Raisa dan Hamish Daud: Rahasia Tersembunyi di Podcast

Posted on

Raisa dan Hamish Daud: Sifat Tersembunyi Penyanyi yang Terungkap di Podcast

Pasangan penyanyi Raisa Andriana dan Hamish Daud kini tengah menjadi perhatian publik setelah isu perceraian mereka beredar. Di tengah kabar tersebut, muncul kembali pengakuan dari Hamish tentang sifat asli Raisa yang jarang diketahui publik.

Dalam sebuah wawancara daring, Hamish sempat mengungkapkan bahwa saat sedang marah, Raisa tidak pernah meluapkan emosinya dengan teriakan atau tindakan agresif. Justru, ia lebih memilih untuk diam dan menjaga ketenangan. Hal ini menunjukkan kepribadian Raisa yang tenang dan stabil dalam menghadapi konflik.

“Tapi kalau si Yaya lagi marah, dia gak kayak teriak atau emosi. Dia cuman kayak kurang kelihatan aja sih,” ujar Hamish Daud dikutip dari postingan Instagram @storymellow.

Menurut Hamish, Raisa biasanya memilih untuk menyendiri sebagai cara melampiaskan amarahnya. Ia tidak pernah menunjukkan wajah masam atau melakukan hal-hal yang bisa menimbulkan konflik. “Dia kayak pengen sendiri, dia gak mau masak, atau dia kayak udah di kamar baca sendiri,” tambah Hamish.

Ia juga mengungkap bahwa dirinya dan Raisa tidak pernah saling berteriak atau bersikap agresif. Bahkan, jika merasa salah, Hamish langsung menyadari dan segera bertindak. “Aku tahu kalau aku salah aku tahu. Kalau aku salah, dan dia lagi marah, aku tahu,” ujarnya.

Ketika ditanya siapa yang akan minta maaf duluan saat ada yang berbuat salah, Raisa langsung menjawab, “Ya, tergantung siapa yang salah.” Pengakuan ini menunjukkan bahwa keduanya memiliki sikap yang sama dalam menghadapi masalah.

Hamish juga mengatakan bahwa hubungan antara dirinya dan Raisa masih baik meski sempat muncul isu perselingkuhan. “Maksudnya kita damai dan kita baik-baik saja hubungan kita. Dan ya udah kita move on,” ujarnya.

Namun, ia mengaku kesulitan untuk membantah fitnah yang sudah viral. Oleh karena itu, Hamish memohon kepada media untuk membantu meluruskan informasi yang tidak benar. “Sekarang saya cuma pengin jadi bapak yang baik, co-parenting yang baik, dan bisa kerja yang lancar ke depannya,” tandasnya.

Agar Anak Tidak Terabaikan

Setelah kedua orang tua bercerai, nasib anak secara lahir dan batin tidak boleh diabaikan. Terlebih jika anak belum cukup dewasa dan masih membutuhkan bimbingan orangtua. Perceraian memang bisa terjadi pada pasangan mana pun, tetapi jangan sampai sang buah hati menjadi korban dari keretakan rumah tangga.

Orangtua yang bercerai sebaiknya memikirkan dan memutuskan pola pengasuhan yang terbaik untuk anaknya. Tujuannya adalah agar sang buah hati tidak kehilangan figur dan kasih sayang orangtua selama masa tumbuh kembang.

Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan menerapkan parallel parenting. Singkatnya, metode ini meminimalkan interaksi antara orangtua yang sudah bercerai namun tetap bisa mengasuh anaknya. Parallel parenting memungkinkan anak diasuh secara bergantian oleh ayah atau ibunya, dengan jadwal yang disepakati.

“Parallel parenting memungkinkan orangtua untuk menghabiskan waktu bersama dan merawat anak-anaknya secara mandiri,” jelas Joleena Louis, Esq., seorang pengacara di New York City yang berfokus pada masalah hukum keluarga.

Parallel Parenting dan Co-Parenting

Tingkat komunikasi menjadi pembeda antara parallel parenting dan co-parenting yang diadopsi setelah perceraian secara damai. Co-parenting menekankan pada kerja sama dan berkomunikasi secara teratur agar orangtua bersama-sama memenuhi kebutuhan anak. Berbeda dengan parallel parenting, yang meminimalkan komunikasi antara orangtua.

“Co-parenting dan sebagian besar model lainnya bergantung pada komunikasi dan kolaborasi yang efektif. Parallel parenting meminimalkan itu,” jelas Louis.

Dalam parallel parenting, anak memiliki kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama kedua orangtua dengan meminimalkan kemungkinan konflik rumah tangga.

Kapan Memilih Parallel Parenting

Sifat hubungan antara orangtua menentukan model parallel parenting yang sesuai. Farzad merekomendasikan parallel parenting untuk orangtua yang memiliki konflik satu sama lain dan ada risiko salah satu atau kedua orangtua akan menunjukkan konflik ke anak.

Namun, jika konflik ini meluas atau ditujukan kepada anak-anak maka rencana ini dapat berubah. “Ini mengasumsikan satu orangtua tidak melakukan kekerasan fisik atau emosional terhadap anak,” kata Farzad.

Jika salah satu orangtua melakukan kekerasan fisik atau emosional terhadap anak, bahkan parallel parenting tidak sesuai. Orangtua yang tidak melakukan kekerasan harus memiliki hak asuh tunggal atau utama tergantung pada sifat dan tingkat pelecehan.

Cara Menyusun Parallel Parenting

Keputusan untuk menjalankan parallel parenting dapat dilakukan saat perceraian terjadi ketika di pengadilan. Metode pengasuhan ini disarankan sebagai bagian dari keputusan perceraian atau hak asuh anak jika orangtua tidak dapat melakukan pengasuhan bersama secara tradisional.

Rencana pengasuhan paralel juga dapat dilakukan di kemudian hari jika konflik antarorangtua semakin tinggi setelah perceraian atau hak asuh diselesaikan.

Dalam menyusun parallel parenting terdapat beberapa hal-hal yang harus diperhatikan, yakni:
* Waktu Pengasuhan Setiap Orangtua
* Di mana dan bagaimana pertukaran hak asuh ketika anak berpindah dari satu orangtua ke orangtua lainnya
* Jadwal liburan dan apa yang harus dilakukan jika tanggal mengasuh bertabrakan
* Bagaimana keputusan akan dibuat mengenai sekolah anak, kesehatan, dan lain-lain
* Aturan tentang pembatalan dan penjadwalan ulang waktu mengasuh anak
* Aturan tentang komunikasi.

“Semakin spesifik rencana parallel parenting berkaitan dengan kesehatan, keselamatan, dan keputusan terkait pendidikan dan waktu pengasuhan khusus setiap orangtua dengan anak, semakin sukses rencana parallel parenting,” jelas Farzad.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *