Profil Cak Nun, Ramalan 14 Tahun Lalu tentang Serangan Israel ke Iran Viral Lagi

Posted on

Cak Nun: Ulama, Budayawan, dan Pemikir yang Membawa Pesan Kritis

Cak Nun, sosok yang dikenal luas sebagai ulama, budayawan, dan pemikir kritis, kembali menjadi perbincangan publik setelah sebuah postingan lawasnya tahun 2012 viral. Pernyataannya mengenai kemungkinan serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran ternyata mendekati kejadian nyata yang terjadi belakangan ini. Ini membuat banyak orang memperhatikan kembali sosok Cak Nun dan kiprahnya dalam dunia sastra, teater, serta dialog budaya.

Profil Cak Nun



Cak Nun memiliki nama lengkap Muhammad Ainun Nadjib. Ia juga dikenal dengan panggilan Mbah Nun. Sebagai seorang tokoh multidisiplin, ia aktif dalam berbagai bidang seperti seni, sastra, filsafat, pendidikan, hingga isu-isu keislaman. Banyak yang menyebutnya sebagai pribadi “multi-dimensi” karena keberagaman aktivitasnya.

Lahir pada 27 Mei 1953, Cak Nun adalah anak keempat dari 15 bersaudara. Ia menikah dengan Neneng Suryaningsih pada 1978, namun berpisah pada 1985. Setelah itu, ia menikah dengan Novia Kolopaking pada 1997. Dari pernikahannya, ia dikaruniai lima orang anak.

Riwayat Pendidikan

Pendidikan dasar Cak Nun diselesaikan di Jombang pada 1965. Ia melanjutkan studinya ke SMP Muhammadiyah Yogyakarta, lalu sempat menimba ilmu di Pondok Modern Darussalam Gontor. Namun, ia tidak menyelesaikan pendidikannya di sana setelah memimpin aksi demonstrasi terhadap kebijakan pimpinan pondok.

Setelah meninggalkan Gontor, Cak Nun melanjutkan pendidikan di SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta hingga lulus pada 1971. Ia juga pernah menjadi mahasiswa Fakultas Ekonomi UGM, meski hanya sampai semester pertama.

Jejak Karier dan Aktivitas

Dalam perjalanan hidupnya, Cak Nun pernah menggelandang selama lima tahun (1970–1975), masa di mana ia banyak belajar sastra dari Umbu Landu Paranggi. Karier jurnalistiknya dimulai pada 1970 sebagai pengasuh rubrik sastra di Harian Masa Kini, Yogyakarta.

Selain menulis puisi dan kolom, ia juga menghasilkan sekitar 30 buku esai. Di bidang seni pertunjukan, ia memimpin Teater Dinasti Yogyakarta serta grup musik Kiai Kanjeng. Berbagai karya teater dan sastra lahir dari tangan Cak Nun, termasuk Geger Wong Ngoyak Macan, Patung Kekasih, dan Mas Dukun.

Ia juga terlibat dalam pementasan besar bersama Teater Salahudin, serta aktif mengikuti forum internasional seperti lokakarya teater di Filipina dan International Writing Program di Amerika Serikat.

Pada era 1990-an, Cak Nun menggagas forum Kenduri Cinta di Taman Ismail Marzuki, sebuah ruang dialog budaya dan kemanusiaan yang nonpartisan. Hingga kini, ia masih rutin berkeliling bersama Kiai Kanjeng dan komunitas Padhangmbulan.

Pandangan tentang Perbedaan dan Pluralisme

Isu pluralisme menjadi salah satu topik yang kerap ia angkat. Menurut Cak Nun, perbedaan bukanlah sesuatu yang harus dipertentangkan. Ia percaya bahwa setiap individu harus saling menghargai.

“Tidak bisa disamakan, yang beda biar berbeda. Kita harus menghargai itu semua,” katanya.

Pandangan-pandangannya kerap dianggap menyejukkan, terutama di tengah situasi sosial-politik yang memanas. Menjelang runtuhnya Orde Baru, Cak Nun bahkan sempat dimintai pandangan oleh Presiden Soeharto. Ia disebut turut mendorong Soeharto untuk bersedia mengakhiri masa jabatannya.

Ramalan Serangan AS-Israel ke Iran

Selain kiprahnya di bidang budaya dan sosial, Cak Nun juga kembali diperbincangkan karena pernyataannya pada 2012 yang dianggap sebagai prediksi atas konflik Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Pernyataan itu disampaikan saat ia menjadi pembicara di Masjid Raya Klaten pada 22 Februari 2012.

“Suatu hari nanti, Iran akan diserang oleh Israel dan Amerika,” kata Cak Nun. Ia juga menyampaikan pandangannya terkait posisi Arab Saudi dalam konflik tersebut, serta mempertanyakan sikap Indonesia.

“Nanti Arab Saudi bisa dipastikan akan membela Israel. Pertanyaannya untuk Indonesia, Indonesia bela mana? Bela Iran apa bela Israel?” ucapnya lagi.

Ia berharap Indonesia mampu bersikap bijak dan tidak mudah terprovokasi, baik oleh pengaruh luar maupun akibat minimnya pemahaman di dalam negeri.

“Mudah-mudahan Klaten harus bisa antisipasi terhadap provokasi dari luar maupun dari kebodohan dari dalam,” tuturnya.

Di tengah eskalasi konflik, Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan dipindahkan ke lokasi yang lebih aman. Sementara itu, Israel menyebut operasi militer tersebut sebagai langkah pencegahan terhadap ancaman yang mereka nilai berasal dari Iran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *