Kelud, terus digunakan dan dikembangkan hingga masa pemerintahan Singasari dan mencapai puncak kejayaannya sebagai State Temple atau candi negara pada era Majapahit, bahkan dikunjungi oleh Raja Hayam Wuruk.
Kompleks seluas hampir 13.000 meter persegi ini menyajikan gaya arsitektur khas Jawa Timur yang unik, menampilkan relief naratif yang terperinci tentang kisah Ramayana dan Krisnayana pada teras-teras candi induk, dikelilingi oleh bangunan-bangunan penting lain seperti Pendopo Teras, Bale Agung, Candi Naga, dan arca Dwarapala, yang keseluruhannya tidak hanya memberikan wawasan sejarah mendalam tentang tiga dinasti kerajaan terkuat di Jawa, tetapi juga menawarkan pengalaman wisata edukasi yang memuaskan dan suasana spiritual yang tenang, bahkan memiliki kolam petirtaan yang airnya dipercaya tak pernah kering.
Keagungan ini telah diakui secara internasional, dibuktikan dengan pengajuan situs ini sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO sejak tahun 1995, menjadikannya harta karun Indonesia yang wajib dilindungi dan dieksplorasi.
Monumen Simpang Lima Gumul (SLG): Ikon Modern Kota Kediri

Monumen Simpang Lima Gumul (SLG) merupakan landmark paling ikonik dan kebanggaan Kabupaten Kediri, yang dibangun atas gagasan Bupati Ir. Soetrisno (2003-2008) dengan tujuan utama menjadi simbol persatuan, kemajuan, serta pusat ekonomi dan kebudayaan daerah, terletak strategis di persimpangan lima jalur utama yang menghubungkan Kediri, Pare, Pagu, Wates, dan Plosoklaten.
Monumen setinggi 25 meter dan berluas dasar 804 meter persegi ini, yang ukurannya secara filosofis merefleksikan tanggal hari jadi Kabupaten Kediri (25 Maret 804 Masehi), menampilkan gaya arsitektur neo-klasik Eropa yang menyerupai Arc de Triomphe di Paris, namun diperkaya dengan kearifan lokal melalui relief-relief artistik pada setiap sisi dindingnya yang secara detail mengisahkan sejarah panjang Kerajaan Kediri, kisah Panji, dan keberagaman budaya setempat.
Akses menuju monumen yang megah ini disediakan melalui lorong bawah tanah yang aman dan bersih, terhubung langsung dari area parkir dan pusat kuliner, memungkinkan pengunjung berfoto dengan latar belakang ikonik ini, menikmati taman asri dan jogging track, hingga berburu kuliner lokal dan kerajinan tangan di pasar malam yang ramai pada sore dan malam hari, menjadikan SLG sebagai public space favorit yang gratis tiket masuk dan mendapat ulasan positif sebagai destinasi yang instagrammable.
Gua Maria Puhsarang: Pusat Ziarah Katolik yang Tenang

Gua Maria Puhsarang, Kediri, yang sering disebut juga Gua Maria Lourdes Puh Sarang, adalah destinasi wisata religi Katolik monumental yang terletak di lereng Gunung Wilis, Kediri, Jawa Timur, menawarkan perpaduan unik antara keindahan alam dan kekayaan budaya.
Berlokasi sekitar 10 km dari pusat kota dengan udara sejuk rata-rata 21–25°C, kompleks ini merupakan replika Gua Maria Lourdes di Prancis yang dibangun kembali pada tahun 1998 setelah sebelumnya terdapat miniatur kecil di kompleks Gereja Puhsarang.
Keistimewaannya terletak pada inkulturasi budaya Jawa yang kental, di mana Gereja Puhsarang (didirikan oleh Romo Jan Wolters CM dan Ir. Maclaine Pont pada 1936) menggunakan gaya arsitektur mirip Candi Majapahit dengan material batu lokal, dan Gua Maria yang megah dengan Patung Bunda Maria setinggi 3,5–4 meter disesuaikan dengan ukuran gua yang mencapai 18 meter.
Selain sebagai tempat ziarah dan perenungan (terdapat Stasi Jalan Salib hingga Bukit Golgota), Puhsarang juga menarik wisatawan umum dan non-Katolik yang mencari ketenangan dan keasrian, serta diyakini memiliki air suci dari 12 pancuran yang melambangkan 12 murid Yesus; menjadikannya ikon wisata religi Jawa Timur yang bebas diakses (hanya dikenakan biaya parkir) dan turut memberdayakan UMKM lokal.
Kelenteng Tjoe Hwie Kiong: Warisan Budaya Tionghoa Abad ke-19

Kelenteng Tjoe Hwie Kiong, yang berdiri megah sejak sekitar tahun 1817 di Jalan Yos Sudarso, Kediri, merupakan salah satu tempat ibadah Tri Dharma tertua dan kini diakui sebagai Cagar Budaya yang dilindungi di Jawa Timur, menjadikannya destinasi wisata sejarah dan religi yang sangat penting.
Dibangun di tepi Sungai Brantas oleh seorang musafir Tiongkok yang memuja Dewi Laut, Thian Sang Sing Bo (Mak Co), yang altarnya kini menjadi tuan rumah di tengah bangunan utama dan patungnya setinggi 5 meter menghadap sungai, kelenteng ini menjadi simbol akulturasi dan keberagaman, menampung berbagai dewa/dewi seperti Dewi Kwan Im dan Dewa Kwan Kong, serta nabi agung, sehingga siapa pun dapat berdoa sesuai keyakinannya.
Meskipun banjir besar pada tahun 1955 menghilangkan sebagian besar dokumen sejarah, arsitektur khas Tiongkok Selatan (Minnan Style) dengan dominasi warna merah-kuning, ornamen naga, burung phoenix, dan hiasan keramik masih terawat apik setelah beberapa kali renovasi, menawarkan suasana yang tenang dan damai, serta menjadi spot foto ikonik dan tempat menyaksikan pertunjukan Wayang Potehi pada hari-hari tertentu.
Bukit Ongakan: Destinasi Hiking dengan Pemandangan Spektakuler

Bukit Ongakan, atau sering dijuluki Bukit Kura-Kura Ongakan, merupakan destinasi ekowisata alam terpopuler di Kediri yang berlokasi strategis di lereng timur laut Gunung Kelud, tepatnya di Desa Besowo, Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri.
Daya tarik utamanya adalah panorama khas perbukitan hijau yang meliuk-liuk, sehingga kerap disamakan dengan pemandangan di Swiss, serta menawarkan view spektakuler Gugusan Bukit Kura-Kura, Gunung Kelud dari kejauhan, bahkan Sungai Lahar Gunung Kawi.
Pengunjung, termasuk yang berasal dari luar kota, mengakui bahwa meskipun perjalanan menuju puncak memerlukan sedikit trekking menantang sejauh sekitar 100 meter, rasa lelah tersebut terbayar lunas dengan suasana yang asri, udara pegunungan yang sejuk, dan beragam spot foto Instagramable seperti gardu pandang, Rumah Hobbit, dan latar hutan pinus yang rindang.
Dikelola bersama oleh Perhutani dan Karang Taruna setempat, tempat wisata ini beroperasi setiap hari dengan harga tiket masuk yang sangat terjangkau, yaitu hanya Rp5.000 per orang, menjadikannya pilihan ideal untuk healing, piknik, hingga camping dengan latar belakang keindahan alam Kediri yang masih sangat alami.
Air Terjun Selomangleng: Alam Sejuk dan Sejarah Kediri
Kawasan Selomangleng di Kediri Raya merupakan destinasi wisata terpadu yang kaya akan nilai sejarah dan budaya. Secara historis, tempat ini dikenal sebagai Goa Selomangleng, yang menurut legenda merupakan petilasan Dewi Kilisuci (Putri Kerajaan Airlangga) yang memilih bertapa pada abad ke-11/13 Masehi demi keselamatan warga, menjadikannya situs spiritual yang penting hingga kini, terbukti dari adanya dupa dan sesajen di dalam goa buatan dari batuan andesit yang kokoh tersebut.
Berbeda dengan air terjun yang muncul sporadis di Gunung Klotok (seperti Air Terjun Tretes yang hanya deras saat hujan), daya tarik utama Selomangleng adalah goa-goa batu dengan tiga ruangan yang kaya relief kuno (seperti Relief Naga dan Relief Garuda) yang menampilkan kisah dan kepercayaan masa lalu.
Kawasan ini telah dikembangkan secara modern menjadi taman wisata yang lengkap, menawarkan harga tiket masuk yang sangat terjangkau (sekitar Rp4.000 – Rp5.000), dilengkapi dengan fasilitas rekreasi seperti kolam renang yang luas, panggung hiburan pertunjukan seni (terutama di hari Minggu), Museum Airlangga yang menyimpan 147 koleksi arkeologi Kerajaan Kediri, dan Makam Mbah Boncolono (tokoh legenda Robin Hood Kediri), menjadikannya spot ideal untuk edukasi sejarah sekaligus liburan family-friendly di lereng Gunung Klotok, dekat dari pusat Kota Kediri.
Wisata Batik Tradisional: Warisan Budaya Kediri

Wisata Batik Tradisional di Kediri Raya, yang didukung penuh oleh Pemerintah Kota dan Kabupaten, kini telah bertransformasi menjadi salah satu ikon wisata budaya dan ekonomi kreatif yang sangat menarik, bahkan mampu menembus pasar internasional hingga ke Turki.
Pusat-pusat ikonik seperti Galeri Batik Lochatara di Wates dan Kampung Keren Wisata Batik Dermo di Kota Kediri tidak hanya berfungsi sebagai sentra penjualan, tetapi juga menawarkan pengalaman edukatif bagi pengunjung yang ingin menyaksikan proses pembuatan batik tulis menggunakan canting dan malam secara tradisional.
Kekuatan Batik Kediri terletak pada motif-motif khas yang sarat makna sejarah dan potensi lokal, meliputi: Motif Lidah Api (menggambarkan sejarah Kerajaan Kediri), Motif Gumul (terinspirasi Monumen Simpang Lima Gumul/SLG), Motif Tondowongso, serta motif berbasis komoditas unggulan seperti Mangga Podang dan Nanas Podang, bahkan ada yang mengadopsi relief Candi Surowono dan Tegowangi, menjadikannya suvenir otentik dan berharga mulai dari Rp150.000.
Kediri menawarkan pengalaman wisata yang komprehensif. Kehadiran Monumen Simpang Lima Gumul melambangkan ambisi modern, sementara Candi Penataran dan artefak di Air Terjun Selomangleng menarasikan kejayaan masa lalu. Keragaman ini semakin diperkaya dengan harmoni wisata religi, terbukti dari adanya Gua Maria Puhsarang dan Kelenteng Tjoe Hwie Kiong.
Saat berkunjung ke Kediri, disarankan untuk membagi perjalanan antara wisata sejarah-budaya di pusat kota (SLG, Klenteng, Bengkel Batik) dan wisata alam-religi di pinggiran (Penataran, Puhsarang, Bukit Onga’an, Selomangleng). Cuaca yang cenderung sejuk di area pegunungan menjadikannya tempat yang nyaman untuk hiking dan menikmati kuliner khas daerah, seperti soto ayam dan pecel lele. Kediri adalah destinasi yang ideal bagi wisatawan yang mencari kota yang kaya akan sejarah, budaya, dan keindahan alam.
Ke-tujuh rekomendasi ini, mulai dari peninggalan kerajaan kuno, landmark modern, situs religi multikultural, hingga pemandangan alam perbukitan, membuktikan bahwa Kota Kediri mampu menawarkan liburan yang informatif, inspiratif, dan tak terlupakan.


