Profil Friderica Widyasari: Ganti Pejabat OJK Mundur, Mantan Aktris dengan Harta Rp 81 Miliar

Posted on

Penunjukan Friderica Widyasari Dewi dan Hasan Fawzi sebagai Pengganti Pejabat Dewan Komisioner OJK

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjuk Friderica Widyasari Dewi dan Hasan Fawzi sebagai pengganti pejabat Dewan Komisioner yang mundur. Penunjukan ini dilakukan pada Sabtu (31/1/2026), dengan tujuan untuk menjaga kesinambungan kepemimpinan dan memastikan stabilitas sektor keuangan pasca gejolak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat anjlok tajam.

Friderica Widyasari Dewi, yang akrab disapa Kiki Widyasari, ditetapkan sebagai Anggota Dewan Komisioner Pengganti Ketua dan Wakil Ketua OJK. Sementara itu, Hasan Fawzi diangkat sebagai Anggota Dewan Komisioner Pengganti Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon. Keputusan jabatan Pejabat Pengganti ini berlaku efektif sejak 31 Januari 2026.

“Penunjukan Anggota Dewan Komisioner Pengganti ini dilakukan sesuai dengan mekanisme yang diatur dalam Peraturan Dewan Komisioner OJK dan merupakan bagian dari mekanisme kelembagaan OJK untuk menjaga stabilitas organisasi dalam menjalankan fungsi dan tugasnya,” tulis OJK dalam siaran pers.

Profil Friderica Widyasari Dewi

Friderica Widyasari Dewi lahir pada 28 November 1975. Saat ini, ia menjabat sebagai anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (DK OJK) periode 2022 – 2027 sebagai Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen merangkap anggota. Friderica ditetapkan secara mufakat oleh Komisi XI DPR setelah lolos uji kelayakan dan kepatutan test calon anggota DK OJK periode 2022 – 2027.

Pendidikan Friderica mencakup gelar sarjana ekonomi (S1) dari Universitas Gadjah Mada tahun 2001. Ia kemudian melanjutkan S2 bidang keuangan (Master of Business Administration) di California State University, Fresno, Amerika Serikat pada 2004. Setelah lulus S2, Friderica pulang ke Indonesia dan menjadi dosen tamu di berbagai kampus.

Karier Friderica terus berkembang, termasuk menjadi Staf Khusus Menteri Keuangan Republik Indonesia pada 2008. Ia juga pernah bekerja di Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak 2006 hingga 2015, sebelum akhirnya menjabat sebagai Kepala Divisi Komunikasi Perusahaan. Pada 2007 – 2009, ia menjadi Sekretaris Perusahaan BEI, lalu Direktur Pengembangan BEI pada 2009. Pada 2015, Friderica diangkat sebagai Direksi Bursa Efek Indonesia (BEI) sebagai Direktur Pengembangan BEI, kemudian menjabat sebagai Direktur PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) pada 2015. Pada 2016 – 2019, ia menjadi Direktur Utama di KSEI, sebelum akhirnya menjadi Direktur Utama BRI Danareksa Sekuritas tahun 2020 – 2022.

Filmografi dan Harta Kekayaan

Sebelum berkarier di industri jasa keuangan, Friderica pernah menjadi aktris dan berperan dalam berbagai judul sinetron. Beberapa judul sinetron yang pernah diperaninya antara lain:

  • Janjiku
  • Selendang Sutera Biru
  • Bulan Bukan Perawan
  • Angling Dharma
  • Panji
  • Doaku Harapanku
  • Harta Kekayaan

Berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) yang disampaikan pada 21 Februari 2024, Friderica Widyasari Dewi memiliki harta kekayaan sebesar Rp 81,5 miliar. Sebagian besar harta kekayaannya berupa kepemilikan tanah dan bangunan. Ia tercatat memiliki 9 bidang tanah dan bangunan senilai Rp 79 miliar. Selain itu, ia juga memiliki satu unit mobil Mercedes-Benz dengan nilai Rp 700 juta.

Berikut daftar harta kekayaan Friderica Widyasari Dewi:

A. TANAH DAN BANGUNAN
– Tanah dan Bangunan Seluas 930 m2/346 m2 di KAB/KOTA KOTA JAKARTA SELATAN, HASIL SENDIRI: Rp 21.000.000.000

– Tanah dan Bangunan Seluas 132 m2/232 m2 di KAB/KOTA KOTA JAKARTA SELATAN, HASIL SENDIRI: Rp 6.500.000.000

– Tanah dan Bangunan Seluas 653 m2/489 m2 di KAB/KOTA KOTA JAKARTA SELATAN, HASIL SENDIRI: Rp 18.500.000.000

– Bangunan Seluas 230 m2 di KAB/KOTA KOTA JAKARTA SELATAN, HASIL SENDIRI: Rp 9.800.000.000

– Tanah dan Bangunan Seluas 605 m2/200 m2 di KAB/KOTA KOTA TANGERANG SELATAN, HASIL SENDIRI: Rp 10.500.000.000

– Tanah dan Bangunan Seluas 3500 m2/100 m2 di KAB/KOTA BOGOR, HASIL SENDIRI: Rp 1.750.000.000

– Tanah dan Bangunan Seluas 490 m2/250 m2 di KAB/KOTA KOTA YOGYAKARTA, WARISAN: Rp 5.500.000.000

– Tanah dan Bangunan Seluas 225 m2/100 m2 di KAB / KOTA BADUNG, HASIL SENDIRI: Rp 5.000.000.000

– Bangunan Seluas 98 m2 di KAB / KOTA BEKASI, HASIL SENDIRI: Rp 1.000.000.000

B. ALAT TRANSPORTASI DAN MESIN
– MOBIL, MERCEDES BENZ SEDAN Tahun 2018, HASIL SENDIRI: Rp 700.000.000

C. HARTA BERGERAK LAINNYA
– Rp 1.805.000.000

D. SURAT BERHARGA
– Rp 0

E. KAS DAN SETARA KAS
– Rp 1.870.141.325

F. HARTA LAINNYA
– Rp 0

Sub Total: Rp 83.925.141.325

UTANG: Rp 2.400.000.000

TOTAL HARTA KEKAYAAN: Rp 81.525.141.325

Gejolak IHSG dan Penghentian Perdagangan

Gejolak pasar bermula pada Rabu (28/1/2026) setelah MSCI (Morgan Stanley Capital International) menunda rebalancing indeks saham Indonesia, terkait sorotan atas konsentrasi kepemilikan saham dan potensi manipulasi harga. Rabu siang, IHSG turun 718,44 poin ke level 8.261,78 dan ditutup melemah 7,35 persen ke 8.320,56. Kamis (29/1/2026), indeks sempat jatuh 10,04 persen ke 7.485,35 sebelum ditutup lebih moderat di 8.232,20. Jumat (30/1/2026), IHSG mulai menguat tipis 1,18 persen ke 8.329,60 meski sempat melemah setelah pengumuman pengunduran diri pejabat BEI.

Pergantian pucuk pimpinan OJK di tengah gejolak IHSG menjadi sorotan publik. Dengan hadirnya Friderica dan Hasan, masyarakat menunggu arah baru kebijakan OJK dalam menjaga kepercayaan pasar sekaligus melindungi konsumen.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *